Sekolapedia – 17 Oktober 2026 | Kondisi cuaca ekstrem dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tengah memberikan tekanan hebat terhadap sektor penerbangan di Indonesia. Sejumlah bandara utama di wilayah Papua, Sulawesi Tengah, hingga Kalimantan Tengah melaporkan gangguan operasional yang signifikan, mulai dari penundaan jadwal hingga pembatalan penerbangan secara mendadak demi menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat.
Di wilayah Papua, Bandara Internasional Sentani di Kabupaten Jayapura mengalami dampak serius. Sebanyak 19 jadwal penerbangan, yang mencakup pesawat kargo maupun penumpang, terpaksa ditunda. Gangguan ini terutama menyasar rute menuju Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dan Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang. PGS General Manager Bandara Internasional Sentani, Joko Prasetiyono, menjelaskan bahwa kabut asap telah membatasi jarak pandang di bandara tujuan, sehingga kondisi tersebut belum memenuhi standar keselamatan penerbangan yang ketat.
Manajemen bandara saat ini tengah berkoordinasi intensif dengan BMKG, AirNav Indonesia, serta maskapai terkait untuk memantau perkembangan cuaca. Pihak otoritas bandara juga membuka peluang perpanjangan jam operasional (extended hours) bagi maskapai apabila kondisi di bandara tujuan membaik dan dinyatakan aman untuk pendaratan.
Kondisi serupa terjadi di Sulawesi Tengah, tepatnya di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri, Palu. Selain kabut asap, faktor angin kencang menjadi kendala utama bagi operasional pesawat di sana. Berikut adalah ringkasan gangguan penerbangan yang terjadi di Palu:
- Batik Air: Membatalkan penerbangan dengan nomor ID 6554 (Makassar-Palu) dan ID 6555 (Palu-Makassar) karena cuaca yang tidak kunjung membaik.
- Lion Air: Pesawat dengan nomor JT 780 sempat melakukan prosedur gagal mendarat (go-around) akibat embusan angin belakang (tailwind) yang mencapai kecepatan 20 knot, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke basis asal (Return to Base) di Makassar.
Kepala Seksi Teknik dan Operasi Bandara Mutiara Sis Al-Jufri, Winariyanto, menyebutkan bahwa jarak pandang di Palu saat ini bersifat fluktuatif, berkisar antara 3 hingga 5 kilometer, yang seringkali berada di bawah batas minimum pendaratan.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah, Bandara Iskandar Pangkalan Bun juga tengah berjuang menghadapi dampak karhutla yang berkepanjangan. Sejak 11 Oktober 2026, jarak pandang di bandara ini dilaporkan sangat terbatas dengan visibilitas maksimal hanya mencapai 500 meter. Kepala Kantor UPBU Kelas II Iskandar, Asri Alie, mengestimasikan sekitar 84 pergerakan penerbangan terdampak selama satu minggu terakhir akibat kondisi ini. Hal ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya mencemari udara, tetapi juga melumpuhkan akses transportasi udara yang vital bagi mobilitas masyarakat di Kalimantan Tengah.
Di tengah tantangan domestik tersebut, pemerintah Indonesia tetap berupaya memperkuat ketahanan industri strategis. Dalam pertemuan di Bogor, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Deputi Pertama Perdana Menteri Rusia, Denis Manturov. Pertemuan ini membahas perluasan kerja sama bilateral yang mencakup sektor perkapalan hingga industri penerbangan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas industri nasional melalui transfer teknologi dan investasi dari Rusia, sebagai tindak lanjut dari pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin sebelumnya.
Bagi para calon penumpang, sangat disarankan untuk selalu memantau informasi melalui kanal komunikasi resmi maskapai masing-masing. Koordinasi dengan petugas ground handling di terminal keberangkatan juga menjadi langkah penting untuk mendapatkan pembaruan jadwal guna menghindari kendala di lapangan akibat perubahan cuaca yang tidak menentu.
Secara keseluruhan, fenomena kabut asap dan cuaca ekstrem ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana karhutla yang berdampak luas pada infrastruktur transportasi nasional. Di sisi lain, penguatan kerja sama internasional di sektor industri dirasa perlu untuk memastikan keberlanjutan dan modernisasi teknologi penerbangan Indonesia di masa depan.
Post Comment