Aktor ternama Jesse Eisenberg baru-baru ini menghadiri sesi bincang-bincang yang penuh tawa dalam acara Screen Talk di BFI London Film Festival. Dalam kesempatan tersebut, ia mempromosikan film musikal komedi terbarunya, The Debut, sekaligus mengenang kembali pengalaman uniknya saat proses produksi film sebelumnya.
Salah satu topik yang paling mencuri perhatian penonton adalah ceritanya mengenai proses pembuatan film A Real Pain. Film ini menampilkan Eisenberg dan Kieran Culkin sebagai dua sepupu keturunan Yahudi-Amerika yang melakukan perjalanan sejarah Holocaust di Polandia. Meski hasilnya luar biasa, Eisenberg mengakui bahwa bekerja dengan Culkin adalah sebuah tantangan yang real bagi dirinya.
Ketidakpastian Kehadiran Kieran Culkin dalam A Real Pain
Eisenberg mengungkapkan bahwa pada awal produksi, ia sempat merasa tidak pasti apakah Kieran Culkin akan benar-benar muncul di lokasi syuting di Polandia. Ia menggambarkan Culkin sebagai tipe aktor yang sangat brilian namun sulit diprediksi kehadirannya.
“Kieran tidak memberikan kabar kepada siapa pun—dia adalah salah satu orang yang sesekali Anda dengar kabarnya. Mereka brilian, tetapi Anda tidak tahu apakah mereka akan benar-benar hadir,” ujar Eisenberg yang memancing tawa penonton. Ia bahkan bercanda bahwa Culkin bisa saja tiba-tiba memutuskan untuk lebih memilih makan kentang daripada datang ke lokasi syuting.
Saking sulitnya memastikan kehadiran Culkin, Emma Stone—yang juga berperan sebagai produser—bahkan harus menemani Culkin dalam penerbangan menuju Polandia. Eisenberg menceritakan bahwa meskipun Emma telah mengirim video saat Culkin melewati bea cukai, sang aktor tetap saja datang terlambat.
Menyesuaikan Gaya Sutradara dengan Karakter yang Liar
Kesulitan lain muncul ketika gaya penyutradaraan Eisenberg yang kaku berbenturan dengan energi Culkin yang bebas. Setelah berperan dalam serial Succession, Culkin merasa frustrasi ketika diminta untuk berdiri di titik-titik tertentu (marks) yang telah ditentukan oleh Eisenberg.
Eisenberg menyadari bahwa ia harus mengubah pendekatan penyutradaraannya agar bisa menangkap performa terbaik Culkin. Ia memutuskan untuk tidak lagi memaksa Culkin berdiri di posisi yang statis, melainkan mengikuti pergerakan aktor tersebut secara lebih fleksibel.
“Dia merasa frustrasi karena harus berdiri di sana… Begitu kami mulai mengikutinya—karena hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa tampil lepas—astaga, dia sangat brilian!” ungkap Eisenberg.
Keputusan untuk memberikan kebebasan ini terbukti sangat tepat. Karakter Culkin yang penuh energi dan emosional menjadi penggerak utama dalam cerita A Real Pain, dan performanya berhasil membawa Culkin meraih penghargaan Oscar untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik tahun lalu.
Kurangnya Persiapan dan Tantangan Rehearsal
Selain masalah teknis di lokasi syuting, Eisenberg juga menyoroti kebiasaan Culkin yang enggan melakukan latihan atau rehearsal. Ia menceritakan sebuah momen lucu saat mereka mencoba bertemu sebelum syuting dimulai.
Alih-alih melakukan diskusi mendalam tentang topik sensitif seperti Holocaust, Culkin justru mengajak Eisenberg bertemu di sebuah kedai makan bersama anak-anaknya. Eisenberg merasa sulit untuk memulai percakapan serius ketika Culkin lebih fokus menyuapi anak-anaknya dengan french toast.
Kolaborasi Jangka Panjang dengan Emma Stone
Dalam sesi tersebut, Eisenberg juga membahas hubungannya dengan Emma Stone. Keduanya telah mengenal satu sama lain sejak membintangi Zombieland sekitar 15 tahun yang lalu. Kini, melalui perusahaan produksi milik Stone, Fruit Tree, mereka telah bekerja sama dalam berbagai proyek seperti When You Finish Saving the World, A Real Pain, dan The Debut.
Eisenberg merasa sangat beruntung memiliki rekan kerja seperti Stone yang kini telah menjadi sosok yang sangat berpengaruh di industri Hollywood. Ia menyebut Stone sebagai seorang “pecinta komedi” di balik citranya sebagai aktris papan atas yang glamor.
Masa Depan Karier Jesse Eisenberg
Ketika ditanya mengenai proyek selanjutnya, Eisenberg memberikan jawaban yang sedikit mengejutkan. Ia mengungkapkan bahwa ia telah menulis enam episode untuk sebuah serial televisi. Meskipun ia mengaku tidak terlalu bersemangat karena harus “duduk diam” dalam prosesnya, hal ini menandakan ekspansi kariernya ke media televisi.
Eisenberg juga sempat menyentuh sisi personalnya sebagai seorang Yahudi Ashkenazi, menjelaskan bagaimana ia merasa memiliki perspektif unik sebagai orang dalam sekaligus orang luar dalam budaya tersebut. Ia menutup sesi dengan penuh kerendahan hati, berharap karyanya tetap dapat dinikmati oleh publik luas.
Sumber referensi: www.hollywoodreporter.com