Kejuaraan Dunia Junior BWF: Indonesia Raih Dua Gelar di Kairo

Kejuaraan Dunia Junior BWF 2026 menjadi panggung kebangkitan atlet muda Indonesia. Setelah gagal merebut gelar pada kategori beregu campuran, tim Merah Putih menutup persaingan di Kairo dengan dua titel: ganda campuran melalui Muhammad Luthfi Habibi/Dian Ramadhani Mukti dan tunggal putra lewat Radithya Bayu Wardhana.

Kedua kemenangan itu terjadi di Cairo Stadium Indoor Hall Complex, Mesir, pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Indonesia juga membawa pulang dua medali perunggu, masing-masing dari beregu campuran dan pasangan ganda campuran Raihan Daffa Edsel Pramono/Atresia Naufa Candani. Hasil tersebut membuat tim junior Indonesia mengakhiri kejuaraan dengan dua emas dan dua perunggu.

Dua gelar Kejuaraan Dunia Junior BWF untuk Indonesia

Keberhasilan meraih dua gelar terasa penting setelah Indonesia pulang tanpa titel dari ajang yang sama setahun sebelumnya. Jumlah dua gelar ini juga menyamai pencapaian Indonesia pada edisi 2019, 2017, dan 1992. Salah satu kemenangan datang dari partai final tunggal putra yang mempertemukan dua pemain Indonesia, Radithya dan Fardhan Rainanda Joe.

Radithya mengalahkan Fardhan dalam tiga gim dengan skor 15-8, 11-15, 15-8. Kemenangan itu sekaligus membawanya menjadi penerus Alwi Farhan, juara dunia junior tunggal putra pada 2023. Bagi Radithya, titel di Kairo menjadi pencapaian besar dalam penampilan perdananya di kejuaraan BWF tertinggi untuk pemain berusia di bawah 19 tahun.

Hasil final tersebut juga membalik catatan pertemuan mereka di kelompok usia lebih muda. Fardhan sebelumnya menang atas Radithya pada dua pertemuan di ajang U-15 pada 2022 dan U-17 pada 2024. Kali ini, Radithya mampu memenangi laga penentuan dan meraih gelar juara dunia junior.

Luthfi dan Dian menang lewat kebangkitan dramatis

Gelar ganda campuran menjadi milik Luthfi/Dian setelah mereka menaklukkan wakil China, Yi Lang Feng/Meng Han Li. Pertandingan final berjalan ketat dan berakhir dengan skor 17-15, 8-15, 16-14. Pasangan Indonesia itu harus mengatasi tekanan besar sebelum memastikan kemenangan pada gim ketiga.

Luthfi/Dian sempat tertinggal 11-14 dan berada dalam posisi sulit ketika lawan memperoleh tiga kesempatan match point. Mereka tidak menyerah. Lima poin beruntun berhasil direbut untuk membalikkan keadaan, mengunci gim penentuan, sekaligus memastikan satu gelar lagi bagi Indonesia.

Dian mengungkapkan bahwa ia sempat sangat tegang saat tertinggal di poin-poin penting. Dukungan pelatih dan Luthfi membantunya tetap mencoba hingga pasangan Indonesia itu dapat menyelesaikan pertandingan.

Titel tersebut menempatkan Luthfi/Dian sebagai pasangan kelima Indonesia yang menjadi juara dunia junior ganda campuran. Sebelumnya, gelar sektor ini diraih Alfian Eko Prasetya/Gloria Emanuelle Widjaja pada 2011, disusul Edi Subaktiar/Melati Daeva Oktavianti pada 2012. Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari menjadi juara pada 2017, kemudian Leo Rolly Carnando/Indah Cahya Sari Jamil meraihnya pada 2018.

Rekam jejak para juara terdahulu menjadi latar bagi capaian pasangan baru ini. Meski beberapa pasangan Indonesia pernah meraih gelar junior, tidak satu pun dari mereka kemudian bersinar saat memasuki persaingan pada tingkat yang lebih tinggi. Karena itu, keberhasilan Luthfi/Dian menjadi gelar penting sekaligus awal dari tantangan berikutnya dalam perjalanan karier mereka.

Perjalanan Radithya dan Fardhan menuju final

Radithya datang ke Kairo dengan bekal gelar turnamen junior Pembangunan Jaya Raya Grand Prix yang diraihnya pada pertengahan Juli. Sementara itu, Fardhan mengikuti kejuaraan setelah menjadi finalis Kejuaraan Asia Junior. Kedua pemain Indonesia tersebut sama-sama mampu mencapai partai puncak, sehingga final tunggal putra dipastikan menghasilkan gelar untuk Indonesia.

Bagi Fardhan, pencapaian sebagai finalis menandai kemajuan dibandingkan penampilannya pada Kejuaraan Dunia Junior 2025 di Guwahati, India. Pada edisi sebelumnya, ia terhenti di babak ketiga. Walau kali ini kalah di final, langkahnya ke perebutan gelar menunjukkan hasil yang lebih baik dalam kompetisi dunia junior.

Kejuaraan di Kairo juga memberikan pengalaman penting bagi Radithya, yang untuk pertama kalinya tampil pada ajang BWF level tertinggi bagi pemain di bawah usia 19 tahun. Ia berhasil memanfaatkan kesempatan itu dengan menjadi juara. Sementara bagi Fardhan, final sesama pemain Indonesia menjadi pengalaman lain dalam persaingan internasional yang mempertemukan dua atlet dengan riwayat pertemuan sejak kelompok usia muda.

Perolehan medali dan arti hasil di Kairo

Selain dua medali emas dari nomor perorangan, Indonesia mendapatkan perunggu dari beregu campuran. Tim terhenti di semifinal, sehingga tidak dapat melanjutkan langkah ke partai perebutan gelar. Perunggu lainnya diraih Raihan Daffa Edsel Pramono/Atresia Naufa Candani di ganda campuran.

Dengan demikian, capaian Indonesia di Kejuaraan Dunia Junior BWF 2026 mencakup hasil dari kategori beregu dan perorangan. Dua gelar juara menunjukkan kemampuan para pemain muda untuk menyelesaikan pertandingan bertekanan, sementara medali perunggu menambah hasil positif bagi kontingen. Kemenangan Luthfi/Dian dan Radithya menjadi sorotan utama setelah Indonesia gagal mendapatkan titel pada edisi sebelumnya.

Kesuksesan tersebut menjadi tonggak tersendiri bagi para pemain yang meraihnya. Luthfi dan Dian menjuarai final dengan membalikkan keadaan ketika berada di ambang kekalahan, sedangkan Radithya mengatasi rival senegaranya yang pernah mengalahkannya di kelompok usia junior. Kedua cerita itu melengkapi perjalanan Indonesia di Kairo dan menegaskan bahwa gelar dunia junior diraih melalui ketahanan serta kemampuan tampil pada momen penentuan.

Fajar/Fikri melaju ke final Denmark Terbuka

Pada hari yang sama, kabar lain datang dari Denmark Terbuka di Odense. Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang tampil di semifinal dan berhasil mengamankan tiket final. Mereka mengalahkan pasangan China Liang Wei Keng/Wang Chang dengan skor 21-16, 16-21, 21-16.

Fajar/Fikri kembali mencapai final turnamen tersebut setelah melakukannya pada 2025. Pada kesempatan sebelumnya, mereka kalah dari pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Kali ini, lawan yang menanti adalah Aaron Chia/Soh Wooi Yik dari Malaysia, yang melaju ke final setelah menyingkirkan pasangan nomor satu dunia Kim Won-ho/Seo Seung-jae dari Korea Selatan dengan skor 21-14, 21-18.

Kemenangan atas Liang/Wang sekaligus menjadi balasan setelah Fajar/Fikri menelan dua kekalahan beruntun dari pasangan China itu di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Kekalahan pertama terjadi ketika Indonesia menghadapi China pada final beregu putra. Indonesia tetap menjadi juara setelah menang 3-2, tetapi Fajar/Fikri kalah dalam pertandingan mereka. Setelah itu, Liang/Wang kembali menghentikan pasangan Indonesia di semifinal nomor perseorangan.

Fikri menyatakan gembira karena kembali mencapai final di Denmark, tetapi menegaskan bahwa perjuangan belum selesai. Ia dan Fajar masih harus menghadapi pasangan Malaysia untuk memperebutkan gelar. Hasil mereka menjadi kabar tersendiri dari turnamen senior, sementara perhatian utama di Kairo tertuju pada dua gelar baru Indonesia di level junior.

Sumber referensi: www.kompas.id

Post Comment