Sekolapedia – 15 Oktober 2026 | Krisis lingkungan yang melanda wilayah Indonesia semakin mengkhawatirkan seiring dengan meluasnya dampak karhutla kalimantan yang kini telah mencapai skala masif. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan, tercatat sebanyak 4.926 kejadian kebakaran hutan dan lahan telah terjadi sepanjang periode 1 Januari hingga 14 Oktober 2026. Luas lahan yang hangus terbakar di wilayah tersebut saja telah menembus angka 27.202,97 hektare.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya puluhan ribu titik panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan satelit. Fenomena karhutla kalimantan ini tidak hanya merusak ekosistem lokal, tetapi juga menimbulkan ketegangan diplomatik dengan negara-negara tetangga akibat polusi asap yang melintasi batas negara.
Data Sebaran Kebakaran di Kalimantan Selatan
Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, mengungkapkan bahwa pemantauan dilakukan secara intensif di 13 kabupaten/kota. Kabupaten Banjar menjadi wilayah yang paling terdampak dengan catatan 1.116 kejadian dan luas lahan mencapai 7.054,12 hektare. Berikut adalah rincian beberapa wilayah terdampak di Kalimantan Selatan:
| Wilayah | Jumlah Kejadian | Luas Lahan Terdampak (Hektare) |
|---|---|---|
| Kabupaten Banjar | 1.116 | 7.054,12 |
| Kota Banjarbaru | 919 | 3.343,03 |
| Kabupaten Tanah Laut | 731 | 3.551,98 |
| Kabupaten Hulu Sungai Selatan | 556 | 4.209,05 |
| Kabupaten Barito Kuala | 467 | 3.276,82 |
| Kabupaten Tapin | 356 | 2.700,78 |
Selain Kalimantan Selatan, sebaran titik panas juga menunjukkan konsentrasi tinggi di Kalimantan Tengah. Berdasarkan pantauan SiPongi Kementerian Kehutanan, Kabupaten Kapuas mencatat 53 titik panas, diikuti oleh Kabupaten Pulang Pisau dan Kotawaringin Timur yang masing-masing memiliki 45 titik panas.
Penyebab Sulitnya Pemadaman: El Niño dan Karakteristik Lahan Gambut
Pakar Bidang Kebakaran Hutan dan Lahan dari Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, menjelaskan bahwa sulitnya mengendalikan karhutla kalimantan disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan teknis. Fenomena El Niño menyebabkan curah hujan berada di titik minimum, sehingga kondisi lahan menjadi sangat kering dan rentan terbakar.
Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama dalam operasi pemadaman. Berbeda dengan lahan non-gambut yang apinya hanya menjalar di permukaan, api pada lahan gambut dapat membakar hingga ke lapisan bawah tanah. Hal ini menyebabkan:
- Proses identifikasi titik api menjadi lebih kompleks.
- Penyiraman air biasa seringkali hanya menjangkau lapisan atas, sementara bara api di bawah tanah tetap menyala.
- Keterbatasan akses armada pemadam ke lokasi yang sulit dijangkau dan jauh dari sumber air.
Dampak Regional dan Respon Internasional
Asap tebal yang dihasilkan dari karhutla kalimantan telah melintasi perbatasan dan memicu keresahan di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyatakan kekhawatirannya terhadap penurunan kualitas kesehatan rakyatnya akibat kabut asap tersebut. Ia mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan segera dan efektif, sembari menyatakan kesiapan Malaysia untuk bekerja sama dalam penanggulangan.
Sentimen negatif juga muncul dari tokoh politik Malaysia, Andrew Chen Kah Eng, yang mengkritik pernyataan pejabat Indonesia yang dianggap meremehkan dampak polusi asap bagi negara tetangga. Ia menegaskan bahwa menghirup udara bersih adalah hak asasi manusia yang tidak boleh dikompromikan.
Di sisi lain, bantuan internasional mulai bergeser. Kementerian Pertahanan Jepang secara resmi mengakhiri misi pemadaman menggunakan pasukan Bela Diri Darat CH-47 sejak 29 September 2026. Keputusan ini diambil setelah pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan untuk melakukan upaya penanganan secara mandiri. Meskipun demikian, tantangan besar masih menanti di lapangan untuk memulihkan ekosistem yang rusak dan menjaga kualitas udara agar tetap sehat bagi seluruh makhluk hidup.
Post Comment