×

Insiden Siber Berbasis AI Menguji Kelincahan Organisasi di Indonesia

Insiden siber kini menjadi tantangan besar bagi organisasi di Indonesia. Dalam 12 bulan terakhir, sebanyak 95 persen organisasi di Tanah Air dilaporkan mengalami insiden yang berdampak signifikan hingga mengganggu operasional bisnis.

Lebih dari separuh insiden tersebut melibatkan serangan yang diperkuat teknologi kecerdasan buatan atau AI. Temuan ini tercantum dalam Relentless Defense Report, laporan yang dirilis oleh perusahaan teknologi Cisco.

Insiden siber semakin dipengaruhi perkembangan AI

Laporan Cisco menunjukkan bahwa AI ikut memperbesar risiko dalam keamanan siber. Teknologi tersebut membuat ancaman berkembang dengan lebih cepat, sementara sejumlah organisasi masih mengalami kesulitan dalam menyatukan kerja tim keamanan dan merespons serangan secara tepat waktu.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pertahanan terhadap insiden siber tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat atau sistem yang digunakan. Kemampuan organisasi dalam mengelola proses internal juga memiliki peran penting ketika ancaman muncul.

Menurut Cisco, berbagai hambatan operasional masih memperlambat respons. Proses persetujuan yang berjalan lambat, data yang tersebar di banyak sistem, serta koordinasi lintas tim yang belum optimal dapat membuat organisasi membutuhkan waktu lebih panjang untuk mengambil keputusan.

Kecepatan respons menjadi faktor penting

Managing Director Cisco Indonesia, Cin Cin Go, menyampaikan bahwa kecepatan pertahanan siber semakin bergantung pada kelincahan operasional organisasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan resmi yang diterima KompasTekno pada Minggu (18/10/2026).

“AI secara fundamental telah meningkatkan eskalasi risiko dalam pertahanan siber. Di era pasca-Mythos, kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional, bukan hanya teknologi,” kata Cin Cin Go.

Menurut Cin Cin, organisasi perlu menempatkan keamanan sebagai bagian dari operasional bisnis. Pemisahan yang terlalu kuat antara satu tim dan tim lainnya dapat memperlambat aliran informasi serta menghambat pengambilan keputusan saat insiden berlangsung.

Karena itu, integrasi antarbagian menjadi salah satu kebutuhan utama. Ketika tim dapat bekerja dengan informasi dan perangkat yang sama, organisasi diharapkan lebih siap memahami situasi serta menentukan tindakan yang diperlukan.

Koordinasi masih menjadi tantangan dalam menghadapi insiden

Dalam laporan yang sama, Cisco mencatat skor rata-rata pertahanan siber organisasi di Indonesia berada di angka 72 dari 100. Sebanyak 29 persen organisasi di Indonesia masuk ke dalam kelompok berkinerja terbaik yang disebut Relentless Defenders.

Proporsi tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Pada tingkat global, hanya 8 persen organisasi yang masuk dalam kelompok Relentless Defenders.

Meski menunjukkan capaian yang relatif lebih baik, organisasi di Indonesia masih menghadapi persoalan koordinasi. Cisco mencatat hanya 63 persen organisasi yang menyatakan bahwa tim keamanan, jaringan, dan teknologi informasi atau IT bekerja sebagai satu kesatuan.

Kerja bersama tersebut mencakup penggunaan visibilitas dan perangkat yang sama. Angka 63 persen menunjukkan bahwa masih terdapat organisasi yang belum memiliki keselarasan penuh di antara berbagai fungsi penting dalam pertahanan siber.

Data yang tersebar memperlambat penanganan insiden

Persoalan lain terlihat dari waktu yang digunakan untuk mengelola data. Sebanyak 38 persen organisasi menyatakan bahwa mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan dan menghubungkan data dari berbagai sistem dibandingkan menangani ancaman siber secara langsung.

Kondisi tersebut dapat mengurangi waktu yang tersedia untuk memahami dan merespons insiden. Data yang seharusnya membantu proses pengambilan keputusan justru memerlukan pekerjaan tambahan sebelum dapat digunakan secara efektif.

Selain masalah pengumpulan data, 46 persen organisasi mengaku kehilangan informasi penting karena data tersebut berada di luar jangkauan mereka. Keterbatasan akses ini menambah tantangan ketika organisasi perlu memperoleh gambaran menyeluruh mengenai ancaman yang sedang dihadapi.

Data yang tersebar di banyak sistem juga dapat memperbesar kesenjangan informasi antarbagian. Jika setiap tim memiliki pandangan yang berbeda terhadap situasi, proses penentuan langkah pertahanan berpotensi menjadi lebih lambat.

Komunikasi dengan jajaran eksekutif perlu diperkuat

Hambatan tidak hanya terjadi di antara tim teknis. Cisco juga mencatat adanya kendala komunikasi antara tim keamanan dan jajaran eksekutif organisasi.

Komunikasi yang belum berjalan optimal dapat memengaruhi kecepatan keputusan ketika insiden siber terjadi. Tim keamanan perlu menyampaikan kondisi ancaman, sedangkan jajaran eksekutif perlu memahami situasi tersebut dalam konteks operasional bisnis.

Temuan ini menegaskan bahwa keamanan siber bukan sekadar persoalan teknis. Kesiapan organisasi juga dipengaruhi oleh kemampuan berbagai pihak untuk berbagi informasi, menyelaraskan tujuan, dan mengambil keputusan tanpa terhambat sekat internal.

AI menuntut kesiapan operasional yang lebih kuat

Peningkatan penggunaan AI dalam serangan siber membuat organisasi perlu memperhatikan kembali cara mereka mengelola pertahanan. Ancaman yang berkembang lebih cepat membutuhkan respons yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga didukung proses kerja yang lincah.

Secara umum, laporan Cisco menggambarkan dua sisi kondisi organisasi di Indonesia. Di satu sisi, skor rata-rata pertahanan siber mencapai 72 dan proporsi Relentless Defenders lebih tinggi daripada rata-rata global. Di sisi lain, tingginya angka organisasi yang mengalami insiden signifikan menunjukkan bahwa risiko masih berdampak luas.

Penguatan koordinasi, penyatuan visibilitas, serta pengurangan hambatan dalam pengelolaan data menjadi bagian penting dari tantangan tersebut. Organisasi juga perlu menghubungkan fungsi keamanan dengan kegiatan bisnis agar respons terhadap ancaman dapat berlangsung lebih cepat.

Dengan demikian, menghadapi insiden siber berbasis AI memerlukan pendekatan yang menyatukan teknologi dan operasional. Kecepatan pertahanan tidak hanya ditentukan oleh alat yang tersedia, tetapi juga oleh kesiapan organisasi dalam bekerja sebagai satu kesatuan.

Sumber referensi: tekno.kompas.com

Post Comment