Sekolapedia – 23 Oktober 2026 | Lonjakan harga komoditas pangan utama selalu memicu riak kecemasan di ruang dapur masyarakat, jauh sebelum angka tersebut resmi diberitakan di media. Di berbagai pasar tradisional dan warung kelontong, harga beras kemasan 5 kilogram kini menyentuh angka Rp74.500 dengan ketersediaan yang kian sulit dicari. Pemerintah pusat terpaksa mengambil langkah darurat dengan menambah pasokan beras SPHP medium sebanyak 1 juta ton untuk periode Oktober hingga Desember 2026 guna meredam gejolak pasar akibat menipisnya sisa kuota sebelumnya.
Kebijakan intervensi pasar ini dilakukan secara ketat untuk menghindari distorsi. Pemerintah menetapkan harga jual beras SPHP berkisar antara Rp12.000 hingga Rp12.500 per kilogram melalui kanal resmi Perum Bulog, dengan pembatasan maksimal pembelian sebanyak lima kemasan 5 kilogram atau dua kemasan 2 kilogram per konsumen. Di sisi lain, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya pekerja informal berupah harian, menghadapi tantangan berat karena keterbatasan modal harian yang memaksa mereka membeli beras secara eceran liter demi liter dengan harga akumulatif yang lebih mahal.
Di tengah tekanan harga di tingkat nasional, kabar baik datang dari berbagai daerah sentra produksi. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melaporkan bahwa neraca pangan daerahnya pada Oktober 2026 mencatat surplus 27.633 ton. Produksi beras di wilayah tersebut mencapai sekitar 144.066 ton, melampaui kebutuhan masyarakat yang berada di angka 116.433 ton. Pemprov Sumut terus menggenjot produktivitas melalui Program Strategis Daerah dengan membangun kawasan pertanian terpadu untuk memperkuat ketahanan pangan lokal.
Berikut adalah rincian data neraca pangan utama di Sumatera Utara pada Oktober 2026:
| Komoditas | Produksi | Kebutuhan | Status |
|---|---|---|---|
| Beras | 144.066 ton | 116.433 ton | Surplus |
| Cabai Merah | 14.213 ton | 9.855 ton | Surplus |
| Cabai Rawit | 7.594 ton | 3.712 ton | Surplus |
| Bawang Merah Kering | 3.306 ton | 5.353 ton | Defisit |
Selain upaya stabilisasi melalui operasi pasar dan penguatan produksi daerah, masyarakat juga mulai mencari alternatif kreatif dalam pemanfaatan bahan pangan di rumah. Air cucian atau rebusan beras yang sering kali dibuang ternyata mengandung unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Berdasarkan berbagai panduan berkebun, cairan sisa cucian beras terbukti dapat menyuburkan tanaman sayur seperti tomat dan selada, serta tanaman hias jika diaplikasikan secara berkala setiap dua minggu sekali.
Pada akhirnya, ketahanan pangan sejati tidak sekadar diukur dari penuhnya kapasitas logistik di gudang-gudang penyimpanan negara, melainkan dari sejauh mana stabilitas harga mampu memberikan rasa aman bagi psikologis setiap keluarga di atas meja makan. Ketersediaan yang merata dan keterjangkauan harga menjadi kunci utama agar kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi tanpa hambatan.
