Tragedi Gletser Langtang Lirung: Korban Banjir Nepal-Tiongkok Capai 1.280 Orang, Upaya Penyelamatan Terus Berlanjut

Tragedi Gletser Langtang Lirung: Korban Banjir Nepal-Tiongkok Capai 1.280 Orang, Upaya Penyelamatan Terus Berlanjut

Sekolapedia – 09 September 2026 | Bencana alam dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tiongkok telah mencapai titik kritis. Laporan terbaru menunjukkan bahwa Korban banjir Nepal-Tiongkok capai 1.280 orang, upaya penyelamatan terus berlanjut di tengah kondisi medan yang sangat ekstrem. Peristiwa yang dipicu oleh runtuhnya gletser di dekat puncak Langtang Lirung pada 26 Agustus 2026 ini telah menyisakan duka mendalam bagi ribuan keluarga di kedua negara.

Bencana ini bermula ketika gletser pada ketinggian sekitar 5.200 meter pecah, memicu longsoran es, batu, dan lumpur masif yang menyerupai gelombang tsunami. Aliran puing tersebut menyapu lembah-lembah di sepanjang perbatasan Himalaya, menghancurkan permukiman, serta merusak infrastruktur vital, termasuk proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Data Korban dan Kondisi Terkini

Hingga saat ini, otoritas terkait terus memperbarui data mengenai jumlah korban jiwa dan orang hilang. Berikut adalah ringkasan data korban berdasarkan laporan dari kedua negara:

Wilayah Korban Tewas Korban Hilang Keterangan
Nepal 1.259 5.083 Termasuk 583 warga negara asing
Tiongkok (Tibet) 21 541 Termasuk 261 warga negara asing
Total 1.280 5.624 Operasi pencarian masih berlangsung

Meskipun angka kematian terus meningkat, Korban banjir Nepal-Tiongkok capai 1.280 orang, upaya penyelamatan terus berlanjut dengan harapan masih ada korban yang selamat. Keberhasilan kecil sempat dirasakan pada Sabtu, 5 September 2026, ketika tim gabungan militer Nepal dan tenaga ahli asing berhasil mengevakuasi dua orang penyintas setelah sepuluh hari terperangkap.

Salah satu korban yang berhasil diselamatkan adalah Luhaitao, seorang warga negara China yang ditemukan di kedalaman 225 meter di dalam terowongan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Upper Trishuli-1 di Distrik Rasuwa. Korban lainnya adalah Chandrika Shrestha, seorang perempuan berusia 64 tahun dari Distrik Nuwakot yang ditemukan tertimbun di dalam rumahnya. Kedua korban kini sedang mendapatkan perawatan medis intensif.

Tantangan Operasi Penyelamatan dan Rehabilitasi

Lebih dari 21.400 personel keamanan telah dikerahkan untuk membantu proses evakuasi. Namun, tim penyelamat menghadapi kendala geografis yang sangat berat. Penggunaan helikopter, buldoser untuk membersihkan lumpur, serta teknik tali luncur menjadi andalan untuk menjangkau desa-desa terpencil yang terisolasi.

Fokus utama tim penyelamat saat ini adalah menjangkau ratusan pekerja yang diyakini masih terjebak di fasilitas PLTA Distrik Rasuwa. Tim penyelamat optimis karena beberapa bagian fasilitas pembangkit listrik diperkirakan tidak sepenuhnya terendam banjir. Di tengah upaya ini, Korban banjir Nepal-Tiongkok capai 1.280 orang, upaya penyelamatan terus berlanjut bersamaan dengan persiapan langkah rehabilitasi jangka panjang.

UNDP memperkirakan dampak kerusakan lingkungan sangat masif, dengan estimasi berikut:

  • Volume puing dan lumpur mencapai 2,2 juta ton.
  • Sekitar 20.000 rumah memerlukan pembangunan kembali.
  • 7.500 rumah dilaporkan hancur total akibat terjangan aliran lumpur.

Di sisi kemanusiaan, keputusasaan mulai menyelimuti keluarga korban. Di wilayah Rasuwa, banyak keluarga yang telah menggelar upacara pemakaman simbolis menggunakan patung dari rumput suci (kaas-kush) untuk membebaskan jiwa kerabat mereka yang hilang. Hal ini dilakukan karena minimnya kepastian mengenai keberadaan jenazah di tengah tumpukan material yang sangat tebal.

Pemerintah Nepal dan Tiongkok terus berkoordinasi dalam penanganan bencana ini. Di tengah situasi yang mencekam, pesan utama yang disampaikan oleh otoritas adalah bahwa Korban banjir Nepal-Tiongkok capai 1.280 orang, upaya penyelamatan terus berlanjut hingga setiap nyawa yang memungkinkan dapat ditemukan. Fokus saat ini tidak hanya pada pencarian, tetapi juga pada pemulihan infrastruktur dan bantuan medis bagi wilayah yang terdampak parah seperti Chitwan dan Rasuwa.

Post Comment