Sekolapedia – 19 September 2026 | Presiden RI Prabowo Subianto memberikan pernyataan berapi-api dalam perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (18/9/2026). Dalam pidatonya, Prabowo kutip ayat Al-Quran surat Al-Baqarah saat singgung sering difitnah, Zulhas beri jempol [titlebase] sebagai bentuk respons terhadap serangan verbal dari sejumlah pihak yang ia nilai menyebarkan berita bohong kepada publik.
Dalam suasana yang khidmat namun penuh semangat, Prabowo menyinggung mengenai fenomena para pakar yang justru menggunakan keahlian mereka untuk melontarkan tuduhan tidak berdasar. Ia mengaitkan hal ini dengan nilai-nilai agamis yang menjadi basis kekuatan PAN. Dengan nada bicara yang tegas, Prabowo menyampaikan bahwa terdapat oknum intelektual yang justru merugikan bangsa melalui narasi yang menyesatkan.
Kutipan Surah Al-Baqarah dan Sindiran Pedas bagi ‘Pakar’
Prabowo secara spesifik merujuk pada Al-Qur’an untuk memperkuat argumennya mengenai dampak buruk fitnah. Ia menyebutkan bahwa Prabowo kutip ayat Al-Quran surat Al-Baqarah saat singgung sering difitnah, Zulhas beri jempol [titlebase] saat ia mengutip bagian dari Surah Al-Baqarah ayat 191 yang berbunyi, “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”
Tak hanya mengutip ayat suci, Presiden juga melontarkan sindiran tajam yang cukup mengejutkan hadirin. Ia menyentil para ahli yang dianggap terlalu merasa pintar namun justru menyebarkan informasi yang tidak jujur. “Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” ujar Prabowo saat berbicara mengenai para pakar yang menurutnya tidak memiliki kejujuran intelektual dalam menyampaikan pandangan kepada publik.
| Aspek Pembahasan | Pernyataan Presiden Prabowo |
|---|---|
| Rujukan Agama | Surah Al-Baqarah ayat 191 |
| Target Kritik | Pakar yang melontarkan fitnah |
| Pesan Utama | Pentingnya kejujuran intelektual |
| Sikap Pribadi | Mencatat dan siap memaafkan |
Melalui momentum ini, terlihat jelas bahwa Prabowo kutip ayat Al-Quran surat Al-Baqarah saat singgung sering difitnah, Zulhas beri jempol [titlebase] menjadi poin krusial dalam pidatonya untuk mengingatkan pentingnya integritas bagi kaum terpelajar. Ia menekankan bahwa keahlian seseorang seharusnya digunakan untuk membangun bangsa, bukan untuk kepentingan yang memecah belah melalui fitnah.
Tafsir Ayat dan Konteks Keagamaan
Meskipun Prabowo menggunakan frasa “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” dalam konteks tuduhan palsu atau pencemaran nama baik, secara teologis, para ulama memberikan catatan penting mengenai Surah Al-Baqarah ayat 191. Ayat tersebut sebenarnya berada dalam rangkaian pembahasan mengenai konflik antara kaum Muslim dan kaum musyrik Quraisy, di mana kata ‘fitnah’ dalam konteks aslinya merujuk pada kemusyrikan, penindasan, serta pengusiran umat Islam dari tanah air mereka.
Namun, dalam retorika politiknya, Prabowo menggunakan makna luas dari fitnah sebagai bentuk gangguan terhadap stabilitas dan kebenaran. Hal ini semakin mempertegas mengapa Prabowo kutip ayat Al-Quran surat Al-Baqarah saat singgung sering difitnah, Zulhas beri jempol [titlebase] menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat, mengingat penggunaan ayat suci dalam merespons dinamika politik nasional.
Sikap Bijak: Mencatat dan Memaafkan
Meski menunjukkan kemarahan terhadap para penyebar fitnah, Presiden Prabowo tetap menunjukkan sisi kemanusiaan dan kebesaran hati. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin memperpanjang persoalan yang dapat mengganggu stabilitas nasional. Ia memilih untuk tetap tenang dan mengamati perkembangan situasi tersebut.
“Tapi sudahlah, kita bangsa yang besar, bangsa yang kuat. Saya pun mencatat saja. Kalau dia sadar, saya maafkan,” ungkap Prabowo menutup pembicaraan mengenai isu tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Prabowo kutip ayat Al-Quran surat Al-Baqarah saat singgung sering difitnah, Zulhas beri jempol [titlebase] sebagai bentuk peringatan keras, pemerintah tetap membuka pintu rekonsiliasi bagi mereka yang mau memperbaiki diri dan kembali pada kebenaran.
Pidato ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa, terutama para intelektual, untuk senantiasa menjaga kejujuran dalam menyampaikan pendapat demi kepentingan nasional yang lebih besar.



Post Comment