Misi Bersejarah: Perjalanan 25 Hari Kapal Induk Garibaldi Menuju Indonesia dan Amanah Kolonel Fuad Hasan

Misi Bersejarah: Perjalanan 25 Hari Kapal Induk Garibaldi Menuju Indonesia dan Amanah Kolonel Fuad Hasan

Sekolapedia – 23 September 2026 | Dermaga 107 Tanjung Priok, Jakarta Utara, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa bersejarah bagi kekuatan maritim Indonesia pada Jumat, 18 September 2026. Kapal induk Giuseppe Garibaldi, yang merupakan hibah dari Italia, akhirnya bersandar dengan selamat setelah menempuh perjalanan panjang. Di balik kemegahan kapal tersebut, tersimpan Kisah calon komandan kapal induk Garibaldi, 25 hari arungi laut dari Italia ke RI yang penuh dengan tantangan, dedikasi, dan kerja keras para prajurit TNI Angkatan Laut.

Kolonel Laut (P) Mochamad Fuad Hasan, perwira lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 2002, dipercaya oleh Markas Besar TNI AL untuk mengemban tanggung jawab besar sebagai calon komandan kapal induk pertama di Indonesia. Bagi Fuad, amanah ini adalah sebuah pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan saat pertama kali menginjakkan kaki sebagai Letnan Dua di AAL. Ia menggambarkan momen ini sebagai sebuah milestone penting bagi sejarah militer tanah air.

Tantangan Pelayaran dan Skema Joint Crew

Perjalanan menuju Jakarta bukanlah sebuah pelayaran biasa. Melalui skema joint crew, 99 personel TNI AL bekerja bahu-membahu dengan 300 kru dari Angkatan Laut Italia. Dalam Kisah calon komandan kapal induk Garibaldi, 25 hari arungi laut dari Italia ke RI ini, para prajurit Indonesia tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi terlibat langsung dalam setiap departemen, mulai dari navigasi, penjagaan, hingga urusan domestik seperti memasak.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah kendala bahasa. Sebagian besar komunikasi dilakukan dalam bahasa Inggris dengan aksen Italia yang kental. Namun, kreativitas prajurit menjadi kunci. Dengan bantuan teknologi seperti Google Translate, komunikasi tetap berjalan lancar hingga hubungan antara prajurit TNI AL dan AL Italia terasa seperti sebuah keluarga besar. Hal ini membuktikan bahwa profesionalisme dapat melampaui batasan bahasa.

Tahapan Pelatihan/Pelayaran Lokasi/Rute Durasi/Keterangan
Pelatihan Awal Koarmada II, Surabaya Sekitar 1 bulan
Familiarisasi Taranto, Italia Sekitar 1 bulan
Pelayaran Utama Italia ke Jakarta 25 Hari (Melalui Suez, Jeddah, Kolombo, Selat Malaka)

Melewati Kawasan Berisiko Tinggi di Laut Merah

Keamanan selama pelayaran menjadi prioritas utama, terutama saat kapal harus melintasi kawasan Timur Tengah. Fuad menjelaskan bahwa Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, dan Teluk Aden merupakan zona dengan isu keamanan maritim yang sangat tinggi. Untuk memastikan keselamatan Giuseppe Garibaldi, kapal ini mendapat pengawalan ketat dari operasi keamanan maritim Uni Eropa, yaitu EUNAVFOR ASPIDES.

Dua kapal perang Italia, yakni ITS Carlo Bergamini dan ITS Tonnerre, turut mendampingi selama melewati perairan yang rawan tersebut. Pengawalan ini sangat krusial mengingat situasi keamanan di wilayah tersebut yang masih menjadi perhatian dunia. Ketangguhan kru dalam menjaga kapal di tengah situasi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Kisah calon komandan kapal induk Garibaldi, 25 hari arungi laut dari Italia ke RI.

Selain faktor keamanan, rute pelayaran juga dipengaruhi oleh kondisi alam. Kapal tidak mengambil rute menuju Selat Sunda karena adanya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, sehingga harus melalui jalur alternatif yang lebih panjang namun aman.

Menyongsong Era Baru KRI Sriwijaya

Setelah tiba di Jakarta, kapal induk Giuseppe Garibaldi dijadwalkan akan segera berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100 pada tanggal 24 September 2026. Perubahan nama ini menandai status resmi kapal tersebut sebagai aset kedaulatan Republik Indonesia. Nantinya, total kru yang akan mengoperasikan kapal ini diproyeksikan mencapai 400 personel, yang mencakup 40 prajurit perempuan.

Kehadiran kapal induk ini merupakan lompatan besar bagi kekuatan laut Indonesia. Melalui Kisah calon komandan kapal induk Garibaldi, 25 hari arungi laut dari Italia ke RI, terlihat jelas kesiapan personel TNI AL dalam mengadopsi teknologi militer tingkat tinggi. Dengan persiapan yang matang, baik dari sisi teknis maupun sumber daya manusia, Indonesia kini siap memperkuat postur pertahanan maritimnya di kancah internasional.

Secara keseluruhan, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan fisik sebuah kapal dari satu negara ke negara lain, melainkan sebuah proses transfer ilmu pengetahuan dan penguatan kerja sama internasional. Keberhasilan Kolonel Fuad Hasan dan timnya membawa kapal ini dengan selamat menjadi bukti nyata profesionalisme prajurit TNI AL dalam menghadapi tantangan global yang kompleks.

Post Comment