Sekolapedia – 08 September 2026 | Situasi transportasi di Selat Bali mengalami ketegangan hebat dalam beberapa hari terakhir. Pelabuhan Ketapang sempat macet 15 km, polisi tegur ASDP hingga pengendara akibat penumpukan kendaraan yang tidak terkendali. Kemacetan horor ini memicu reaksi keras dari kepolisian setelah arus lalu lintas di akses menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, mengalami kelumpuhan yang berdampak luas pada distribusi logistik nasional.
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jawa Timur, Kombes Pol Rahmat Hakim, melayangkan teguran keras dalam rapat koordinasi lintas instansi. Ia menyoroti lambatnya penanganan krisis yang menyebabkan pihak kepolisian harus menerjunkan personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) untuk menjaga arus jalan nasional. Rahmat menegaskan bahwa meskipun polisi menjaga kelancaran di jalan raya, kendala utama terletak pada kapasitas layanan dan aspek teknis di dermaga yang merupakan wewenang otoritas penyeberangan.
Kronologi Kemacetan dan Fluktuasi Antrean
Kemacetan ini bukanlah peristiwa tunggal, melainkan akumulasi dari peningkatan volume kendaraan dan adanya pembangunan peningkatan kapasitas dermaga di sisi Gilimanuk maupun Ketapang. Berikut adalah gambaran fluktuasi panjang antrean kendaraan selama periode krisis:
| Waktu Kejadian | Estimasi Panjang Antrean | Keterangan |
|---|---|---|
| Sabtu (5/9) Malam | Mulai meningkat | Fluktuasi awal kendaraan |
| Minggu (6/9) Pagi | Hingga 15 Kilometer | Titik puncak kemacetan horor |
| Minggu (6/9) 04.30 WIB | 1,7 Kilometer | Sempat menyusut signifikan |
| Minggu (6/9) Siang | Di atas 5 Kilometer | Penumpukan kembali terjadi |
| Senin (7/9) Pagi | 4,5 Kilometer | Mulai terurai hingga Watudodol |
Kondisi Pelabuhan Ketapang sempat macet 15 km, polisi tegur ASDP hingga pengendara, yang semakin diperparah dengan aksi protes dari asosiasi sopir logistik pada Minggu sore. Protes tersebut sempat melumpuhkan operasional pelayaran selama lebih dari satu jam sebagai bentuk keresahan atas pola operasional kapal yang dinilai lambat selama dua pekan terakhir.
Teguran Kepolisian terhadap Pengendara
Selain menyasar otoritas pelabuhan, pihak kepolisian juga memberikan peringatan keras kepada para pengguna jalan. Dalam situasi di mana Pelabuhan Ketapang sempat macet 15 km, polisi tegur ASDP hingga pengendara yang melakukan aksi ‘ngeblong’ atau menyerobot jalur. Tindakan ini dinilai sangat fatal karena dapat mengunci arus lalu lintas dari arah berlawanan dan memperparah kemacetan dua arah.
Polda Jatim telah mengerahkan 60 personel BKO dan 30 unit sepeda motor untuk memperkuat Polresta Banyuwangi. Petugas disiagakan dalam empat sif selama 24 jam nonstop guna memprioritaskan kendaraan darurat seperti ambulans dan memastikan ketertiban di jalur terdampak.
Langkah Mitigasi dan Pemulihan oleh ASDP
Menanggapi krisis ini, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Heru Widodo, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Pihaknya berkomitmen untuk melakukan percepatan penguraian antrean melalui beberapa langkah konkret:
- Optimalisasi Kapasitas Kapal: Mengerahkan armada berukuran besar, termasuk KMP Jatra I yang dijadwalkan tiba pada Selasa (8/9) untuk memperkuat lintasan Ketapang–Gilimanuk.
- Pola Operasional TBB: Bekerja sama dengan BPTD menerapkan pola Tiba-Bongkar-Berangkat untuk mempercepat waktu layanan kapal.
- Percepatan Dokumen: Berkoordinasi dengan KSOP untuk mempercepat penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB).
- Service Recovery: Memberikan bantuan berupa makanan berat, camilan, dan minuman bagi pengemudi truk di bufferzone Bulusan.
Meski Pelabuhan Ketapang sempat macet 15 km, polisi tegur ASDP hingga pengendara, saat ini layanan dilaporkan mulai berangsur normal. Penyesuaian pola operasional dilakukan secara dinamis untuk memastikan kapasitas kapal dimanfaatkan secara maksimal. Koordinasi antara regulator, kepolisian, dan asosiasi sopir diharapkan dapat mencegah terulangnya kemacetan serupa di masa mendatang demi menjamin kepastian waktu perjalanan masyarakat dan armada logistik.



Post Comment