Isak Tangis di Selat Sunda: Keluarga Korban Jurnalis Hilang Tabur Bunga di Tengah Laut Sebagai Doa Terakhir

Isak Tangis di Selat Sunda: Keluarga Korban Jurnalis Hilang Tabur Bunga di Tengah Laut Sebagai Doa Terakhir

Sekolapedia – 21 September 2026 | Suasana penuh haru menyelimuti Perairan Selat Sunda saat keluarga korban jurnalis hilang tabur bunga di tengah laut sebagai bentuk penghormatan terakhir. Aksi ini dilakukan oleh keluarga dari lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak saat sedang menjalankan tugas jurnalistik meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Prosesi ini berlangsung satu hari setelah operasi pencarian resmi dinyatakan berakhir oleh pihak berwenang pada Kamis (17/9/2026).

Perjalanan menuju titik koordinat lokasi hilangnya Kapal Cepat Arupadhatu 1 dimulai dari Pelabuhan Pelindo 3 Ciwandan, Kota Cilegon. Menggunakan armada KN SAR 247 Tetuka, keluarga korban bersama sejumlah insan pers melakukan perjalanan melintasi luasnya samudera. Nakhoda KN SAR Tetuka, Arif Rohadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni formalitas belaka, melainkan sebuah ungkapan cinta dan harapan yang mendalam dari keluarga yang ditinggalkan.

Informasi Operasi SAR Detail Data
Jumlah Korban 5 Jurnalis & 3 Kru Kapal
Lokasi Kejadian Perairan Selat Sunda (Titik Hilang KM Arupadatu I)
Durasi Pencarian 10 Hari
Status Operasi Dihentikan (17 September 2026)
Luas Area Penyisiran Mencapai 8.509 Mil Laut Persegi

Di tengah perjalanan, momen emosional tak terhindarkan ketika keluarga korban jurnalis hilang tabur bunga di tengah laut tepat di titik dugaan hilangnya kontak kapal. Istri dan anak dari jurnalis iNews, Yudhistiro Pranoto, tampak tak kuasa menahan air mata saat menebar bunga ke hamparan air Selat Sunda. Bagi mereka, tindakan ini adalah jembatan doa agar keberadaan rekan-rekan mereka dapat segera terungkap, meskipun operasi fisik telah usai.

Tak hanya keluarga Yudhistiro, keluarga jurnalis ANTARA, Muhammad Bagus Khoirunas, juga menunjukkan duka yang mendalam. Meski operasi SAR telah dihentikan oleh Basarnas, pihak Kantor Berita ANTARA menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi keluarga korban. Direktur Utama ANTARA, Benny Siga Butarbutar, menyatakan bahwa penghentian operasi pencarian oleh pemerintah tidak akan menghentikan harapan dan dukungan moral bagi istri dan keluarga Bagus Khoirunas.

Keputusan penghentian operasi pencarian ini disampaikan secara resmi oleh Gubernur Banten, Andra Soni, di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Pandeglang. Pemerintah menyatakan bahwa setelah melalui upaya maksimal selama 10 hari dengan mengerahkan 523 personel gabungan melalui jalur udara, laut, dan darat, pencarian dinyatakan sudah tidak efektif lagi. Hal ini menjadi akhir yang pahit bagi perjuangan tim SAR yang telah menyisir area seluas ribuan mil laut persegi.

Solidaritas antar sesama insan pers terlihat sangat kuat dalam peristiwa ini. Banyak rekan media yang turut hadir dalam aksi keluarga korban jurnalis hilang tabur bunga di tengah laut untuk memberikan dukungan moril secara langsung. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa perjuangan para jurnalis dalam mencari kebenaran di lapangan tidak akan dilupakan begitu saja oleh rekan sejawatnya.

Peristiwa ini menjadi catatan kelam bagi dunia jurnalistik Indonesia, sekaligus menjadi pengingat akan tingginya risiko pekerjaan di lapangan. Meskipun keluarga korban jurnalis hilang tabur bunga di tengah laut dengan penuh duka, harapan agar kebenaran mengenai nasib para korban segera terungkap tetap menyala di hati mereka. Doa-doa yang dipanjatkan di tengah Selat Sunda diharapkan menjadi penguat bagi keluarga yang kini harus menjalani masa-masa paling berat dalam hidup mereka.

Post Comment