Sekolapedia – 21 Agustus 2026 | Rangkaian tur musik ekstrem bertajuk Cataclysmic Summer Tour 2026 yang diikuti oleh musisi metal ternama asal Indonesia, deadsquad, bersama Jasad dan Death Vomit, berakhir dengan drama pahit. Ketiga band legendaris ini dilaporkan mengalami situasi genting setelah diduga menjadi korban pengabaian tanggung jawab oleh pihak promotor, Diablo Productions, saat sedang menjalankan agenda di daratan Eropa.
Masalah ini mulai terendus setelah penampilan pembuka mereka di venue Lost Lane, Dublin, Irlandia, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, berjalan dengan lancar. Namun, kegembiraan tersebut seketika berubah menjadi kekacauan saat rombongan yang terdiri dari 16 personel dan kru tersebut mendapati bahwa janji-janji logistik dari promotor tidak dipenuhi. Ketidakpastian mengenai akomodasi dan transportasi membuat mereka sempat terlantar di Dublin, sebuah situasi yang memicu keprihatinan mendalam di kalangan komunitas musik ekstrem internasional.
Kronologi Pembatalan Konser di Irlandia dan Inggris
Akibat kegagalan pihak promotor dalam menyediakan sarana transportasi dan penginapan untuk perjalanan berikutnya, jadwal pertunjukan di dua kota besar terpaksa dibatalkan. Berikut adalah rincian jadwal yang terdampak:
- Cork, Irlandia (16 Agustus 2026): Dibatalkan karena kendala logistik transportasi dan akomodasi.
- London, Inggris (17 Agustus 2026): Dibatalkan karena masalah administrasi dan reservasi venue.
Kasus di London menjadi sorotan tajam setelah pihak venue, The Underworld Camden, memberikan klarifikasi mengejutkan. Melalui pernyataan resmi di media sosial, pihak venue mengungkapkan bahwa Diablo Productions tidak pernah melakukan reservasi atau penyewaan tempat secara resmi. Selain itu, pihak venue mengaku telah berulang kali mencoba menghubungi promotor melalui email dan telepon, namun tidak mendapatkan respons sama sekali. Ketidakjelasan status pembayaran dan pemesanan ini memaksa pihak venue untuk membatalkan pertunjukan demi kepastian hukum dan profesionalisme.
Dampak dan Respons Para Musisi
Ketidakprofesionalan Diablo Productions tidak hanya berdampak pada jadwal panggung, tetapi juga pada keberadaan fisik para musisi. Pihak deadsquad melalui pernyataan resmi di Instagram menyebutkan bahwa promotor gagal memenuhi komitmen utama seperti kesiapan venue, transportasi, komunikasi, hingga akomodasi. Situasi ini bahkan diperparah dengan hilangnya jejak digital promotor, di mana halaman Facebook mereka dilaporkan telah dihapus dan fitur komunikasi di Instagram dinonaktifkan.
Meskipun sempat mengalami masa sulit dan merasa sangat dirugikan, para musisi ini menunjukkan mentalitas baja. Yuli Darma, pemain bas dari Jasad, memastikan bahwa meskipun mereka sempat mengalami kendala di Irlandia dan Inggris, rangkaian tur ke wilayah Eropa lainnya akan tetap dilanjutkan. Hal ini dimungkinkan karena promotor untuk agenda di kota-kota berikutnya berbeda dari Diablo Productions.
| Aspek Masalah | Detail Kendala |
|---|---|
| Logistik | Gagalnya penyediaan akomodasi dan transportasi pasca show di Dublin. |
| Administrasi | Tidak adanya bukti reservasi resmi di venue London (The Underworld Camden). |
| Komunikasi | Promotor sulit dihubungi dan tidak merespons upaya konfirmasi pihak venue. |
| Status Promotor | Akun media sosial promotor tidak aktif dan sulit dilacak. |
Dalam situasi sulit di Dublin, bantuan dari para diaspora Indonesia di Irlandia turut membantu meringankan beban para musisi. Meskipun mengalami kerugian materiil dan mental, para personel deadsquad, Jasad, dan Death Vomit memastikan bahwa kondisi kesehatan mereka tetap dalam keadaan baik dan aman.
Pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pihak deadsquad juga berfungsi sebagai peringatan keras bagi pelaku industri musik di seluruh dunia. Mereka berharap kejadian serupa tidak menimpa musisi lain di masa mendatang, terutama dalam industri musik ekstrem yang melibatkan perjalanan lintas negara yang kompleks. Saat ini, para musisi tengah fokus untuk memulihkan kondisi dan melanjutkan sisa jadwal tur mereka dengan promotor yang berbeda guna menjamin profesionalisme kerja.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi para penggiat musik internasional mengenai pentingnya verifikasi kontrak dan kredibilitas promotor sebelum melakukan rangkaian tur besar di luar negeri. Meskipun sempat terhambat oleh drama promotor, semangat para musisi Indonesia untuk membawa nama bangsa di panggung global tetap membara.



Post Comment