Perang Dingin Digital: Ketua Parlemen Iran Ejek Trump Lewat Slogan ‘Make America Hungry Again’

Perang Dingin Digital: Ketua Parlemen Iran Ejek Trump Lewat Slogan 'Make America Hungry Again'

Sekolapedia – 31 Agustus 2026 | Ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington kembali memanas di ranah digital. Dalam sebuah aksi sindiran yang tajam, Ketua Parlemen Iran ejek Trump, unggah gambar bertuliskan ‘Make America Hungry Again’ sebagai respons langsung terhadap klaim dari pihak Amerika Serikat. Langkah ini menandai eskalasi baru dalam konflik ekonomi dan politik yang telah berlangsung lama antara kedua negara tersebut.

Aksi provokatif ini bermula ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui platform Truth Social miliknya, mengutip laporan dari Newsmax. Dalam unggahan tersebut, Trump secara tidak akurat menyebutkan pernyataan dari pihak Iran yang menyatakan bahwa rakyat mereka sedang berada dalam kondisi kelaparan yang ekstrem. Menanggapi ketidakakuratan informasi tersebut, Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, tidak tinggal diam.

Melalui media sosial pribadinya, Ketua Parlemen Iran ejek Trump, unggah gambar bertuliskan ‘Make America Hungry Again’ yang secara cerdik memutarbalikkan slogan kampanye ikonik milik Trump, “Make America Great Again”. Gambar yang diunggah Ghalibaf tidak hanya berisi teks sindiran, tetapi juga menyertakan data statistik mengenai tingkat kelaparan dan kerawanan pangan yang tengah melanda masyarakat di Amerika Serikat sendiri. Ghalibaf menegaskan bahwa klaim yang dilontarkan pemerintah AS adalah upaya untuk menutupi kegagalan internal mereka dengan narasi yang tidak berdasar.

Konflik ini bukan sekadar adu mulut di media sosial, melainkan cerminan dari kebijakan luar negeri AS yang semakin agresif. Pada pertengahan Agustus 2026, Trump telah mengumumkan rencana untuk meluncurkan “operasi ekonomi paling menghancurkan” terhadap Iran. Kebijakan ini dirancang sebagai bentuk perang ekonomi dan isolasi total yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan ancaman sanksi berat bagi negara-negara atau entitas yang masih menjalin kerja sama ekonomi dengan Teheran.

Baca juga:
Top 10 Best Universities in Singapore: Scholarships, Tuition Grants, and Student Loans

Situasi semakin kompleks dengan adanya kebijakan domestik AS yang juga menuai kecaman internasional. Di tengah upaya pengetatan aturan imigrasi, pemerintahan Trump dilaporkan telah menangguhkan jadwal janji temu visa bagi pemohon di seluruh dunia. Langkah ini diklaim sebagai upaya untuk meningkatkan keamanan dalam negeri, namun justru memicu gelombang protes dari kelompok hak asasi manusia yang menilai kebijakan tersebut diskriminatif dan melanggar proses hukum yang adil.

Berikut adalah ringkasan dinamika ketegangan antara AS dan Iran dalam periode terakhir:

  • Agustus 2026: Ketua Parlemen Iran mengejek Trump dengan slogan ‘Make America Hungry Again’ terkait isu kerawanan pangan di AS.
  • Agustus 2026: Penangguhan jadwal visa global oleh AS dengan alasan pelatihan petugas konsuler dan keamanan domestik.
  • Agustus 2026: Trump mengancam akan melakukan operasi ekonomi penghancur terhadap Iran dan sekutunya.
  • Februari – April 2026: Terjadi serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang sempat memicu ketegangan fisik sebelum gencatan senjata tercapai.

Selain masalah diplomatik dengan Iran, kebijakan imigrasi Trump juga menghadapi tantangan hukum yang serius. Seorang hakim di Amerika Serikat sebelumnya telah membatalkan kebijakan penangguhan visa bagi pemohon dari 75 negara karena dianggap melampaui wewenang hukum yang dimiliki oleh Menteri Luar Negeri. Hal ini menunjukkan bahwa di balik upaya penguatan keamanan, pemerintah AS tengah menghadapi hambatan regulasi yang cukup besar.

Baca juga:
Dampak Kedatangan Karl Darlow bagi Skuad Manchester United Musim 2026/2027

Aksi di mana Ketua Parlemen Iran ejek Trump, unggah gambar bertuliskan ‘Make America Hungry Again’ ini mempertegas bahwa perang informasi akan menjadi instrumen penting dalam konflik geopolitik modern. Sementara Trump mencoba menggunakan tekanan ekonomi untuk melumpuhkan Iran, pihak Teheran justru membalas dengan menyerang titik lemah domestik Amerika, yakni isu ketahanan pangan dan stabilitas sosial.

Sebagai kesimpulan, hubungan antara Amerika Serikat dan Iran saat ini berada pada titik nadir yang sangat rentan. Kombinasi antara kebijakan ekonomi yang sangat agresif, pengetatan aturan imigrasi yang kontroversial, serta perang urat syaraf di media sosial menciptakan atmosfer ketidakpastian global. Dunia kini tengah memperhatikan apakah tekanan ekonomi maksimal yang dijanjikan Trump akan berhasil mengubah arah politik Iran, atau justru akan memicu reaksi balasan yang lebih destruktif dari Teheran.

Baca juga:
Most Popular Birthday in the World: The Dates Celebrated by Millions of People

Post Comment