Sekolapedia – 26 Agustus 2026 | Jakarta bersiap menghadapi gelombang aksi massa yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026. Rencana demo besok ini melibatkan gabungan berbagai kelompok masyarakat dari berbagai daerah yang akan memusatkan massa di depan Gedung DPR RI. Fokus utama dari aksi ini adalah menyuarakan tuntutan terkait pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset serta menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok yang kian mencekik rakyat.
Di tengah persiapan massa, perhatian publik tertuju pada sosok Supriyono alias Botok, Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB). Botok dijadwalkan menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada Rabu (26/8). Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan klarifikasi dana sebesar Rp 80 juta yang terdapat dalam rekening pribadinya, yang merupakan campuran dari dana pribadi dan hasil penggalangan donasi untuk mendukung aksi demonstrasi tersebut. Pihak tim advokasi AMPB, Vander Waruwu, mengonfirmasi bahwa surat panggilan klarifikasi dari pihak kepolisian telah diterima.
Sebelumnya, sempat beredar kabar simpang siur yang menyebutkan bahwa Botok telah ditangkap oleh pihak kepolisian saat massa asal Pati berkegiatan di depan Gedung DPR/MPR RI pada Senin (24/8). Namun, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, dengan tegas membantah isu tersebut. Ia menjelaskan bahwa tidak ada upaya penangkapan maupun pengamanan terhadap Botok. Menurutnya, terjadi kesalahpahaman di lapangan ketika Botok terlihat berkomunikasi dengan personel Satintelkam Polres Metro Jakarta Pusat terkait administrasi perizinan kegiatan, yang kemudian disalahartikan oleh massa sebagai tindakan penangkapan.
Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari kalangan konten kreator. Ferry Irwandi, yang dikenal sebagai aktivis, terlihat menemui massa AMPB di depan gedung DPR pada Rabu siang. Kehadirannya bertujuan untuk memberikan dukungan moral serta bantuan logistik berupa sejumlah kebutuhan bagi para demonstran. Meskipun memberikan dukungan penuh, Ferry menyatakan tidak dapat mengikuti demo besok secara langsung karena harus menunaikan amanah bantuan ke wilayah Kalimantan.
“Kita harus bersolidaritas, jaga sekelilingnya, dan jaga teman masing-masing. Di situasi lapangan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, jadi saling menguatkan saja,” ujar Ferry Irwandi saat memberikan imbauan kepada para peserta aksi.
Menanggapi rencana aksi unjuk rasa gabungan ini, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M. Qodari, memberikan pandangan yang tenang. Ia menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bagian yang sah dari kehidupan demokrasi di Indonesia. Masyarakat memiliki hak konstitusional untuk menyampaikan pendapat, saran, maupun masukan selama dilakukan dalam koridor aturan yang berlaku.
“Kita negara demokrasi. Jadi setiap warga negara berhak untuk menyampaikan pendapat, saran, dan masukan tentunya dalam koridor aturan yang berlaku. Saya kira tidak ada sesuatu yang khusus atau spesial, karena unjuk rasa memang sering terjadi sebagai cara menyampaikan aspirasi,” tutur Qodari saat ditemui di kantor Bakom RI.
Persiapan teknis dari pihak massa terlihat cukup matang, di mana AMPB dilaporkan telah menyiapkan empat bus untuk mengangkut massa dari Pati menuju Jakarta. Salah satu simbol yang akan dibawa dalam aksi tersebut adalah keranda, yang menjadi representasi dari tuntutan mereka untuk merampas aset para koruptor. Dengan agenda demo besok yang sudah dipetakan, aparat keamanan diharapkan dapat mengawal jalannya penyampaian aspirasi agar tetap kondusif dan tertib.
Secara keseluruhan, situasi menjelang aksi massa ini diwarnai dengan dinamika hukum terkait transparansi dana donasi dan upaya klarifikasi isu penangkapan aktivis. Meskipun terdapat ketegangan di level koordinasi, pemerintah melalui Bakom RI tetap memandang hal ini sebagai mekanisme demokrasi yang normal. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menjaga ketertiban selama demo besok berlangsung agar tujuan penyampaian aspirasi dapat tercapai tanpa mengganggu stabilitas keamanan nasional.



Post Comment