Sekolapedia – 25 Agustus 2026 | Persebaya Surabaya baru saja menuntaskan pramusim dengan catatan yang sangat membanggakan setelah berhasil menyabet gelar juara Piala Presiden 2026. Namun, di balik kegemilangan tersebut, terselip sebuah catatan merah yang menjadi perhatian serius bagi jajaran pelatih. Dalam sesi evaluasi tim, Tavares minta pemain Persebaya jaga emosi, 13 kartu kuning jadi sorotan utama yang harus segera dibereskan sebelum kompetisi resmi dimulai.
Bernardo Tavares, pelatih kepala Green Force, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap disiplin pemain di lapangan. Meskipun tim tampil dominan, statistik menunjukkan adanya kerentanan dalam pengendalian diri. Selama lima pertandingan yang dijalani di ajang Piala Presiden 2026, para pemain Persebaya tercatat mengantongi total 13 kartu kuning. Angka ini dianggap terlalu tinggi bagi sebuah tim yang berambisi meraih gelar juara di kompetisi kasta tertinggi.
Masalah Disiplin dan Reaksi Terhadap Wasit
Menurut pengamatan Tavares, akar permasalahan dari banyaknya kartu kuning tersebut adalah ketidakmampuan pemain dalam mengelola emosi saat menghadapi keputusan wasit. Ia menekankan bahwa reaksi yang berlebihan tidak hanya merugikan secara statistik, tetapi juga dapat merusak ritme permainan yang telah direncanakan.
“Terkadang, pemain kami terlalu emosional dengan keputusan wasit. Dan, saya percaya jika kami terlalu emosional, pemain akan mendapat kartu kuning dari wasit,” ujar Tavares dalam sebuah sesi diskusi teknis. Ia menambahkan bahwa Tavares minta pemain Persebaya jaga emosi, 13 kartu kuning jadi sorotan agar strategi tim tidak terganggu oleh absennya pemain akibat akumulasi kartu atau keharusan bermain lebih defensif karena ketakutan mendapatkan kartu merah.
Berikut adalah data pemain yang menjadi perhatian khusus akibat koleksi kartu kuning mereka selama pramusim:
| Nama Pemain | Status Kartu |
|---|---|
| Yuran Fernandes | 2 Kartu Kuning |
| Ramadhan Sananta | 2 Kartu Kuning |
| Rachmat Irianto | 2 Kartu Kuning |
Ketiga pemain tersebut merupakan pilar penting dalam skema permainan Persebaya. Jika mereka tidak mampu mengontrol diri, maka stabilitas lini pertahanan dan tengah Green Force akan menjadi taruhan besar di Super League 2026-2027.
Persiapan Menuju Super League 2026-2027
Menghadapi laga perdana melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC pada 5 September mendatang, Persebaya tidak ingin bersikap jemawa meskipun berstatus sebagai juara Piala Presiden. Fokus utama saat ini adalah pematangan taktik dan perbaikan mentalitas pemain. Saat ini, skuad Green Force sedang berada di Thailand untuk menjalani pemusatan latihan intensif hingga 27 Agustus mendatang.
Kapten tim, Rachmat Irianto, mengakui bahwa pramusim memberikan banyak pelajaran berharga. Meski terdapat banyak kekurangan yang harus dibenahi, ia melihat adanya perkembangan positif dalam kerja sama tim. Rian menegaskan bahwa evaluasi ini sangat krusial agar tim tidak mengulangi kesalahan yang sama saat menghadapi tekanan tinggi di liga resmi.
Dengan alasan Tavares minta pemain Persebaya jaga emosi, 13 kartu kuning jadi sorotan, tim pelatih kini bekerja ekstra keras untuk menanamkan disiplin tinggi. Pemain dituntut untuk mampu membedakan kapan harus bermain agresif untuk merebut bola dan kapan harus menahan diri agar tidak terjebak dalam pelanggaran yang tidak perlu. Fokus pada kontrol emosi ini menjadi kunci utama jika Persebaya ingin mewujudkan target besar mereka musim depan, yakni menjadi juara Super League.
Secara keseluruhan, kemenangan di Piala Presiden hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi performa sekaligus menjaga disiplin di lapangan. Jika Persebaya mampu mengatasi masalah emosional ini, mereka akan menjadi kekuatan yang sangat menakutkan di musim kompetisi mendatang.


Post Comment