Suhartina Bohari Pamit dari Golkar, Bahlil Lahadalia: Kami Terbuka bagi Siapa Saja

Suhartina Bohari Pamit dari Golkar, Bahlil Lahadalia: Kami Terbuka bagi Siapa Saja

Sekolapedia – 21 Juli 2026 | Dinamika politik di tubuh Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali mencuri perhatian publik setelah mundurnya figur penting dari kursi pimpinan daerah. Ketua DPD II Golkar Maros, Suhartina Bohari, secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari partai berlambang pohon beringin tersebut. Langkah ini diambil tepat di tengah momentum krusial pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD I Golkar Sulsel yang berlangsung di Hotel Claro, Makassar, pada Sabtu (18/7/2026).

Keputusan Suhartina Bohari untuk mundur bukan merupakan langkah mendadak. Ia menegaskan bahwa masa jabatannya sebagai Ketua DPD II Golkar Maros sejatinya telah berakhir pada Juni 2026. Mengingat tidak adanya mekanisme perpanjangan Surat Keputusan (SK), ia merasa sudah saatnya estafet kepemimpinan diserahkan melalui mekanisme Musda yang baru. Dirinya pun secara tegas memastikan tidak akan mencalonkan diri kembali dalam kontestasi kepemimpinan di tingkat Kabupaten Maros.

Meski keputusan mundur ini bertepatan dengan berlangsungnya Musda DPD I Golkar Sulsel, Suhartina Bohari menepis anggapan bahwa langkahnya terkait dengan dinamika pemilihan Ketua DPD I, termasuk isu seputar diskresi bagi calon ketua, Ilham Arief Sirajuddin. Ia menyatakan sudah lama berencana untuk rehat sejenak dari aktivitas partai dan memilih untuk menjalani status nonpartai dalam waktu dekat.

Di tempat yang sama, Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, memberikan tanggapan santai menanggapi fenomena kader yang memilih untuk hengkang atau ‘hijrah’ dari partai. Dalam pidato pembukaan Musda, Bahlil menegaskan bahwa Golkar merupakan partai yang inklusif dan tidak eksklusif. Menurutnya, keluar-masuknya kader dalam sebuah partai politik adalah hal yang lumrah dalam perjalanan panjang demokrasi.

Bahlil mengibaratkan kader Golkar layaknya anggota keluarga besar yang hanya berbeda kamar. Ia tidak melihat kader yang memutuskan pindah partai sebagai kompetitor atau musuh, melainkan tetap sebagai saudara. Baginya, jika suatu saat nanti kader tersebut merasa tidak menemukan kenyamanan di tempat lain dan ingin kembali ke rumah besar Golkar, pintu partai akan selalu terbuka lebar. Hal ini menjadi sinyal bahwa Golkar tetap mengedepankan keterbukaan dan tidak menaruh dendam kepada siapa pun yang memilih jalan politik berbeda.

🔖 Baca juga:
Analisis Kekuatan Manu Koné: Mengapa Banyak Klub Elite Mengincarnya?

Peristiwa mundurnya Suhartina Bohari ini menjadi catatan tersendiri bagi Golkar di Sulawesi Selatan. Pergantian kepemimpinan di tingkat daerah diharapkan dapat berjalan kondusif tanpa menghambat roda organisasi. Kini, publik menanti siapa sosok yang akan menggantikan peran Suhartina Bohari untuk menahkodai Golkar di Kabupaten Maros ke depannya.

Secara keseluruhan, mundurnya pimpinan daerah di tengah perhelatan Musda menunjukkan bahwa dinamika internal partai tetap berjalan dinamis. Dengan sikap inklusif yang ditunjukkan oleh pimpinan pusat, Partai Golkar berupaya menjaga soliditas internal meski ada kader yang memilih untuk menempuh jalan politik di luar partai saat ini.

Post Comment