Skandal Piala Dunia 2026: Argentina Lolos ke Perempat Final, Mesir Tuding FIFA Berpihak pada Messi

Skandal Piala Dunia 2026: Argentina Lolos ke Perempat Final, Mesir Tuding FIFA Berpihak pada Messi

Sekolapedia – 09 Juli 2026 | Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat baru saja mencatatkan babak baru dalam sejarah kontroversi sepak bola internasional. Kemenangan dramatis Argentina 3-2 atas Mesir di babak 16 besar bukan hanya menyisakan kebahagiaan bagi pendukung Albiceleste, melainkan juga memicu kecaman keras dari kubu lawan. Pertandingan yang berlangsung di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, tersebut kini menjadi sorotan dunia setelah pelatih Mesir, Hossam Hassan, melontarkan tuduhan serius terhadap FIFA terkait keberpihakan kepada Lionel Messi.

Mesir awalnya tampil impresif dengan memimpin 2-0 berkat gol Yasser Ibrahim pada menit ke-15 dan gol Mostafa Ziko pada menit ke-67. Argentina, yang berstatus sebagai juara bertahan, tampak kesulitan menembus pertahanan disiplin Mesir, bahkan Lionel Messi sempat gagal mengeksekusi penalti di babak pertama. Namun, momentum pertandingan berubah drastis di 15 menit terakhir. Cristian Romero memangkas ketertinggalan pada menit ke-79, disusul gol penyama kedudukan dari Messi, sebelum Enzo Fernandez memastikan kemenangan Argentina di masa tambahan waktu.

Kekecewaan mendalam dirasakan oleh kubu Mesir, terutama terkait keputusan wasit asal Prancis, Francois Letexier. Mostafa Ziko, yang menjadi salah satu pencetak gol bagi Mesir, secara terbuka menyebut bahwa turnamen ini tampak “diarahkan” untuk memenangkan sang juara bertahan. Ziko menegaskan bahwa keputusan wasit sangat tidak adil dan merugikan kerja keras seluruh tim serta negara Mesir. Puncak dari kemarahan Mesir adalah pengajuan keluhan resmi oleh Federasi Sepak Bola Mesir kepada FIFA, yang menuntut investigasi penuh terhadap tim pengadil lapangan.

Ketegangan di lapangan juga merembet ke pinggir lapangan. Video yang beredar menunjukkan konfrontasi panas antara Lionel Messi dan Hossam Hassan. Dalam insiden tersebut, Hassan sempat melakukan gerakan “X” dengan menyilangkan tangan, yang merupakan protokol resmi FIFA untuk melaporkan dugaan rasisme. Aksi ini memicu keributan besar yang melibatkan staf pelatih kedua tim hingga aparat keamanan. Meski seorang staf Mesir diganjar kartu merah, Hassan merasa bahwa wasit tidak memberikan perlindungan yang setara bagi timnya.

Kontroversi ini semakin memanas dengan keterlibatan figur publik di media sosial. Aktris Gauahar Khan ikut melayangkan kritik tajam terhadap perilaku Messi di lapangan, menyebutnya melakukan drama yang tidak perlu setelah sebuah insiden benturan. Gelombang protes ini menandai krisis kepercayaan terhadap integritas kepemimpinan wasit di Piala Dunia 2026. Hingga saat ini, belum ada bukti sistematis mengenai kecurangan, namun perdebatan mengenai efektivitas VAR dan konsistensi pengambilan keputusan wasit menjadi topik hangat di kalangan pengamat sepak bola global.

🔖 Baca juga:
Kejutan Pramusim hingga Perburuan Rafael Leao: Dinamika Panas Raksasa Turki

Sebagai langkah nyata atas ketidakpuasan mereka, Federasi Sepak Bola Mesir menuntut agar seluruh tim wasit yang bertugas pada laga tersebut dikeluarkan dari turnamen. Mereka mengklaim adanya pengabaian terhadap pelanggaran yang seharusnya berbuah penalti bagi Mesir, termasuk insiden tarik-menarik antara Alexis Mac Allister dan Hamdy Fathy sebelum gol kemenangan Argentina tercipta. Hossam Hassan bahkan menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak akan lagi menyaksikan sisa pertandingan Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang ia rasakan.

Secara keseluruhan, kekalahan Mesir ini bukan sekadar hasil akhir di papan skor, melainkan sebuah preseden buruk bagi kredibilitas penyelenggaraan sepak bola internasional. Tudingan keberpihakan terhadap bintang besar seperti Messi telah membuka luka lama mengenai standar wasit yang seringkali dipertanyakan di panggung terbesar dunia. Dengan keluhan resmi yang telah diajukan, dunia kini menanti langkah tegas FIFA untuk menanggapi krisis kepercayaan yang tengah melanda turnamen empat tahunan ini. Apakah ini akan menjadi catatan hitam dalam sejarah Piala Dunia, atau sekadar drama yang terlupakan seiring berjalannya waktu, hanya waktu yang akan menjawab.

Post Comment