Sisi Lain Mick Jagger: Dari Debat AI hingga Kutukan Sepak Bola yang Menghantui

Sisi Lain Mick Jagger: Dari Debat AI hingga Kutukan Sepak Bola yang Menghantui

Sekolapedia – 17 Juli 2026 | Dunia hiburan internasional kembali menyoroti sosok legendaris Mick Jagger, bukan hanya karena perilisan album terbaru The Rolling Stones, Foreign Tongues, melainkan juga karena pandangannya yang kritis terhadap perkembangan teknologi serta nasib sialnya di dunia olahraga. Sebagai ikon rock yang telah berkarier selama lebih dari enam dekade, Jagger tetap menjadi pusat perhatian publik di tengah dinamika industri musik yang semakin terdigitalisasi.

Dalam wawancara eksklusif baru-baru ini, Mick Jagger secara tegas menyatakan penolakannya terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang bertujuan untuk meniru musisi tanpa kreativitas orisinal. Menurutnya, meskipun teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu, tindakan membuat lagu dari awal hanya dengan meniru gaya musisi tertentu adalah langkah yang malas dan tidak kreatif. Pandangan ini sejalan dengan rekan satu bandnya, Keith Richards, yang juga lebih memilih karya musik hasil pemikiran manusia yang autentik dibandingkan sekadar sintesis algoritma.

Meski bersikap skeptis terhadap imitasi AI, Mick Jagger tidak sepenuhnya menutup diri dari teknologi. Grup musik tersebut baru saja bereksperimen dengan teknologi deepfake untuk video musik lagu In the Stars. Dalam video tersebut, wajah para personel band tampak seperti versi mereka di tahun 1968. Jagger mengakui bahwa proses tersebut cukup menghibur, meskipun ia sempat melontarkan candaan saat melihat hasil olahan wajah rekannya, Ronnie Wood, yang menurutnya justru lebih mirip dengan mendiang gitaris Jeff Beck.

Di luar studio rekaman, kehidupan pribadi sang vokalis juga sering menjadi sorotan. Baru-baru ini, Mick Jagger kembali dikaitkan dengan mitos ‘kutukan’ dalam dunia sepak bola. Saat ia terlihat menonton pertandingan Piala Dunia di Atlanta yang berakhir dengan kekalahan Inggris 2-1 dari Argentina, para penggemar kembali mengungkit takhayul lama bahwa kehadiran sang bintang di stadion sering membawa sial bagi tim yang ia dukung. Meskipun hal ini hanyalah spekulasi penggemar, narasi tersebut terus bertahan seiring dengan reputasi Jagger sebagai penggemar berat tim nasional Inggris.

Di sisi lain, dunia politik lokal di Amerika Serikat juga sedang memanas dengan komentar kontroversial Gubernur Louisiana, Jeff Landry, mengenai New Orleans. Namun, dalam konteks budaya pop, perdebatan mengenai apa yang membuat sebuah kota atau seniman menjadi ‘spesial’ tetap menjadi topik hangat. Bagi Mick Jagger, standar ‘kehebatan’ dalam bermusik selalu ia rujuk pada legenda soul, James Brown. Jagger mengakui bahwa ia banyak meniru gerakan panggung Brown, namun ia tetap merasa bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menandingi energi dan dedikasi sang ‘Godfather of Soul’ tersebut.

🔖 Baca juga:
6 Contoh Soal Re-Count Text yang Wajib Diketahui!

Secara keseluruhan, perjalanan karier Mick Jagger saat ini merefleksikan sosok seniman yang tetap relevan di usia senja. Ia tidak hanya terus berinovasi dalam bermusik, tetapi juga berani bersuara mengenai etika seni di era digital. Keberhasilannya mempertahankan relevansi musik The Rolling Stones, sembari menghadapi tantangan zaman dan gosip publik, membuktikan bahwa ia tetap menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah musik rock dunia.

Post Comment