×

Ryan Fox Pecahkan Telur, Sang Maestro Golf Selandia Baru Raih Gelar Major Pertamanya di The Open 2026!

Ryan Fox Pecahkan Telur, Sang Maestro Golf Selandia Baru Raih Gelar Major Pertamanya di The Open 2026!

Sekolapedia – 20 Juli 2026 | SOUTHPORT, Inggris – Sejarah baru terukir di dunia golf ketika Ryan Fox asal Selandia Baru sukses menggondol trofi Claret Jug yang prestisius di ajang The Open Championship 2026. Kemenangan ini bukan sekadar gelar, melainkan pemenuhan mimpi yang diimpikan sejak lama, sekaligus menempatkannya sebagai juara mayor golf dunia.

Fox, yang telah menempuh perjalanan panjang dan berliku dalam kariernya, akhirnya meraih puncak kejayaan pada usia 39 tahun. Ia mengunci gelar juara setelah menampilkan performa luar biasa di Royal Birkdale Golf Club, Minggu (19/7/2026). Momen krusial terjadi di lubang ke-18, di mana Fox berhasil memasukkan putt birdie sejauh 11 kaki, mengungguli pesaing terdekatnya, Cameron Young, dengan selisih satu pukulan.

“Rasanya gila. Saya tidak tahu harus berpikir apa,” ujar Fox dengan nada tak percaya usai kemenangannya. “Saya tidak tahu bagaimana saya berhasil menjaga muka putter tetap lurus untuk membuat bola itu masuk lintasan. Tapi saya akan menerimanya.” Perjuangan Fox tidaklah mudah. Ia sempat mengalami momen sulit di lubang ke-15, sebuah par-3 sepanjang 241 yard, di mana pukulan tee-nya memantul dari sisi bunker dan membuatnya harus menepi untuk melakukan chip ke belakang. Momen ini sempat membuatnya tertinggal, namun justru menjadi titik balik yang membangkitkan semangat juangnya.

“Jika mereka hanya melihat ke bunker dan berjalan melewatinya, Anda tahu itu tidak apa-apa,” kenang Fox merujuk pada reaksi analis di lapangan. “Tetapi ketika mereka turun dan melihatnya, hampir mencoba mengulang pukulan itu sendiri, saya berpikir, ‘Oh, ini tidak bagus.’ Ketika saya sampai di sana, mungkin lebih buruk dari yang saya kira.” Dengan tekad baja, Fox berhasil bangkit. Ia mencetak empat birdie dalam enam lubang terakhirnya, mengakhiri 72 lubang dengan total 10 di bawah par 270. Keberhasilan ini mengukuhkan statusnya sebagai Champion Golfer of the Year.

Perjalanan Ryan Fox menuju gelar mayor ini diwarnai dengan kerja keras dan ketekunan. Ia beralih fokus ke golf pada usia 25 tahun setelah tumbuh besar di Auckland sebagai putra dari Grant Fox, legenda rugby Selandia Baru yang turut membawa tim All Blacks menjuarai Piala Dunia 1987. Mengikuti jejak sang ayah, Fox muda menanamkan prinsip bahwa kerja keras mengalahkan bakat. Perjalanannya di Australian Tour tidak selalu mulus; bahkan di musim keduanya, ia sempat mempertimbangkan untuk berhenti.

🔖 Baca juga:
Sejarah Baru Norwegia: Erling Haaland Jadi Pahlawan, Singkirkan Pantai Gading dan Siap Hadapi Brasil

“Ayah saya bertanya, ‘Mengapa kamu memainkan permainan ini?’ Dan saya berkata, ‘Yah, seharusnya menyenangkan.’ Tapi saat itu tidak terlalu menyenangkan,” ungkap Fox mengenang nasihat ayahnya yang membantunya bangkit. “Dia berkata, ‘Baiklah, mari kita coba bersenang-senang minggu ini.’ Saya rasa saya finis kelima minggu itu, dan itu cukup untuk mempertahankan kartu saya untuk tahun itu.”

Fox kemudian menembus DP World Tour di usia 30 tahun dengan empat kemenangan, termasuk gelar bergengsi BMW PGA Championship. Puncaknya, ia berhasil masuk PGA Tour di usia 37 tahun. Caddie-nya, Dean Smith, menyatakan bahwa Fox selalu memiliki kemampuan, hanya perlu keyakinan. “Dia selalu cukup baik. Dia hanya perlu percaya,” ujar Smith.

Kemenangan di PGA Tour, termasuk di Myrtle Beach, South Carolina, dan sebulan kemudian di RBC Canadian Open, disebut Fox sebagai “binatang yang berbeda” – sebuah validasi atas kerja kerasnya. “Jika Anda bekerja keras untuk menjadi yang terbaik yang Anda bisa, Anda bisa menerima apa pun yang terjadi. Tetapi jika Anda tidak melakukan pekerjaan itu, akan selalu ada sedikit keraguan di kepala Anda, pertanyaan ‘bagaimana jika’,” tambahnya, menggemakan ajaran ayahnya.

The Open Championship tahun ini diselimuti cuaca cerah yang jarang terjadi, mengubah lapangan Royal Birkdale yang memiliki bukit pasir dramatis menjadi cokelat, memantul, dan hijau yang keras seperti beton. Di tengah kondisi menantang itulah Ryan Fox membuktikan kelasnya, mengukir namanya dalam sejarah golf sebagai salah satu juara The Open terhebat.

Fox kini menjadi pemain Selandia Baru kedua yang memenangkan The Open setelah Sir Robert Charles pada tahun 1963. Ia juga menjadi pemain berusia 39 tahun atau lebih yang pertama kali meraih kemenangan mayor pada penampilan top 10 pertamanya sejak Kel Nagle dari Australia pada tahun 1960.

Post Comment