Rupiah Terpuruk di Atas 18.000 per Dolar AS: Geopolitik Timur Tengah dan Bayang-Bayang The Fed Jadi Pemicu

Rupiah Terpuruk di Atas 18.000 per Dolar AS: Geopolitik Timur Tengah dan Bayang-Bayang The Fed Jadi Pemicu

Sekolapedia – 09 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat dalam perdagangan pekan ini, menembus level psikologis penting di angka 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi mata uang Garuda yang kian melemah ini mencerminkan kegelisahan pasar global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pada perdagangan Kamis (9/7/2026), rupiah sempat menyentuh level 18.091 per dolar AS pada pukul 10.30 WIB. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif pada hari sebelumnya, di mana rupiah ditutup di level 18.014 per dolar AS, turun signifikan dari posisi hari sebelumnya di kisaran 17.980. Data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mengonfirmasi penurunan ini, yang menandakan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik bersifat sistemik dan meluas di kawasan Asia.

Dominasi Dolar AS dan Gejolak Geopolitik

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak terjadi secara terisolasi. Seluruh mata uang di kawasan Asia turut merasakan tekanan serupa akibat penguatan dolar AS yang tajam. Faktor utama di balik volatilitas ini adalah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Komando Pusat AS (Centcom) dilaporkan telah meluncurkan serangkaian serangan terhadap Iran sebagai pembalasan atas insiden pelayaran komersial. Ketegangan ini memuncak di Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling strategis di dunia. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global kini membayangi pasar keuangan internasional. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan AS yang mencabut konsesi penjualan minyak Iran, yang diprediksi akan membuat pasokan minyak dunia semakin ketat dalam jangka pendek.

Faktor Domestik dan Kebijakan Suku Bunga

Selain tekanan dari eksternal, kondisi fiskal dalam negeri juga menjadi sorotan pelaku pasar. Hingga Semester I-2026, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat melebar mencapai Rp 196,5 triliun, atau setara dengan 0,76 persen dari PDB. Peningkatan defisit ini memberikan sentimen negatif tambahan bagi investor yang memantau stabilitas ekonomi Indonesia.

🔖 Baca juga:
Dissenting Opinion Hakim Andi Saputra: Keberanian Eks Jurnalis di Balik Vonis Nadiem Makarim

Pasar saat ini juga tengah dalam mode waspada menanti risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Amerika Serikat. Investor mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 5,5 basis poin ke level 4,525 persen semakin memperkuat posisi dolar AS, sementara peluang kenaikan suku bunga di bulan September kini diperkirakan mendekati 60 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.

Proyeksi Pasar ke Depan

Volatilitas diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan. Secara teknis, pergerakan mata uang Garuda diprediksi akan terus fluktuatif di kisaran 18.010 hingga 18.060 per dolar AS. Ketidakpastian mengenai keberlanjutan perundingan damai antara AS dan Iran, ditambah dengan rilis data notulen rapat FOMC, akan menjadi katalis utama yang menentukan arah pasar keuangan dalam jangka pendek.

Sebagai langkah mitigasi, pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik serta data ekonomi AS. Ketegangan yang belum mereda di Timur Tengah berpotensi terus menekan harga komoditas dan memicu aksi jual pada mata uang berisiko, termasuk rupiah. Stabilitas fiskal domestik akan menjadi kunci bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk meredam dampak eksternal yang lebih dalam terhadap nilai tukar di masa mendatang.

Post Comment