Sekolapedia – 09 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat dalam perdagangan mata uang global. Pada Kamis (9/7/2026), mata uang Garuda terpantau melemah hingga mendekati level psikologis Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen penguatan dolar AS yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia, mencerminkan ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan internasional.
Data perdagangan mencatat rupiah sempat dibuka melemah 52 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp18.066 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp18.014. Memasuki pukul 10.30 WIB, tren pelemahan berlanjut dengan kurs rupiah bertengger di kisaran Rp18.091,70 per dolar AS. Fenomena ini tidak dialami sendirian oleh Indonesia; mata uang lain di Asia seperti Baht Thailand juga tercatat melemah sekitar 0,1 persen, sementara dolar Singapura cenderung bergerak stabil.
Di tengah situasi pasar yang fluktuatif, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons singkat saat dimintai keterangan terkait kondisi rupiah yang menembus level Rp18.000. Saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Purbaya menegaskan bahwa otoritas moneter memiliki peran utama dalam menangani stabilitas nilai tukar. “Oh itu tanyakan ke bank sentral kita lah. Saya pikir bank sentral mengerti lah,” ujar Purbaya dengan nada irit bicara.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa pergerakan nilai tukar rupiah ke depan masih akan sangat fluktuatif. Ia memperkirakan rupiah berpotensi ditutup pada kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS. Menurut Ibrahim, terdapat beberapa sentimen utama yang menjadi penentu arah pergerakan pasar saat ini, yaitu:
- Kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang terus dicermati pelaku pasar.
- Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu sikap kehati-hatian investor global.
- Pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat yang memengaruhi aliran modal masuk ke aset dolar AS.
Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (8/7/2026), rupiah telah ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp18.014 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia juga mengonfirmasi tren serupa, di mana posisi rupiah melemah ke level Rp18.005 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya. Penguatan dolar AS sendiri didorong oleh tingginya permintaan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah yang menembus angka Rp18.000 merupakan indikasi kuat dari tingginya tekanan eksternal yang dihadapi pasar keuangan domestik. Meskipun pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyerahkan otoritas penanganan moneter sepenuhnya kepada Bank Indonesia, sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter tetap menjadi kunci utama dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah gejolak global. Pelaku pasar kini menanti langkah strategis dari otoritas terkait untuk meredam volatilitas dan menjaga stabilitas mata uang dalam jangka pendek.
Post Comment