Sekolapedia – 24 Juli 2026 | Dalam realitas penegakan hukum modern, situasi sering kali berada di ambang batas kritis di mana para korban yang mencari keadilan merasa seolah-olah waktu telah habis, seakan-akan mereka menghadapi sebuah situasi darurat dengan prinsip no time to die demi memperjuangkan hak asasi manusia. Berbagai kasus kematian dalam tahanan, baik di bawah pengawasan lembaga imigrasi maupun kepolisian domestik, memicu gelombang kemarahan global dan tuntutan pertanggungjawaban yang masif dari publik serta pemerintah asing.
Pemerintah Meksiko secara resmi telah mengajukan tuntutan pidana terkait kematian 17 warga negaranya yang tewas dalam tahanan Immigration and Customs Enforcement (ICE) atau selama operasi penegakan hukum pemerintahan Trump. Salah satu kasus yang paling disorot adalah insiden penembakan Silverio Villegas-Gonzalez di Franklin Park tahun lalu. Meskipun Departemen Keamanan Dalam Negeri berdalih bahwa agen terpaksa bertindak karena korban mencoba melarikan diri dan menabrakkan mobil, hasil autopsi menunjukkan bahwa korban ditembak di bagian leher dari jarak dekat. Kasus ini mencerminkan betapa rentannya para imigran di tengah operasi ketat yang menyisakan no time to die bagi mereka untuk membela diri di hadapan hukum secara layak.
Ketegangan serupa juga terjadi di tingkat domestik Amerika Serikat, menyusul kematian Lloyd Gilmore di dalam tahanan kepolisian Sikeston, Missouri. Gilmore tewas setelah mengalami syok akibat penggunaan Taser dan pengekangan fisik yang agresif oleh tujuh petugas kepolisian. Ia awalnya mendatangi kantor polisi untuk meminta bantuan karena masalah kesehatan mental yang dihadapinya. Keluarga dan warga setempat, terutama komunitas kulit hitam, menyuarakan kemarahan atas insiden ini di tengah sejarah panjang ketegangan rasial. Mereka menegaskan bahwa bagi banyak korban kekerasan aparat, situasi penahanan sering kali menjadi ruang tanpa ampun dengan prinsip no time to die yang merenggut nyawa warga sipil secara tidak wajar.
Tidak hanya di Amerika Serikat, krisis kepercayaan terhadap institusi perlindungan juga melanda Kanada. Penyelidikan mendalam mengungkapkan bahwa tiga anak meninggal dunia dalam kurun waktu satu bulan pada bulan Maret lalu di bawah perawatan agensi perlindungan anak anglophone di Montreal, Batshaw Youth and Family Centres. Para pekerja sosial menyatakan bahwa kekurangan staf, minimnya anggaran, dan tingginya tingkat perpindahan pegawai telah menurunkan standar kualitas pengawasan secara drastis. Situasi darurat di sektor perlindungan anak ini menunjukkan bahwa sistem birokrasi kerap kali gagal memberikan perlindungan tepat waktu, seolah membiarkan anak-anak rentan berada dalam kondisi darurat no time to die tanpa intervensi yang memadai dari negara.
Menghadapi berbagai krisis hilangnya nyawa di tangan atau di bawah pengawasan institusi resmi ini, desakan agar transparansi dan akuntabilitas ditegakkan semakin nyaring terdengar. Publik di berbagai belahan dunia mendesak reformasi total terhadap sistem penegakan hukum, lembaga imigrasi, hingga layanan kesejahteraan sosial agar kejadian serupa tidak terus berulang. Keadilan bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan harus menjadi prioritas utama lembaga pemerintah tanpa ada upaya menutup-nutupi kesalahan prosedural.
Post Comment