Sekolapedia – 21 Juli 2026 | Menjelang perhelatan akbar muktamar nahdlatul ulama ke-35 yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada akhir Agustus 2026, atmosfer di lingkungan internal organisasi mulai menghangat. Ribuan warga nahdliyin dari berbagai penjuru tanah air diproyeksikan akan memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan suksesi kepemimpinan dan merumuskan arah masa depan jam’iyah.
Sebagai tuan rumah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum menegaskan komitmen penuh untuk menjaga netralitas selama prosesi berlangsung. Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh, menyatakan bahwa fokus utama pihak pesantren adalah memberikan pelayanan terbaik bagi para tamu (ikromud duyuf). Tidak ada keberpihakan kepada kandidat tertentu, karena tanggung jawab utama adalah memastikan kenyamanan bagi seluruh muktamirin yang hadir.
Persiapan teknis pun terus dimatangkan. Mengingat antusiasme yang tinggi, panitia memproyeksikan kehadiran sekitar 200 ribu pengunjung. Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, sejumlah fasilitas penginapan telah disiapkan, tersebar di berbagai kompleks pendidikan seperti MA Unggulan Bahrul Ulum, Universitas Wahab Hasbullah (Unwaha), hingga IAIBAFA. Selain itu, fasilitas pendukung seperti dapur umum dan bazar UMKM juga telah disiapkan untuk melayani kebutuhan peserta selama agenda muktamar nahdlatul ulama berlangsung.
Di sisi lain, dinamika bursa calon Ketua Umum PBNU mulai mencuat. Nama Menteri Haji, KH Dr. Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan, kini banyak disebut oleh akar rumput sebagai figur yang diharapkan memimpin PBNU ke depan. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, KH Zainul Ibad Wijaya As’ad, mengungkapkan bahwa dorongan tersebut murni merupakan aspirasi dari para kiai, santri, dan warga nahdliyin yang menginginkan kepemimpinan baru yang segar, bukan atas permintaan pribadi Gus Irfan sendiri.
Di tengah perdebatan bursa pimpinan, muncul pula gagasan menarik dari berbagai kalangan pegiat media agar gelaran muktamar nahdlatul ulama tidak hanya berfokus pada perebutan kursi pimpinan. ET Hadi Saputra, seorang pegiat media, menekankan pentingnya mengangkat isu-isu substantif dalam peliputan, seperti penguatan ekonomi warga, kemandirian jam’iyah, dakwah di era disrupsi digital, hingga penguatan khittah organisasi. Harapannya, media dapat membedah secara mendalam bagaimana NU merespons tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi.
Pada akhirnya, kekuatan Nahdlatul Ulama terletak pada apa yang disebut sebagai imunitas ruhani. Kekuatan batin yang terbentuk dari tradisi pesantren, tahlil, istighatsah, dan pengabdian tanpa pamrih inilah yang menjaga NU tetap utuh melampaui berbagai perubahan zaman. Muktamar ini diharapkan menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen keumatan dan kebangsaan, di mana keputusan-keputusan strategis yang lahir nantinya dapat menjawab tantangan nyata yang dihadapi warga nahdliyin di masa depan.
Post Comment