Bagi para pencinta sepak bola Eropa, nama Axel Witsel tentu sudah tidak asing lagi. Pemain asal Belgia dengan gaya rambut kribo yang khas ini dikenal sebagai salah satu gelandang bertahan paling konsisten di generasinya. Kemampuannya menjaga ritme permainan, ketenangan dalam menguasai bola, serta transformasi taktisnya menjadi bek tengah tangguh di Atletico Madrid selalu mengundang decak kagum.
Namun, di balik karier sepak bolanya yang gemilang dan durasi jam terbangnya yang sangat panjang di level tertinggi, ada banyak sisi lain dari kehidupan Witsel yang luput dari sorotan kamera media utama. Mulai dari latar belakang keluarganya yang unik, pilihan kariernya yang tidak biasa, hingga rahasia di balik selebrasi ikoniknya.
Berikut adalah 5 fakta menarik tentang Axel Witsel yang jarang diketahui oleh sebagian besar fans sepak bola.
1. Memiliki Darah Karibia dari Sang Ayah
Meskipun lahir dan besar di kota Liège, Belgia, Axel Witsel ternyata memiliki latar belakang budaya yang sangat kaya dan eksotis. Ia mewarisi darah campuran yang berasal dari benua yang berbeda.
Ibunya, Sylvie Witsel, adalah seorang wanita asli Belgia. Sementara sang ayah, Thierry Witsel, merupakan pria keturunan Martinik, sebuah pulau kecil yang terletak di Kepulauan Karibia dan merupakan wilayah seberang laut Prancis. Latar belakang multikultural ini membentuk kepribadian Witsel yang tenang namun hangat. Darah Karibia dari sang ayah juga menjadi salah satu alasan di balik struktur rambut ikal alaminya yang kemudian ia biarkan tumbuh menjadi gaya rambut afro atau kribo ikonik sepanjang karier profesionalnya.
2. Arti di Balik Selebrasi Gol “Burung Terbang”
Setiap kali Axel Witsel berhasil mencatatkan namanya di papan skor, ia hampir selalu merayakannya dengan gestur yang sangat spesifik. Ia akan menyilangkan kedua pergelangan tangannya di depan dada, mengepakkan jari-jarinya, dan meniru gerakan seekor burung yang sedang terbang.
Banyak fans mengira selebrasi ini hanyalah gerakan spontan tanpa makna. Namun, dalam sebuah wawancara, Witsel mengungkapkan bahwa gestur tersebut adalah penghormatan khusus kepada salah satu striker legendaris Prancis, Nicolas Anelka.
“Saat saya masih muda, saya sangat mengagumi Nicolas Anelka. Dia sering melakukan selebrasi burung terbang itu setelah mencetak gol. Saya berjanji pada diri sendiri untuk menirunya, dan itu melekat pada saya hingga hari ini sebagai simbol kebebasan dan rasa syukur,” ujar Witsel.
3. Sang Ayah Adalah Mantan Pesepak Bola dan Politikus
Bakat sepak bola yang mengalir dalam tubuh Axel Witsel tidak datang begitu saja. Sang ayah, Thierry Witsel, adalah sosok yang mengenalkannya pada dunia si kulit bundar sejak usia dini. Thierry merupakan mantan pesepak bola di level amatir dan regional Belgia yang kemudian mendedikasikan hidupnya sebagai pelatih sepak bola usia muda.
Tidak berhenti di dunia olahraga, ayah Axel Witsel juga memiliki karier yang sangat dihormati di dunia politik Belgia. Thierry Witsel terlibat aktif dalam kegiatan sosial dan terpilih sebagai anggota parlemen regional di Wallonia (wilayah berbahasa Prancis di Belgia). Pengaruh kedisiplinan dari sang ayah di bidang olahraga dan integritas di bidang sosial dinilai menjadi alasan mengapa Axel Witsel tumbuh menjadi sosok pemain yang sangat profesional, ramah, dan jauh dari gosip miring di luar lapangan.
4. Keberanian Mengambil Jalur Karier Non-Konvensional
Ketika seorang pemain muda Eropa mulai bersinar di klub top seperti Benfica, langkah logis berikutnya bagi sebagian besar pemain adalah pindah ke klub raksasa Liga Inggris (Premier League) atau Liga Italia (Serie A). Namun, Axel Witsel berulang kali mengejutkan publik dengan mengambil keputusan transfer yang tidak biasa (non-konvensional).
- Pindah ke Rusia di Masa Keemasan: Pada tahun 2012, di usia 23 tahun yang merupakan usia emas, Witsel memilih untuk menerima pinangan klub Rusia, Zenit Saint Petersburg, dengan nilai transfer fantastis €40 juta. Banyak yang mengkritik keputusannya dan menganggap kariernya akan meredup, namun Witsel justru berhasil memenangkan berbagai trofi domestik di Rusia dan tetap menjadi pilihan utama di timnas Belgia.
- Petualangan ke Liga Tiongkok: Pada awal tahun 2017, saat kontraknya di Zenit habis dan ia gencar didekati oleh Juventus, Witsel kembali membuat kejutan dengan memilih bergabung ke klub China Super League, Tianjin Quanjian.
Meskipun sering dituduh mata duitan oleh kritikus, Witsel membuktikan bahwa pilihan kariernya tidak menurunkan kualitas bermainnya. Terbukti setelah dari Tiongkok, ia kembali ke Eropa dan langsung menjadi pilar tak tergantikan di Borussia Dortmund serta Atletico Madrid.
5. Menguasai Banyak Bahasa secara Fasih (Polyglot)
Tinggal dan berkarier di berbagai negara yang memiliki kultur berbeda membuat Axel Witsel secara alami mengasah kemampuan linguistiknya. Witsel dikenal sebagai salah satu pesepak bola polyglot atau orang yang menguasai banyak bahasa secara fasih di ruang ganti.
Bahasa ibu Witsel adalah Prancis, mengingat ia lahir di wilayah Wallonia, Belgia. Namun, ia juga menguasai bahasa Belanda (Flemish) dengan sangat baik. Selama setahun membela Benfica, ia mempelajari bahasa Portugis. Empat tahun berkarier di Rusia membuatnya mampu memahami bahasa Rusia dasar. Ditambah lagi dengan kemampuannya berbahasa Inggris untuk komunikasi internasional, serta bahasa Spanyol yang kini ia gunakan sehari-hari di Madrid. Kemampuan multibahasa ini menjadikannya sosok komunikator yang hebat dan jembatan pemersatu bagi para pemain asing di setiap klub yang ia bela.
Kesimpulan
Axel Witsel adalah contoh nyata bahwa seorang pesepak bola modern bisa memiliki kehidupan yang kaya akan warna, budaya, dan pengalaman di luar apa yang terlihat di lapangan hijau selama 90 menit. Latar belakang keluarga campuran Karibia-Belgia, kecerdasan linguistik, hingga keberaniannya keluar dari zona nyaman kompetisi tradisional Eropa membentuknya menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, dan dihormati oleh kawan maupun lawan.
penulis: Anisa Ramadani
Post Comment