Rusia Tegaskan Solusi Krisis Nuklir Harus Hormati Kepentingan Iran

Daftar Isi

Sekolapedia – 23 Mei 2026 | Rusia melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Maria Zakharova, menyatakan bahwa krisis yang direkayasa Amerika Serikat (AS) seputar isu nuklir Iran hanya dapat diselesaikan melalui jalur diplomatik.

Moskow menekankan bahwa penyelesaian konflik ini wajib mempertimbangkan kepentingan Teheran, terlebih menyusul kegagalan agresi AS dan Israel baru-baru ini.

Zakharova dalam sebuah konferensi pers di Moskow pada hari Kamis waktu setempat, menyebutkan bahwa "Masalah nuklir Iran hanya dapat diselesaikan melalui cara politik dan diplomatik, berdasarkan hukum internasional dan dengan memperhatikan kepentingan Iran".

Juru bicara Rusia tersebut kemudian menegaskan kembali posisi prinsipil Moskow mengenai hak kedaulatan Iran. Ia menyebut Iran memiliki hak yang tidak dapat dicabut untuk mengembangkan program nuklir damai, yang sepenuhnya sejalan dengan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT).

🔖 Baca juga:
Kejar-kejaran Gol! Ini Jajaran Striker Paling Tajam di Piala Dunia 2026

Terkait perundingan tidak langsung antara Iran dan AS, Zakharova menekankan bahwa nasib cadangan uranium Iran murni berada di tangan negara tersebut. "Hanya rakyat Iran yang dapat memutuskan bagaimana menggunakan hak ini, termasuk dalam konteks pengayaan uranium dan material nuklir yang mereka miliki", tegas Zakharova.

Meski demikian, Zakharova menyatakan bahwa Moskow bersedia menjembatani negosiasi tidak langsung antara Teheran dan Washington. Rusia mengeklaim sepenuhnya siap membantu Iran dan AS dalam mengimplementasikan keputusan apa pun terkait penyelesaian uranium yang diperkaya, apabila kesepakatan berhasil dicapai selama perundingan.

Krisis di Timur Tengah

Sementara itu, di bagian lain, krisis di Timur Tengah memicu penutupan Selat Hormuz, yang mempengaruhi pasokan minyak dan energi. Hal ini memaksa Jepang untuk mengambil langkah darurat dengan mengalokasikan dana cadangan sebesar 500 miliar yen untuk mensubsidi tagihan listrik dan gas rumah tangga pada musim panas ini.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menolak seruan agar masyarakat mengurangi penggunaan energi. Ia menegaskan bahwa aktivitas ekonomi dan sosial tidak boleh terganggu.

Sebagai kontras, Korea Selatan telah mendesak warganya menghemat energi, dan Malaysia mulai mempromosikan kebijakan work from home demi menekan konsumsi bahan bakar.

Rusia juga membantah laporan yang menyebut militer Tiongkok secara diam-diam melatih sekitar 200 tentara Rusia di wilayah Tiongkok pada akhir tahun lalu, sebelum sebagian dari mereka dikirim bertempur di Ukraina.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa banyak informasi palsu dipublikasikan media di Eropa maupun Amerika Serikat. "Banyak informasi palsu diterbitkan surat kabar di Eropa dan AS. Ini adalah masalah yang kami hadapi, dan informasi palsu seperti itu harus disikapi dengan hati-hati", kata Peskov.

Perundingan antara Rusia dan AS soal Perang Ukraina berakhir setelah 12 jam. Namun, detail perundingan tersebut belum diketahui secara pasti.

Untuk menghadapi krisis energi, Jepang berencana untuk meningkatkan subsidi energi, yang dimulai sejak perang Rusia-Ukraina, hampir dua kali lipat tahun ini demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat Jepang.

Di akhir, krisis nuklir Iran dan krisis di Timur Tengah masih menjadi isu yang sangat genting dan memerlukan penyelesaian yang tepat dan bijak dari semua pihak yang terkait.

Post Comment