Hutan Rusak, Manusia Terancam: Mengapa Perspektif Perempuan Kunci Liputan Lingkungan

Sekolapedia – 24 April 2026 | Perubahan iklim dan degradasi hutan menuntut cara pandang yang lebih inklusif dalam pemberitaan lingkungan. Di Indonesia, suara perempuan kini menjadi faktor penentu dalam upaya pelestarian alam, baik dari dapur rumah tangga hingga patroli hutan. Kutipan “Hutan adalah mama, hutan rusak maka manusia juga rusak” menggema sebagai pengingat akan keterkaitan erat antara kesehatan hutan dan kesejahteraan manusia.

Perempuan di Garis Depan Hutan Sumbar

Di Sumatera Barat, perempuan telah memimpin inisiatif perhutanan sosial yang memadukan konservasi dengan pemberdayaan ekonomi. Kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS) seperti Bangkik Basamo di Nagari Alahan Mati, Kabupaten Pasaman, mengelola hasil hutan non‑kayu—rotan, bambu, dan sumber air bersih—sementara menjaga kelestarian ekosistem. Begitu pula Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Kurai di Kabupaten Lima Puluh Kota, di mana para anggota patroli, termasuk Riza Yunita, melakukan pemetaan digital untuk memantau kondisi hutan.

Patroli hutan tidak sekadar menegakkan aturan, melainkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekitar. Perempuan yang terlibat mencatat data potensi sumber daya alam, mengidentifikasi titik rawan pembalakan ilegal, serta menyebarkan pengetahuan tentang pentingnya menjaga tanah dan air. Keterlibatan mereka meningkatkan akurasi data lapangan dan memperkuat jaringan pengawasan berbasis komunitas.

  • Pengelolaan hasil non‑kayu meningkatkan pendapatan keluarga.
  • Patroli digital meningkatkan efektivitas deteksi ancaman.
  • Kepemimpinan perempuan menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif.

Urban Farming: Inisiatif BRI untuk Pemberdayaan Perempuan

Di tingkat nasional, Bank Rakyat Indonesia (BRI) meluncurkan program BRInita (BRI Bertani di Kota) yang menargetkan perempuan sebagai agen utama ketahanan pangan kota. Program ini menyediakan fasilitas urban farming seperti greenhouse, vertikultur, hidroponik, dan wall gardening. Dengan lahan terbatas, metode vertikultur memanfaatkan paralon atau botol bekas untuk menanam secara bertingkat, sementara hidroponik mengurangi kebutuhan tanah dengan mengandalkan air dan nutrisi terkontrol.

BRInita tidak hanya menyediakan infrastruktur, melainkan juga pelatihan teknis, pendampingan ahli, dan monitoring hasil produksi. Perempuan peserta dapat mengolah sayuran, buah, dan tanaman obat yang kemudian dijual di pasar lokal, meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga. Program ini selaras dengan tujuan nasional untuk mengelola 8,33 juta hektar hutan melalui perhutanan sosial hingga 2026, sekaligus memperkuat partisipasi perempuan dalam agenda aksi iklim.

🔖 Baca juga:
10 Contoh Soal Siswa Peserta Didik Lulusan (SPLDV) dan Jawabannya: Panduan Lengkap untuk Membantu Anda!
  • Fasilitas greenhouse mendukung produksi sepanjang tahun.
  • Vertikultur memaksimalkan ruang di lingkungan perkotaan.
  • Hidroponik mengurangi penggunaan air hingga 90% dibandingkan pertanian tradisional.

Sinergi antara Kearifan Lokal dan Inovasi Modern

Kolaborasi antara komunitas perempuan di Sumbar dan program korporasi seperti BRInita menunjukkan bahwa perspektif perempuan dapat menjembatani kearifan lokal dengan teknologi modern. Forum “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim” yang diselenggarakan oleh The Asia Foundation bersama Qbar Indonesia Madani dan CAEJ di Universitas Andalas menegaskan pentingnya ruang dialog lintas sektor. Lebih dari seratus peserta—akademisi, pejabat, dan aktivis—berbagi praktik terbaik, memperkuat jaringan pengetahuan, dan menegaskan peran perempuan dalam pembuatan kebijakan lingkungan.

Pengalaman perempuan dalam mengelola hutan, memantau sumber daya air, serta mengembangkan pertanian perkotaan memberi sudut pandang yang holistik. Mereka tidak hanya melihat dampak ekologis, melainkan juga implikasi sosial‑ekonomi yang memengaruhi kesejahteraan keluarga. Dengan menempatkan perspektif perempuan di pusat pemberitaan, media dapat menyoroti solusi‑solusi berbasis komunitas yang selama ini terabaikan.

Penguatan suara perempuan dalam liputan lingkungan tidak hanya meningkatkan kualitas informasi, melainkan juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga bumi. Ketika hutan diperlakukan sebagai “mama” yang harus dilindungi, setiap langkah perempuan—dari dapur hingga patroli hutan—menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan alam bagi generasi mendatang.

Post Comment