Siapa nih yang jujur, pas lagi rakaat kedua atau ketiga Tarawih, matanya sudah mulai “sayu” dan kepala sudah mulai manggut-manggut? Tenang, kamu tidak sendirian. Fenomena kantuk massal saat Tarawih itu memang jadi “musuh bebuyutan” hampir semua orang saat bulan Ramadan. Rasanya baru saja baca surat Al-Fatihah, tiba-tiba sudah mau terjungkal karena mata tidak kuat menahan beban berat.
Padahal, salat Tarawih itu momen yang luar biasa buat meningkatkan kualitas ibadah kita di bulan yang suci ini. Masa iya, ibadah yang cuma datang setahun sekali ini harus dilewati dengan perjuangan menahan kantuk yang menyiksa? Nah, sebelum kita menyalahkan imam yang mungkin bacanya terlalu panjang atau suhu masjid yang terlalu sejuk, yuk kita bedah dulu apa sih sebenarnya penyebab kantuk itu datang, dan gimana cara “mengusirnya” biar Tarawih kita tetap khusyuk dan paripurna.
Kenapa Sih Mata Selalu Jadi “Pemberontak” Saat Tarawih?
Menurut dr. Yuhana Fitra, SpPD, seorang spesialis penyakit dalam, kantuk yang menyerang saat Tarawih itu bukan fenomena mistis, melainkan murni respons biologis tubuh kita sendiri. Ada dua tersangka utama di sini: pola makan saat berbuka dan perubahan ritme tidur.
1. “Balas Dendam” Saat Berbuka: Perut Kenyang, Mata Menyerah
Bayangkan, seharian penuh tubuh kita “puasa” dari asupan kalori. Begitu bedug Maghrib bunyi, apa yang biasanya kita lakukan? Biasanya kita langsung menyerbu meja makan dengan semangat “45”. Kolak pisang, cendol, es campur, bakwan, risol, gorengan yang masih hangat, belum lagi teh manis yang gulanya lumayan banyak.
Baca Juga : Mudik Asyik ke Pulau Seribu: Pemprov DKI Jakarta Bagi-Bagi Tiket Kapal Gratis buat Lebaran 2026!
Baca juga:Jam-jam “Sakti” untuk War Tiket Mudik Gratis Kemenhub 2026
Kelihatannya memang memuaskan, tapi secara medis, ini adalah “bencana” buat sistem pencernaanmu. Saat kamu memasukkan makanan dalam jumlah besar secara sekaligus, sistem pencernaanmu langsung kerja rodi. Tubuh pun akhirnya memfokuskan sebagian besar energi untuk mencerna makanan tersebut. Akibatnya? Energi yang harusnya dipakai buat aktivitas lain—seperti salat Tarawih—malah “disita” oleh perut yang sedang sibuk mencerna gorengan dan karbohidrat kompleks tadi.
Konsumsi karbohidrat berlebih secara sekaligus inilah yang memicu rasa kantuk hebat. Tubuhmu seolah memberi sinyal, “Duh, ini perut lagi penuh banget, mendingan tidur saja deh biar enak!” Itulah kenapa Tarawih setelah makan besar sering berakhir dengan kita cuma duduk-duduk saja sambil berusaha menjaga kesadaran.
2. Akumulasi Kurang Tidur: “Jetlag” Ramadan
Selain urusan perut, ada faktor yang tidak kalah krusial, yaitu perubahan pola tidur. Coba bayangkan jadwal harianmu:
- Bangun sekitar jam 3 pagi untuk sahur.
- Salat Subuh.
- Berangkat kerja atau sekolah.
- Kerja seharian penuh tanpa sempat tidur siang karena jadwal padat.
- Pulang sore, lanjut buka puasa.
- Langsung lanjut Tarawih.
Dalam siklus ini, tubuhmu tidak pernah dapat kesempatan buat “recharge” atau mengisi daya. Kalau kamu terbiasa tidur larut malam karena alasan tertentu, maka akumulasi kurang tidur ini akan mencapai puncaknya persis saat kamu berdiri di saf masjid untuk Tarawih. Itu bukan salah kamu, itu adalah jeritan tubuhmu yang bilang kalau dia sudah sangat kelelahan!
Trik Jitu Biar Tarawih Anti-Manggut-Manggut
Perubahan pola makan dan ritme hidup saat Ramadan memang menantang. Tapi, dr. Yuhana menekankan bahwa ini adalah masalah adaptasi. Kalau kamu tahu kuncinya, kamu pasti bisa melalui masa transisi ini dengan sukses. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kamu coba:
Baca Juga : Mahasiswa Pendidikan Olahraga Teknokrat Kampus Terbaik di Lampung Raih Perak Fighter of Road to PON Beladiri 2025
A. Atur Strategi Buka Puasa (Jangan Kalap!)
Rahasia utama biar tidak ngantuk saat Tarawih adalah mengatur asupan saat buka puasa.
- Prinsip “Takjil Dulu, Baru Makan Besar”: Batalkan puasa dengan yang manis alami seperti kurma atau buah-buahan. Minum air putih yang cukup. Lalu, salat Maghrib dulu.
- Jeda Makan Berat: Setelah salat Maghrib, silakan makan porsi utama, tapi jangan sampai kekenyangan. Ingat, targetnya adalah memberikan energi secukupnya, bukan membuat perut jadi “kapal pecah”.
- Batasi Karbohidrat Sederhana: Kurangi konsumsi minuman manis yang terlalu pekat atau gorengan yang berlebihan karena lonjakan gula darah yang drastis justru akan membuatmu cepat drop dan mengantuk setelahnya.
B. Ciptakan Jeda Istirahat yang Berkualitas
Kalau memungkinkan, curi waktu buat tidur siang barang 20-30 menit (power nap). Tidur siang singkat ini terbukti ampuh buat menyegarkan kembali otak dan meningkatkan kewaspadaan. Kalau di kantor tidak bisa, setidaknya pastikan kamu tidak begadang setelah Tarawih. Begitu sampai rumah, kalau memang sudah mengantuk, lebih baik istirahat daripada main gadget sampai larut malam.
C. Hidrasi yang Cerdas
Kurang minum air putih juga bisa bikin badan lemas dan gampang lelah. Pastikan kebutuhan cairan (minimal 2 liter per hari) terpenuhi dengan membagi jadwal minum: dua gelas saat berbuka, dua gelas saat makan malam, dua gelas sebelum tidur, dan dua gelas saat sahur. Hidrasi yang baik membantu metabolisme tubuh tetap lancar, sehingga kamu tidak mudah merasa “drop”.
D. Bergerak Sedikit Sebelum ke Masjid
Kalau kamu merasa sangat mengantuk sebelum ke masjid, coba lakukan peregangan ringan atau cuci muka dengan air yang sedikit dingin. Efek segarnya bisa membantu otak bangun kembali. Selain itu, berjalan kaki ke masjid (kalau jaraknya memungkinkan) bisa membantu proses pencernaan dan membuat tubuhmu lebih segar dibandingkan hanya duduk di dalam mobil atau motor.
Puasa: Bukan Penghalang, Tapi Peluang
Sebenarnya, dr. Yuhana Fitra juga mengingatkan bahwa bulan Ramadan ini justru bisa jadi momentum buat memperbaiki pola hidup. Bagi mereka yang punya masalah asam lambung, puasa yang dilakukan dengan benar justru bisa memberi jeda bagi lambung untuk beristirahat.
Jadi, jangan jadikan kantuk sebagai alasan untuk meninggalkan salat Tarawih. Tarawih bukan sekadar ibadah fisik, tapi juga investasi rohani yang sangat berharga. Kalau kamu merasa lelah, coba fokus pada bacaan imam atau resapi setiap gerakan salat. Seringkali, saat kita benar-benar khusyuk dan mencoba memahami apa yang dibaca imam, kantuk itu akan hilang dengan sendirinya karena pikiran kita aktif bekerja.
Kesimpulan: Kenali Tubuhmu, Atur Strategimu
Pada akhirnya, kunci biar tidak ngantuk saat Tarawih adalah mengenal bagaimana tubuhmu merespons makanan dan kurang tidur. Jangan biarkan “balas dendam” saat berbuka merusak kualitas ibadah malammu.
Ramadan adalah bulan untuk menahan hawa nafsu, dan menahan nafsu makan berlebihan saat berbuka adalah bagian dari latihan tersebut. Kalau perutmu terasa ringan, otakmu akan lebih tajam, dan salat Tarawihmu akan terasa jauh lebih damai dan khusyuk. Jadi, malam ini, cobalah untuk makan lebih terkontrol, jaga hidrasi, dan istirahat yang cukup. Siapa tahu, malam ini jadi pengalaman Tarawih terbaikmu selama bulan Ramadan!
Selamat menunaikan ibadah puasa dan jangan lupa, tetap jaga kesehatan ya! Jangan sampai karena terlalu semangat mengejar pahala, kita malah mengabaikan sinyal-sinyal kesehatan dari tubuh kita sendiri. Happy Tarawih, everyone!
Penulis : Reyfen



Post Comment