×

Shogakukan Umumkan Investigasi Internal Kasus Manga ONE

Raksasa penerbitan asal Jepang, Shogakukan, sedang jadi sorotan setelah munculnya skandal yang melibatkan tim editorial platform manga mereka, Manga ONE. Pihak perusahaan pun sudah merilis pernyataan resmi untuk menanggapi polemik ini.

Kontroversi bermula ketika tim editorial Manga ONE dituding memberikan izin kepada seorang komikus yang menggunakan nama samaran untuk menerbitkan karya baru. Belakangan terungkap bahwa komikus tersebut adalah Tatsuya Matsuki, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis manga Act-Age dan pernah tersandung kasus kejahatan seksual.

Shogakukan menyatakan telah melakukan investigasi internal setelah pemberitaan itu mencuat. Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa Miki Yatsunami—nama yang tercantum sebagai kreator manga Seisō no Shinri-shi di Manga ONE—ternyata merupakan nama pena dari Matsuki.

baca juga:Peringatan Nuzulul Qur’an 2026 Akan Digelar di Istana Negara

Sebagai informasi, Matsuki sempat ditangkap dan didakwa pada 2020 atas tuduhan melakukan tindakan tidak senonoh terhadap seorang siswi. Ia kemudian dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dengan masa percobaan, yang artinya ia tidak perlu menjalani hukuman tersebut selama berperilaku baik dalam periode yang ditentukan.

🔖 Baca juga:
Makanan untuk Energi Sepanjang Hari: Hindari Kelelahan

Untuk merespons situasi ini, Shogakukan membentuk tim eksternal. Tugasnya adalah menghentikan seluruh karya Matsuki di layanan Manga ONE, memeriksa editor yang terlibat, mencari tahu bagaimana situasi ini bisa terjadi, sekaligus menyusun rekomendasi agar kasus serupa tak terulang di kemudian hari.

Pihak editorial Manga ONE juga memaparkan kronologi bagaimana Miki Yatsunami bisa diangkat sebagai kreator Seisō no Shinri-shi. Semuanya disebut dilakukan dengan persetujuan dari pihak yang bersangkutan.

Kisahnya dimulai pada 29 Agustus 2024, ketika seorang editor Manga ONE menghubungi akun X yang menggunakan nama Tatsuya Matsuki. Sehari setelahnya, Matsuki mengirim email dan menyampaikan bahwa ia sedang menulis novel berjudul Yūsha Ikkō no Shinri Counselor. Novel itulah yang kemudian diadaptasi menjadi manga Seisō no Shinri-shi.

Dengan persetujuan pemimpin redaksi saat itu, pertemuan tatap muka pertama digelar di Tokyo pada 6 September 2024. Menurut pihak editorial, mereka sudah memastikan bahwa hukuman Matsuki telah selesai dan masa percobaannya juga berakhir.

Dalam pertemuan tersebut, Matsuki disebut menyampaikan penyesalan atas perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran soal penggunaan nama pena lamanya karena bisa memunculkan kembali kenangan buruk. Karena itu, nama Miki Yatsunami dipilih, dan menurut Shogakukan, keputusan tersebut juga mempertimbangkan perasaan para korban.

Setelah pertemuan, editor melaporkan hasilnya kepada pemimpin redaksi dan mendapatkan lampu hijau. Proses komunikasi untuk penerbitan karya pun berlanjut. Disebutkan bahwa hanya segelintir orang di departemen editorial yang mengetahui identitas asli Yatsunami.

Shogakukan juga menambahkan bahwa Matsuki telah menjalani konseling psikologis sejak insiden tersebut terjadi. Penanganan dan rehabilitasi mentalnya disebut berada di bawah pengawasan psikolog yang bertanggung jawab.

Situasi ini turut dijelaskan kepada ilustrator manga tersebut, Kaoru Yukihira. Ia diberi tahu tentang latar belakang Yatsunami/Matsuki serta risiko yang mungkin muncul jika identitas aslinya terungkap ke publik. Meski begitu, Yukihira tetap memilih untuk mengerjakan proyek tersebut.

Selain kasus ini, industri manga sebelumnya juga sempat diguncang perkara lain. Pada 2020, Pengadilan Distrik Sapporo memutuskan dalam kasus perdata bahwa seorang pria harus membayar ganti rugi sebesar 11 juta yen kepada seorang perempuan berusia 20-an yang mengaku berulang kali mengalami pelecehan seksual.

baca juga:Mahasiswa Pendidikan Olahraga Teknokrat Kampus Terbaik di Lampung Raih Perak Fighter of Road to PON Beladiri 2025

Pria tersebut diduga memperkosa dan memanfaatkan korban saat korban bersekolah di SMA jarak jauh di Sapporo, ketika pelaku masih menjadi guru di sana. Korban mengajukan gugatan perdata pada Juli 2022. Media lokal menyebut terdakwa bernama Shōichi Yamamoto, yang dikenal sebagai kreator seri manga Daten Sakusen.

Yamamoto mulai menerbitkan Daten Sakusen secara serial di Manga ONE pada Februari 2015. Namun, manga tersebut masuk masa hiatus pada Februari 2020 dan akhirnya dihapus dari platform itu pada Oktober 2022.

penulis:putra

Post Comment