×

Shogakukan Lakukan Investigasi Internal Terkait Kasus Manga ONE

Perusahaan penerbit besar asal Jepang, Shogakukan, sedang menjadi sorotan setelah muncul kontroversi yang melibatkan departemen editorial platform manga digital mereka, Manga ONE. Perusahaan tersebut pun telah mengeluarkan pernyataan resmi untuk menanggapi masalah yang berkembang.

Kontroversi ini muncul setelah tim editorial Manga ONE dituduh mengizinkan seorang komikus yang menggunakan nama samaran untuk menerbitkan manga baru. Belakangan diketahui bahwa komikus tersebut adalah Tatsuya Matsuki, penulis manga yang sebelumnya pernah terjerat kasus kejahatan seksual.

baca juga:Santai Tapi Sah: Panduan Lengkap Zakat Fitrah Biar Nggak Salah Langkah

Shogakukan kemudian mengumumkan bahwa mereka telah melakukan investigasi internal untuk menelusuri kasus ini. Dari hasil penyelidikan tersebut diketahui bahwa nama pena Miki Yatsunami, kreator manga Seisō no Shinri-shi yang terbit di Manga ONE, sebenarnya adalah Tatsuya Matsuki. Ia sebelumnya dikenal sebagai penulis manga populer Act-Age.

Sebagai informasi, Matsuki sempat ditangkap dan didakwa pada tahun 2020 atas tuduhan melakukan tindakan tidak senonoh terhadap seorang siswi.

🔖 Baca juga:
Cara Mengqodho dan Menjamak Sholat: Panduan Dzuhur & Ashar bagi Musafir

Shogakukan Bentuk Tim Eksternal

Untuk menangani masalah ini, Shogakukan membentuk tim eksternal yang bertugas mengevaluasi dan menghentikan karya-karya Matsuki yang ada di layanan Manga ONE. Tim tersebut juga memeriksa keterlibatan para editor, menyelidiki penyebab terjadinya kasus ini, serta menyusun rekomendasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Departemen editorial Manga ONE juga menjelaskan bagaimana proses pengangkatan Miki Yatsunami sebagai kreator manga Seisō no Shinri-shi. Proses tersebut disebut dilakukan dengan persetujuan dari pihak yang bersangkutan.

Menurut penjelasan mereka, pada 29 Agustus 2024 seorang editor Manga ONE menghubungi akun X yang menggunakan nama Tatsuya Matsuki. Sehari setelahnya, Matsuki mengirimkan email kepada editor tersebut dan menyampaikan bahwa ia sedang menulis novel berjudul Yūsha Ikkō no Shinri Counselor. Karya itu kemudian dikembangkan menjadi manga Seisō no Shinri-shi.

Pertemuan dengan Editor di Tokyo

Dengan persetujuan pemimpin redaksi saat itu, editor akhirnya mengadakan pertemuan langsung dengan Matsuki di Tokyo pada 6 September 2024.

Dalam proses tersebut, pihak editorial menyatakan bahwa mereka telah memastikan hukuman Matsuki telah selesai dijalani dan masa percobaannya juga sudah berakhir.

Matsuki disebut menyampaikan penyesalan atas kejadian di masa lalu serta berjanji untuk tidak mengulanginya. Ia sebelumnya dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, namun tidak harus menjalani hukuman tersebut selama tiga tahun jika berperilaku baik selama masa percobaan.

Matsuki juga mengungkapkan kekhawatirannya jika menggunakan nama penanya yang lama karena hal itu dapat kembali mengingatkan publik pada kasus yang pernah terjadi. Oleh karena itu, nama pena Miki Yatsunami dipilih, yang menurut Shogakukan juga mempertimbangkan perasaan para korban.

Setelah pertemuan tersebut, editor melaporkan hasil diskusi kepada pemimpin redaksi dan mendapatkan persetujuan untuk melanjutkan proyek tersebut. Yatsunami kemudian mulai berkomunikasi dengan editor untuk menerbitkan karyanya di Manga ONE. Saat itu hanya segelintir orang di departemen editorial yang mengetahui identitas asli Yatsunami.

Proses Konseling Psikologis

Shogakukan juga menyebut bahwa Matsuki telah menjalani konseling psikologis sejak kasus tersebut terjadi. Psikolog yang menanganinya disebut telah menentukan program perawatan serta rehabilitasi mental yang dijalani oleh Matsuki.

Selain itu, pihak penerbit juga menjelaskan bahwa identitas asli Yatsunami telah diberitahukan kepada ilustrator manga tersebut, Kaoru Yukihira. Yukihira juga diberi penjelasan mengenai potensi risiko jika identitas tersebut suatu saat diketahui publik. Meski begitu, ia tetap memutuskan untuk melanjutkan pengerjaan manga tersebut.

Kasus Serupa di Industri Manga

Kasus ini kembali mengingatkan pada peristiwa lain di industri manga Jepang. Pada tahun 2020, Pengadilan Distrik Sapporo memutuskan dalam sebuah perkara perdata bahwa seorang pria harus membayar ganti rugi sebesar 11 juta yen kepada seorang wanita berusia 20-an yang mengaku mengalami pelecehan seksual berulang kali.

Pria tersebut diduga memperkosa korban ketika korban masih bersekolah di SMA jarak jauh di Sapporo dan pelaku masih bekerja sebagai guru di sekolah tersebut.

Menurut laporan media lokal, terdakwa bernama Shōichi Yamamoto, yang juga dikenal sebagai pencipta manga Daten Sakusen. Manga tersebut mulai diserialkan di Manga ONE pada Februari 2015.

baca juga:Mahasiswa Pendidikan Olahraga Teknokrat Kampus Terbaik di Lampung Raih Perak Fighter of Road to PON Beladiri 2025

Namun, manga itu kemudian hiatus pada Februari 2020 dan akhirnya dihapus dari platform Manga ONE pada Oktober 2022.

Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa industri manga Jepang juga tidak lepas dari kontroversi yang melibatkan para kreatornya. Karena itu, langkah investigasi internal yang dilakukan Shogakukan dianggap sebagai upaya untuk memperbaiki sistem pengawasan sekaligus menjaga kepercayaan pembaca terhadap platform mereka.

penulis:putra

Post Comment