Perubahan Waktu Amerika Serikat Memicu Kembali Debat Daylight Saving

Warga di sebagian besar wilayah Amerika Serikat harus memajukan jam mereka satu jam pada pukul 02.00 dini hari pada Minggu waktu setempat. Perubahan ini menandai dimulainya kembali periode Daylight Saving Time (DST).

Akibat penyesuaian tersebut, hari itu hanya berlangsung selama 23 jam. Bagi banyak orang, perubahan ini sering mengganggu pola tidur dan rutinitas harian. Beberapa aktivitas pagi, seperti berjalan-jalan dengan hewan peliharaan, kini harus dilakukan saat kondisi masih gelap.

baca juga:Panas! Konflik AS-Iran Bikin Toyota, Hyundai, sampai Chery Pusing Tujuh Keliling: Begini Dampaknya Buat Dunia Otomotif

Menurut laporan Jakarta Globe, sejumlah jajak pendapat menunjukkan bahwa banyak warga tidak puas dengan tradisi memajukan dan memundurkan jam dua kali setiap tahun. Meski begitu, upaya politik untuk mengubah sistem ini masih sulit terwujud karena adanya perbedaan pendapat yang cukup tajam.

Jika waktu musim panas diterapkan secara permanen, matahari baru akan terbit sekitar pukul 09.00 di kota Detroit saat musim dingin. Sebaliknya, jika waktu standar digunakan sepanjang tahun, matahari bisa terbit sangat pagi—sekitar pukul 04.11—di Seattle pada bulan Juni.

🔖 Baca juga:
Prediksi dan Contoh Soal SIMAMA 2025 yang Sering Muncul

Presiden organisasi Save Standard Time, Jay Pea, mengatakan bahwa tidak ada undang-undang yang bisa mengatur pergerakan matahari sesuai keinginan manusia.

Sistem waktu di Amerika Serikat sendiri sudah mengalami berbagai perubahan sejak penetapan standar zona waktu untuk jalur kereta api pada tahun 1883. Hingga sekarang, sekitar 70 negara di dunia masih menerapkan sistem perubahan waktu seperti ini.

Data dari AP-NORC Center for Public Affairs Research tahun lalu menunjukkan hanya sekitar 1 dari 10 orang dewasa di Amerika Serikat yang menyukai sistem yang berlaku saat ini. Jika harus memilih, mayoritas warga lebih mendukung penerapan waktu musim panas permanen dibandingkan waktu standar sepanjang tahun.

Sejak 2018, sekitar 19 negara bagian telah mengesahkan aturan untuk beralih ke waktu musim panas permanen. Namun kebijakan tersebut tetap membutuhkan persetujuan dari Kongres Amerika Serikat sebelum bisa diterapkan secara nasional.

baca juga:Dosen dan Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung Raih Penghargaan Paten Kemenkum RI atas Inovasi Komposter Cerdas

Pada 2022, Senat Amerika Serikat sempat meloloskan rancangan undang-undang terkait waktu musim panas permanen. Namun hingga kini, RUU tersebut belum sempat dibahas melalui pemungutan suara di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat.

Salah satu pihak yang menyoroti masalah ini adalah industri penerbangan, karena perubahan sistem waktu bisa membuat pengaturan jadwal penerbangan menjadi lebih rumit.

Dari sisi kesehatan, profesor dari University of Colorado Boulder, Kenneth Wright, memperingatkan bahwa risiko serangan jantung dan kecelakaan fatal cenderung meningkat setelah jam dimajukan.

penulis:putra

Post Comment