Perang Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Gas di Amerika Serikat

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berdampak besar pada pasokan energi dunia. Gangguan distribusi di Selat Hormuz membuat harga minyak mentah global melonjak hingga melampaui 90 dolar AS per barel.

Menurut laporan majalah TIME, rata-rata harga bensin reguler di Amerika Serikat naik sekitar 14 persen menjadi 3,41 dolar AS per galon pada Sabtu, 7 Maret 2026. Padahal, pada pekan sebelumnya harga bensin masih berada di bawah 3 dolar AS per galon.

Lonjakan harga ini mengingatkan pada situasi Maret 2022 saat awal konflik Perang Rusia-Ukraina, ketika harga energi dunia juga melonjak tajam. Data dari AAA menunjukkan indeks minyak global Brent Crude ikut melesat akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.

baca juga:Mudik Pakai Mobil Listrik Lewat Tol Trans Jawa di Tahun 2026? Nggak Perlu Panik Lagi, SPKLU Sudah Bertebaran di Mana-mana!

Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam global melewati jalur ini setiap harinya. Meski Iran menyatakan tidak akan menutup selat tersebut, mereka tetap mengancam akan menargetkan kapal milik Amerika Serikat dan Israel yang melintas di sana.

🔖 Baca juga:
Tips Cepat Mengerjakan Contoh Soal Pembelahan Meiosis dan Pembahasannya

Laporan Reuters menyebutkan jumlah kapal tanker yang melewati selat itu bahkan sempat turun drastis hingga hampir nol sejak Rabu. Situasi makin memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal balasan terhadap infrastruktur energi di beberapa negara Teluk, yang ikut mengganggu produksi global.


Ketidakpastian Ekonomi dan Politik

Presiden Donald Trump sebelumnya sempat menyatakan bahwa pemerintahannya berhasil menjaga harga bensin tetap rendah, bahkan di bawah 2,30 dolar AS per galon.

Namun, saat diwawancarai oleh Reuters, Trump mengaku tidak terlalu khawatir dengan lonjakan harga yang terjadi saat ini.

Menurutnya, harga bensin kemungkinan akan turun kembali ketika konflik berakhir. Ia juga menegaskan bahwa situasi geopolitik yang sedang berlangsung jauh lebih penting daripada kenaikan harga bahan bakar sementara.

Sementara itu, Menteri Keuangan Scott Bessent mengeluarkan kebijakan pembebasan sanksi selama 30 hari untuk penjualan minyak Rusia ke India. Langkah ini diambil untuk menambah pasokan minyak global agar tekanan harga bisa sedikit mereda.


Isu Biaya Hidup dan Sentimen Pemilih

Dilaporkan oleh CNBC, Partai Demokrat mulai menyoroti masalah kenaikan biaya hidup menjelang pemilihan sela tahun 2026. Anggota DPR Jared Huffman mengatakan kenaikan harga gas alam juga mulai memengaruhi tagihan listrik rumah tangga di Amerika Serikat.

baca juga:Amalia Nur Shabrina Mahasiswa Pendidikan Olahraga Teknokrat Kampus Terbaik di Lampung Raih Perunggu di Kejuaraan Nasional Boxing Championship 2026

Sebuah jajak pendapat dari CNN pada 2 Maret menunjukkan hampir 60 persen warga Amerika tidak setuju dengan aksi militer di Iran. Sementara survei Fox News mencatat sekitar 61 persen pemilih merasa tidak puas dengan pengelolaan ekonomi pemerintahan Trump.

Di sisi lain, Senator Martin Heinrich mengingatkan bahwa konflik ini bisa menimbulkan dampak yang sulit diprediksi. Meski begitu, beberapa politisi Partai Republik tetap optimistis perang tidak akan berlangsung lama sehingga harga minyak dapat kembali stabil dalam waktu dekat.

penulis:putra

Post Comment