Halo, Sobat Sehat! Pernah tidak kalian membayangkan sedang di puncak masa muda, usia awal 20-an, sedang semangat-semangatnya mengejar mimpi, tiba-tiba sebuah diagnosis medis datang dan mengubah segalanya dalam semalam? Inilah yang dialami oleh Rexi Edgar, seorang pria berusia 23 tahun asal Denpasar, Bali. Kisahnya bukan sekadar cerita sedih, tapi sebuah pelajaran penting tentang kesehatan yang sering kali kita salah pahami.
Banyak dari kita yang kalau dengar kata “diabetes”, langsung kepikiran: “Pasti karena kebanyakan minum boba,” atau “Wah, hobi makan gorengan dan manis-manis ya?” Padahal, kasus Rexi ini sangat berbeda. Ia didiagnosis menderita Diabetes Tipe 1, sebuah kondisi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan gaya hidup “balas dendam” kuliner.
Yuk, kita selami lebih dalam kisah Rexi, fakta medis di baliknya, dan mengapa kita semua perlu lebih peka terhadap sinyal yang diberikan tubuh kita.
26 Maret 2018: Hari yang Mengubah Segalanya
Bagi Rexi, tanggal ini akan selalu terukir di ingatannya. Saat itu, usianya masih sangat muda. Bayangkan, di saat teman-sebaya mungkin sedang sibuk nongkrong atau kuliah, Rexi harus menerima kenyataan pahit bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Melalui akun Instagram pribadinya, @rexiedgarr, Rexi bercerita dengan sangat jujur betapa hancurnya ia saat itu. “Jujur, awalnya sangat berat. It destroyed me, both physically and mentally,” ungkapnya. Bukan cuma mental yang kena hajar, fisiknya pun mengalami transformasi drastis yang mengerikan: berat badannya turun hampir 20 kg dalam waktu singkat!
Bayangkan rasanya harus berdamai dengan kenyataan bahwa mulai hari itu, ia harus menyuntikkan insulin ke tubuhnya sendiri sebanyak 4 kali sehari. Setiap hari. Tanpa absen. Belum lagi drama naik-turunnya kadar gula darah yang sering kali bikin perasaan campur aduk.
Bukan Salah Boba: Memahami Diabetes Tipe 1
Satu hal yang ditegaskan Rexi agar masyarakat tidak salah paham: penyakitnya ini bukan karena gaya hidup. Ini poin penting banget, Sobat Sehat.
Diabetes Tipe 1 adalah kondisi autoimun. Artinya, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya menjaga kita dari virus atau bakteri, malah “salah alamat” dan menyerang sel-sel di pankreas milik sendiri. Akibat serangan “teman sendiri” ini, pankreas jadi rusak dan tidak bisa lagi memproduksi insulin.
Tanpa insulin, gula di dalam darah tidak bisa masuk ke dalam sel untuk dijadikan energi. Akhirnya? Gula menumpuk di darah, sementara sel-sel tubuh kelaparan. Itulah kenapa Rexi bisa turun berat badan drastis padahal ia tidak sedang diet sama sekali. Tubuhnya seolah-olah “memakan” dirinya sendiri karena tidak bisa memproses energi dari makanan.
Sinyal Bahaya yang Sering Terlewatkan
Sebelum akhirnya divonis dokter, Rexi sebenarnya sudah merasakan gejala-gejala yang aneh. Gejala ini awalnya terasa ringan, tapi lama-lama makin parah dalam hitungan bulan. Kalau kalian merasakan hal-hal di bawah ini, please jangan disepelekan:
- Turun Berat Badan Drastis: Padahal makan banyak, tapi badan makin kerempeng.
- Haus yang Tidak Masuk Akal: Rexi merasa haus terus-menerus. Minum sebanyak apa pun rasanya tidak pernah cukup.
- Sering Buang Air Kecil: Terutama di malam hari. Karena banyak minum, otomatis tubuh berusaha membuang kelebihan gula lewat urine. Akibatnya, tidur pun terganggu karena harus bolak-balik ke toilet.
- Lemas Luar Biasa: Karena sel tubuh tidak dapat energi, rasanya seperti gadget yang baterainya sudah “bocor”. Baru bangun tidur saja sudah merasa capek.
Rexi akhirnya memutuskan untuk tes darah, dan benar saja, hasil GDP (Gula Darah Puasa) dan HbA1c (rata-rata gula darah 3 bulan terakhir) miliknya tinggi banget. Di situlah dokter menjatuhkan vonis Diabetes Tipe 1.
Penjelasan Medis: Apa Kata Ahli?
Untuk memperjelas kondisi ini, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD, seorang spesialis penyakit dalam, menjelaskan bahwa gejala awal Diabetes Tipe 1 (DMT1) memang mirip dengan diabetes pada umumnya. Namun, pada tipe 1, gejalanya sering kali muncul jauh lebih drastis dan mendadak.
Kenapa? Karena pada tipe 1, insulinnya benar-benar habis atau sangat sedikit. Berbeda dengan tipe 2 yang biasanya muncul pelan-pelan karena faktor usia atau obesitas.
Prof. Ketut juga mematahkan mitos soal keturunan. “DMT1 tidak diturunkan secara langsung seperti DMT2 yang riwayat keluarganya sangat jelas,” ujarnya. Kalau di Tipe 2 biasanya ada bapak atau kakek yang kena, di Tipe 1 faktor genetiknya lebih rumit. Biasanya berkaitan dengan variasi gen HLA (human leukocyte antigen). Gen inilah yang bikin seseorang punya potensi atau “bakat” mengalami penyakit autoimun. Jadi, bukan berarti kalau orang tua kena, anak pasti kena, tapi lebih ke arah kerentanan sistem imunnya.
Pelajaran Berharga dari Kisah Rexi
Kisah Rexi Edgar di tahun 2026 ini memberikan kita beberapa pelajaran penting yang sangat berharga:
- Penyakit Tidak Mengenal Usia: Jangan pernah merasa “aman” hanya karena masih muda. Penyakit bisa datang kapan saja, bahkan tanpa undangan gaya hidup buruk sekalipun.
- Stop Stigma: Jangan langsung menghakimi orang yang menderita diabetes. Mereka yang kena Tipe 1 adalah pejuang tangguh yang berhadapan dengan kondisi tubuh mereka sendiri, bukan karena mereka lalai menjaga makan.
- Dengarkan Tubuhmu: Jangan abaikan gejala kecil. Haus terus, sering kencing, dan berat badan turun drastis adalah cara tubuh berteriak minta tolong.
- Mental Health Itu Nyata: Rexi mengakui penyakit ini menghancurkan mentalnya di awal. Dukungan dari lingkungan sangat penting bagi penderita penyakit kronis untuk bisa tetap bertahan dan semangat menjalani pengobatan.
Kesimpulan: Berdamai dengan Kondisi
Saat ini, Rexi Edgar terus berjuang dan berbagi kisahnya untuk menginspirasi orang lain. Hidup dengan Diabetes Tipe 1 artinya harus bersahabat dengan jarum suntik seumur hidup, tapi bukan berarti hidup itu berakhir. Dengan manajemen gula darah yang baik, penderita DMT1 tetap bisa beraktivitas dan berprestasi.
Rexi menunjukkan bahwa meskipun tubuhnya punya keterbatasan, semangatnya tidak boleh ikut “drop”. Kisah ini adalah pengingat bagi kita semua untuk lebih bersyukur atas kesehatan dan lebih peduli pada sesama yang sedang berjuang melawan penyakit yang tidak terlihat.
Tetap jaga kesehatan, Sobat! Selalu perhatikan sinyal tubuhmu dan jangan ragu untuk periksa ke dokter kalau ada yang terasa tidak beres. Sehat itu mahal, tapi kesadaran itu jauh lebih berharga.
Penulis : Reyfen



Post Comment