×

Kejutan Lebaran Ketupat di Depok: Tradisi Jawa Selatan Kini Meriah di Kota Metropolis

Sekolapedia – 25 Maret 2026 | Depok, kota satelit Jakarta yang terkenal dengan dinamika penduduknya, kini menjadi sorotan karena munculnya tradisi Lebaran Ketupat—sebuah perayaan khas Jawa yang biasanya hanya terlihat di Yogyakarta, Surakarta, maupun Cirebon. Masyarakat Depok, baik yang berakar dari budaya Jawa maupun pendatang lainnya, mulai menggelar perayaan ini pada minggu pertama setelah Idul Fitri tahun 2026, menandai keberlanjutan semangat kebersamaan pasca Ramadan.

Sejarah dan Makna Lebaran Ketupat

Lebaran Ketupat berawal dari kebiasaan masyarakat Jawa yang mengaitkan ketupat sebagai simbol rasa syukur setelah menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal. Tradisi ini berkembang sejak abad ke-19, ketika para pedagang dan petani memperbanyak produksi ketupat sebagai bentuk sedekah kepada tetangga. Lebaran Ketupat bukan sekadar penyajian makanan, melainkan wujud konkret nilai solidaritas, gotong‑royong, dan penghormatan terhadap nilai-nilai Islam yang menekankan berbagi.

Jadwal 2026 dan Penyesuaian di Depok

Pada tahun 2026, perhitungan kalender Hijriyah menghasilkan dua tanggal berbeda untuk Lebaran Ketupat. Komunitas Muhammadiyah memperingatinya pada 28 Maret 2026 (8 Syawal 1447 H), sedangkan keputusan pemerintah menetapkan perayaan sehari kemudian, yaitu 29 Maret 2026. Di Depok, panitia lokal memutuskan untuk menggelar acara pada 29 Maret, selaras dengan penetapan resmi, sekaligus mengundang warga yang mengikuti perhitungan Muhammadiyah untuk berpartisipasi dalam satu rangkaian kegiatan bersama.

Ritual dan Kegiatan di Lapangan

Berbagai kegiatan telah direncanakan oleh RW setempat dan lembaga keagamaan, antara lain:

Baca juga:
Waktu Maghrib Hari Ini 16 Maret 2026: Jadwal Buka Puasa di Polewali Mandar, Solo, dan Semarang
  • Silaturahmi ke rumah tetangga dengan membawa ketupat yang baru matang.
  • Pengajian bersama yang membahas keutamaan puasa Syawal dan nilai kebersamaan.
  • Kenduri bersama di lapangan terbuka yang dilengkapi panggung musik tradisional dan tari Jaipong.
  • Distribusi ketupat gratis bagi warga kurang mampu sebagai bentuk zakat fitrah.
  • Doa bersama di masjid utama Depok, menutup rangkaian ibadah bulan Syawal.

Beberapa RW bahkan menambah unsur kreatif dengan lomba memasak ketupat, pameran kerajinan tangan, serta lomba foto “Momen Kebersamaan Lebaran”. Semua kegiatan ini dipandu oleh panitia yang menekankan protokol kesehatan, memastikan perayaan tetap aman di tengah masa pemulihan pasca pandemi.

Dampak Sosial Budaya

Penggelaran Lebaran Ketupat di Depok memberikan dampak positif yang luas. Pertama, tradisi ini memperkuat rasa identitas budaya Jawa di antara generasi muda yang sebagian besar tinggal di kota metropolitan. Kedua, kegiatan berbagi ketupat meningkatkan solidaritas sosial, terutama bagi keluarga yang masih merasakan beban ekonomi pasca Ramadan. Ketiga, keberadaan acara budaya seperti arak‑arakan ketupat menambah ragam hiburan lokal, menarik minat pelaku pariwisata budaya dan memberi peluang ekonomi bagi pedagang makanan tradisional.

Baca juga:
Sindikat Uang Palsu Lintas Daerah Dibongkar: 15 Ribu Lembar Pecahan Rp100 Ribu Disita Polisi

Tak hanya terbatas pada lingkup keagamaan, Lebaran Ketupat kini menjadi agenda lintas sektoral yang melibatkan pemerintah daerah, organisasi keagamaan, serta komunitas sosial. Hal ini mencerminkan pola baru dalam memadukan nilai-nilai spiritual dengan kebutuhan sosial‑ekonomi masyarakat urban.

Dengan berjalannya perayaan Lebaran Ketupat di Depok, tradisi yang dulunya identik dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur kini meluas ke wilayah metropolitan Jawa Barat. Keberhasilan pelaksanaan pada 29 Maret 2026 menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan dan berbagi dapat melintasi batas geografis, memperkaya khazanah budaya Indonesia secara keseluruhan.

Baca juga:
MPL PH Season 17 Week 2: Jadwal Padat, Falcons Menghadapi Rintangan, dan Keterlibatan Bintang Olahraga Nasional

Post Comment