Halo pembaca semua! Ada kabar yang cukup inspiratif nih datang dari Nusa Tenggara Barat. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) NTB baru saja meluncurkan langkah yang nggak cuma sekadar bagi-bagi bantuan, tapi benar-benar fokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Jadi, ceritanya, Baznas NTB lagi ngebut mempersiapkan para mustahik (penerima zakat) supaya mereka punya peran penting dalam menyukseskan program nasional, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bukan Cuma Kasih Ikan, Tapi Kasih Pancingnya
Ketua Baznas NTB, Lalu Muhammad Iqbal Murad, punya visi yang cukup jauh ke depan. Lewat program yang dilaporkan oleh Cahaya, beliau ingin para penerima zakat ini nggak selamanya berada di posisi “menerima”. Mereka ingin mengubah nasib para mustahik ini menjadi pemasok bahan pangan bagi program makan bergizi.
baca juga: Catat Yuk! Jadwal Imsakiyah Wilayah Lampung dan Tasikmalaya buat 10 Maret 2026
Baca juga:BNI Raih Best Companies to Work for in Asia, Ini Rahasia Suksesnya
Gimana caranya? Baznas NTB fokus mengembangkan usaha ayam petelur berbasis rumah tangga. Jadi, masyarakat diberikan bibit ayam petelur untuk dikelola sendiri. Tapi, Baznas nggak lepas tangan begitu saja. Mereka benar-benar menyiapkan ekosistem bisnisnya. Jadi, dari mulai perawatan ayam, sampai nanti telurnya harus dijual ke mana, semua sudah dipikirkan agar distribusinya lancar dan berkelanjutan.
Mengapa Ini Penting?
Kalau kita lihat kondisi di NTB saat ini, sebenarnya ada tantangan besar. Program Makan Bergizi Gratis ini kan cakupannya luas banget dan butuh pasokan bahan pangan yang nggak sedikit—mulai dari telur, daging, sampai sayur-sayuran.
Nah, masalahnya, selama ini NTB masih “impor” bahan pangan dari luar daerah. Data menunjukkan kalau produksi telur lokal di NTB baru bisa memenuhi sekitar 30 persen dari total kebutuhan. Sisanya yang 70 persen? Masih harus didatangkan dari luar, terutama dari Pulau Jawa.
Tentu saja ini peluang besar! Ketua Baznas NTB melihat peluang ini sebagai celah untuk memperkuat produksi lokal. Kalau mustahik bisa memproduksi telur sendiri dalam jumlah banyak, mereka bisa langsung memasok ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada di wilayah tersebut. Jadi, uangnya berputar di dalam daerah, dan kemandirian pangan pun terjaga.
Transformasi: Dari Mustahik Jadi Muzaki
Ini bagian yang paling keren dari visi Pak Iqbal. Beliau menekankan bahwa program ini bukan cuma soal bantuan sosial biasa. Tujuannya adalah transformasi ekonomi.
“Saat yang sama kami sedang melakukan transformasi dari mustahik menjadi muzaki,” kata Pak Iqbal.
Bayangkan, orang yang tadinya perlu dibantu (mustahik), perlahan-lahan belajar mengelola usaha, mandiri, punya penghasilan tetap dari hasil jualan telur atau sayur, dan akhirnya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Sampai pada akhirnya, mereka mampu menjadi muzaki alias orang yang membayar zakat. Ini adalah siklus ekonomi produktif yang sangat sehat.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan mengoptimalkan sektor pangan lokal seperti telur dan sayuran, Baznas NTB berharap zakat yang dikelola bisa memberikan dampak nyata. Tidak hanya untuk kesejahteraan masyarakat kecil, tapi juga membantu pemerintah menyukseskan agenda ketahanan pangan nasional.
Jadi, kalau nanti program Makan Bergizi Gratis ini berjalan penuh, bukan hanya anak-anak sekolah yang merasakan manfaatnya karena mendapatkan asupan gizi yang baik, tapi ekonomi warga lokal di NTB pun ikut “bergizi” karena terlibat langsung dalam rantai pasoknya.
Keren banget, ya? Semoga langkah Baznas NTB ini bisa jadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia untuk lebih kreatif dalam mengelola zakat menjadi sesuatu yang produktif dan bermanfaat jangka panjang.
penulis: ridho
Post Comment