Israel Tutup Masjid Al-Aqsa, Muslim Palestina Dilarang Beribadah

Israel menutup Masjid Al-Aqsa selama tiga hari berturut-turut dan melarang umat Muslim Palestina melaksanakan salat di kompleks tersebut selama bulan Ramadan. Penutupan ini dimulai sejak Sabtu, setelah meningkatnya konflik antara Israel dan Iran. Otoritas Israel menyebut langkah ini sebagai bagian dari kondisi darurat keamanan.

Kebijakan tersebut langsung menuai kritik dari otoritas keagamaan Palestina. Mereka menilai penutupan ini melanggar kebebasan beribadah di salah satu situs paling suci dalam Islam. Selain itu, langkah ini disebut sebagai kejadian yang sangat jarang, terutama karena terjadi saat bulan Ramadan.

baca juga:Mudik Asyik ke Pulau Seribu: Pemprov DKI Jakarta Bagi-Bagi Tiket Kapal Gratis buat Lebaran 2026!

Masjid Al-Aqsa yang berada di Yerusalem Timur yang diduduki dinyatakan ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Aktivitas di dalam kompleks masjid pun sangat dibatasi.

Sheikh Ikrima Sabri, mantan mufti besar Yerusalem sekaligus imam senior di Masjid Al-Aqsa, mengecam keputusan tersebut. Ia menyebut penutupan itu sebagai langkah yang tidak dapat dibenarkan dan menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk kontrol aparat keamanan dengan alasan situasi darurat.

🔖 Baca juga:
Kupas Tuntas Test Drive Suzuki Fronx GX di IIMS 2026: Benarkah Ini Varian Paling Pas Buat Kantong dan Gaya?

Dalam pernyataannya kepada Al Jazeera yang dikutip oleh Middle East Eye, Sabri mengatakan bahwa langkah itu melanggar kebebasan beribadah dan menunjukkan bahwa otoritas pendudukan sedang menegaskan kendali mereka atas masjid sekaligus mencabut kewenangan pengelolaan dari Wakaf Islam.

Sejumlah pejabat Palestina juga memperingatkan bahwa penutupan ini bisa menjadi bagian dari strategi Israel untuk memperketat pembatasan serta memperkuat kontrol terhadap kompleks suci tersebut.

Masjid Al-Aqsa sendiri sangat jarang ditutup bagi jamaah, terlebih saat Ramadan ketika ratusan ribu Muslim biasanya datang untuk melaksanakan salat dan ibadah malam.

Penutupan singkat memang pernah terjadi sebelumnya, seperti pada 2014 dan 2017 ketika ketegangan meningkat di Yerusalem. Masjid juga sempat ditutup saat pandemi COVID-19 dengan alasan kesehatan masyarakat. Selain periode tersebut, tidak ada catatan penutupan berkepanjangan sejak Israel menduduki Yerusalem Timur pada 1967.

Namun pada Juni tahun lalu, Israel juga sempat menutup Al-Aqsa selama perang 12 hari dengan Iran. Keputusan itu sempat memicu protes dari warga Palestina.

Seorang pekerja Wakaf Islam di Yerusalem mengatakan situasi di kompleks masjid saat ini cukup mengkhawatirkan. Ia menyebut hanya sebagian kecil penjaga yang diizinkan bertugas, sementara yang lain tidak diperbolehkan masuk ke area masjid.

Selain itu, pejabat Wakaf juga tidak diizinkan membawa makanan untuk petugas yang berjaga sejak penutupan diberlakukan.

Menurut sumber tersebut, sekitar 1.000 warga Yerusalem juga menerima larangan memasuki masjid, termasuk imam senior dan puluhan pegawai Wakaf.

Mustafa Abu Sway, anggota Dewan Wakaf Islam sekaligus pengajar di Masjid Al-Aqsa, mengatakan bahwa perubahan besar terhadap status quo Al-Aqsa kini semakin terlihat.

Ia mengaku tidak pernah mengingat masjid tersebut ditutup dengan cara seperti sekarang. Menurutnya, situasi yang selama ini dikhawatirkan kini benar-benar mulai terjadi.

Masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Selama puluhan tahun, pengelolaan kompleks masjid ini berada di tangan Wakaf Islam yang ditunjuk oleh Yordania berdasarkan pengaturan internasional.

Bagi warga Palestina, pembatasan akses yang semakin ketat ini dianggap sebagai upaya bertahap untuk mengubah status keagamaan situs tersebut.

Selain Masjid Al-Aqsa, militer Israel juga menutup Masjid Ibrahimi di Hebron, wilayah Tepi Barat, setelah konflik dengan Iran meningkat.

Direktur masjid tersebut, Mu’taz Abu Sneineh, mengatakan seluruh kegiatan salat dihentikan hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.

baca juga:Dosen dan Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung Raih Penghargaan Paten Kemenkum RI atas Inovasi Komposter Cerdas

Masjid Ibrahimi sendiri merupakan tempat suci bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen, dan telah digunakan sebagai masjid oleh warga Palestina selama lebih dari 1.400 tahun.

Kebijakan terbaru Israel di Tepi Barat, termasuk pemindahan kewenangan izin pembangunan dari Otoritas Palestina ke militer Israel, juga menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan kontrol yang lebih luas terhadap situs-situs suci di wilayah tersebut.

Penutupan Masjid Al-Aqsa di tengah Ramadan pun semakin memperdalam ketegangan di Yerusalem dan memicu kekhawatiran soal kemungkinan perubahan status situs suci yang selama ini dijaga melalui berbagai kesepakatan internasional.

penulis:putra

Post Comment