Sekolapedia – 20 Maret 2026 | Perang antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran yang kini memasuki pekan ketiga menimbulkan ancaman serius tidak hanya bagi pasokan energi, melainkan juga bagi infrastruktur digital dunia. Iran telah memblokir Selat Hormuz dan menebar ranjau laut, sementara kelompok Houthi di Yaman meningkatkan serangan di Selat Bab el‑Mandeb. Kedua jalur sempit ini menjadi titik rawan bagi jaringan kabel serat optik bawah laut yang menyalurkan hampir seluruh trafik data global.
Kabel-kabel yang melintasi Selat Hormuz dan Laut Merah berperan sebagai tulang punggung konektivitas antara benua. Data dari TeleGeography mencatat lebih dari 17 kabel utama menghubungkan Eropa, Asia, dan Afrika melalui Laut Merah, termasuk sistem AAE‑1, FALCON, Gulf Bridge International, dan Tata‑TGN Gulf. Investasi raksasa teknologi seperti Amazon, Microsoft, dan Google menumpuk miliaran dolar untuk membangun pusat data di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, menjadikan wilayah Teluk Persia sebagai hub komputasi awan dan kecerdasan buatan.
Jika kedua jalur tersebut terganggu secara bersamaan, perbaikan kabel menjadi sangat sulit. Kapal khusus yang biasanya menurunkan peralatan perbaikan tidak dapat memasuki zona konflik yang aktif, meningkatkan risiko kecelakaan atau ledakan ranjau yang dapat memutus kabel secara permanen. Alan Mauldin dari TeleGeography menegaskan bahwa operasi perbaikan di wilayah tersebut hampir mustahil selama operasi militer berlangsung, sehingga gangguan dapat berlangsung berminggu‑minggu bahkan berbulan‑bulan.
Sejarah menunjukkan bahwa serangan terhadap infrastruktur bawah laut bukan hal baru. Pada tahun 2024, serangan yang dikaitkan dengan Houthi berhasil merusak beberapa kabel di Laut Merah, menyebabkan penurunan kecepatan internet di kawasan Asia dan Afrika. Proses pemulihan memakan waktu lama karena kapal perbaikan tidak dapat mendekati lokasi yang berbahaya. Analisis Doug Madory dari Kentik memperingatkan bahwa jika kedua titik sempit ini tertutup secara simultan, dampaknya akan meluas ke layanan telepon, situs web, sistem perbankan, pasar saham, rumah sakit, hingga aplikasi kecerdasan buatan.
Berikut adalah beberapa kabel utama yang berada dalam zona risiko tinggi:
- AAE‑1 (Asia‑America Express) – menghubungkan Asia Tenggara dengan Amerika melalui Teluk Persia.
- FALCON – menghubungkan Uni Emirat Arab dengan Eropa melalui Laut Merah.
- Gulf Bridge International Cable System – menghubungkan negara‑negara Teluk dengan Afrika Utara.
- Tata‑TGN Gulf – menghubungkan India dengan Timur Tengah.
Data dampak potensial dapat dilihat pada tabel di bawah:
| Kabel | Rute Utama | Potensi Dampak |
|---|---|---|
| AAE‑1 | Asia‑Amerika via Teluk Persia | Gangguan layanan cloud, penurunan kecepatan internet di Asia‑US |
| FALCON | UAE‑Eropa via Laut Merah | Kerusakan transaksi keuangan lintas benua |
| Gulf Bridge | Teluk‑Afrika Utara | Terputusnya layanan streaming dan data center |
| Tata‑TGN Gulf | India‑Timur Tengah | Gangguan layanan e‑commerce dan fintech di India |
Para pakar keamanan siber menekankan perlunya diversifikasi jalur komunikasi. Mengalihkan trafik ke satelit atau jaringan darat alternatif dapat menjadi solusi sementara, namun biaya operasional dan latensi yang lebih tinggi menjadi kendala. Pemerintah Indonesia, bersama ASEAN, telah mulai merencanakan pembangunan kabel serat optik baru di jalur selatan untuk mengurangi ketergantungan pada rute yang rentan.
Secara keseluruhan, konflik militer yang berlangsung di wilayah strategis ini menimbulkan risiko terburuk bagi stabilitas digital global. Dampak yang meluas dapat memicu krisis ekonomi, mengganggu layanan vital, dan menurunkan kepercayaan publik terhadap keamanan jaringan. Oleh karena itu, koordinasi internasional antara negara‑negara pengguna internet, operator kabel, dan lembaga keamanan menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan konektivitas dunia di tengah ketegangan geopolitik yang terus memuncak.


Post Comment