Drama di Stasiun Gubeng: Penjaga Kursi Pijat Dituduh Maling Gelang, Padahal…

Pernah nggak sih kamu ngerasa dituduh melakukan sesuatu yang sama sekali nggak kamu lakuin? Rasanya pasti nyesek, kaget, sekaligus pengen nangis. Nah, kejadian kurang mengenakkan ini baru saja menimpa seorang pemuda berinisial A (17). Dia ini bekerja sebagai penjaga kursi pijat di Stasiun Gubeng, Surabaya. Bukannya tenang kerja, dia malah jadi bahan pembicaraan setelah dituduh mencuri gelang emas milik seorang pelanggan.

Awal Mula Tuduhan yang Bikin Bingung

Ceritanya bermula pada Senin (2/3/2025) sekitar jam 1 siang. Ada seorang ibu-ibu yang jadi pelanggan kursi pijat di sana. Nggak lama setelah menikmati fasilitas kursi pijat, si ibu ini bikin heboh karena merasa gelang emasnya hilang. Masalahnya, dia malah menuduh si A yang mengambil gelangnya.

baca juga: Santai Sejenak: Jadwal Berbuka Puasa Jakarta Hari Ini, 5 Maret 2026 (15 Ramadhan 1447 H)

Echa, selaku Leader dari penyedia jasa kursi pijat di Stasiun Gubeng, langsung bergerak cepat buat cari kebenaran. Tim pengelola langsung membongkar kursi pijat yang dipakai ibu tadi buat ngecek, jangan-jangan gelangnya jatuh atau terselip di dalam mesin. Hasilnya? Nihil. Nggak ada gelang apa pun di sana.

🔖 Baca juga:
Kumpulan Contoh Soal Pendapatan Nasional SMA Beserta Pembahasannya

Katanya Dipaksa, Padahal SOP-nya Emang Begitu

Si pelanggan ini mengaku kalau dia dipaksa sama A buat masukin tangannya ke alat pijat sampai dia merasa sakit. Si ibu bilang, “Aku nggak mau tapi Mas-nya maksa. Pas aku lepas gelang, eh gelangnya udah hilang.”

Tapi, Echa punya pandangan lain. Secara logika, alat pijat di situ modelnya terbuka, jadi kalau pun gelang jatuh, pasti bakal kelihatan atau jatuh ke bagian bawah/kaki. Echa pun langsung ngecek rekaman CCTV untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata, rekaman CCTV menunjukkan kalau A nggak melakukan pemaksaan sama sekali. Dia cuma memberikan arahan sesuai SOP.

“Di CCTV nggak ada pemaksaan, cuma mengarahkan. Emang udah aturan kita kalau mau pakai alat pijat, jam tangan atau gelang harus dilepas. Kalau pelanggan nggak mau lepas, ya kita arahkan. Tapi kalau mereka tetep nggak mau ya sudah, nggak perlu dipaksa masukin tangan,” jelas Echa.

CCTV Menjadi Bukti Kunci

Echa dan timnya pun memeriksa rekaman CCTV berkali-kali. Mereka bahkan sampai memperbesar tampilan video di bagian tangan pelanggan. Ternyata, yang terlihat di tangan pelanggan sejak awal datang pun cuma ada satu gelang (bangle). Padahal, si pelanggan ngotot kalau dia pakai dua gelang dan yang hilang adalah gelang rantai.

Bahkan, keluarga si ibu ini pun mengakui kalau dari rekaman CCTV, gelangnya memang cuma satu. Tapi, si ibu tetap kekeuh dengan pendiriannya. Dia tetap bersikeras kalau dia pakai dua gelang yang posisinya nempel jadi satu.

Sikap “Grogi” yang Salah Paham

Malam harinya, si pelanggan balik lagi dan minta supaya kantong si A diperiksa. Alasannya? Dia curiga karena siang tadi dia lihat si A bersikap “grogi”, gugup, dan sempat jongkok. Echa pun menuruti permintaan itu dan memeriksa kantong A di depan ibu tersebut. Hasilnya? Tetap nihil. Nggak ada gelang apa pun.

Ternyata, aksi “jongkok” yang dicurigai si ibu itu sebenarnya adalah hal yang wajar. A yang memang masih baru kerja, cuma sedang mengatur timer mesin kursi pijat yang letaknya ada di bawah. A sendiri sampai nangis gemetaran karena ini pengalaman pertamanya bekerja dan dia nggak menyangka bakal dituduh seberat itu.

baca juga: Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung Menerima Visitasi Akreditasti ACQUIN sebagai Langkah Menuju World Class University

Belum Ada Laporan, Tapi Masalah Tetap Berlanjut

Si pelanggan sempat mengajak damai dengan cara yang aneh. Dia bilang ke A, “Udah, Mas A bilang aja kalau ngambil. Saya nggak bakal lapor, nanti saya kasih imbalan.” Tentu saja A menolak mentah-mentah karena dia memang nggak merasa mencuri.

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi ke polisi terkait kejadian ini. Pihak pengelola pun siap melakukan tuntutan balik kalau tuduhan ini nggak terbukti. Sementara itu, si A sudah diminta untuk beristirahat di rumah selama dua hari supaya mentalnya bisa lebih tenang setelah kejadian yang cukup membuat trauma ini.

penulis: ridho

Post Comment