Dari Racikan Mie Godog “Anti-Mainstream” di Cipete Sampai Ngintip Kafe Tertua di Dunia

Halo sobat kuliner! Pernah nggak sih kalian ngerasa bosen sama menu makanan yang itu-itu aja? Kalau iya, berarti kalian wajib banget baca rangkuman perjalanan rasa kali ini. Kita bakal bahas sesuatu yang lagi viral banget di daerah Cipete, terus geser dikit ke rekomendasi tempat buka puasa yang asyik di jantung kota Jakarta, sampai akhirnya kita terbang jauh buat kenalan sama kafe-kafe yang umurnya sudah ratusan tahun. Siapkan camilan, karena bahasan kita kali ini bakal panjang dan bikin laper!

1. Mie Godog Viral Cipete: Ketika Mantan Seniman Tato “Banting Setir” Jadi Maestro Bakmi

Kita mulai dari kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di Cipete. Daerah ini memang nggak pernah kehabisan tempat nongkrong atau makan yang unik. Tapi ada satu yang lagi jadi buah bibir di media sosial, terutama TikTok. Namanya warung mie godog kaki lima milik Mas Bima.

Kenapa sih bisa viral? Biasanya, kalau kita makan bakmi Jawa atau mie godog, topping-nya paling mentok ya ayam suwir sama telur bebek. Tapi di sini, Mas Bima melakukan sebuah terobosan atau “revolusi” rasa. Bayangin aja, bakmi Jawa yang kuahnya kental dan gurih itu dikasih topping daging bebek yang juicy atau potongan brisket sapi yang lembut banget!

Ini bukan sekadar gaya-gayaan. Perpaduan antara cita rasa tradisional bakmi Jawa dengan daging premium seperti brisket menciptakan harmoni rasa yang baru. Gurihnya kaldu bertemu dengan lemak daging yang lumer di mulut. Nggak heran kalau orang rela antre panjang cuma buat semangkuk mie ini.

Sosok di Balik Layar: Dari Denmark ke Tungku Arang Yang bikin cerita ini makin menarik adalah latar belakang pemiliknya. Mas Bima ternyata bukan orang sembarangan di dunia seni. Beliau adalah mantan seniman tato yang pernah meniti karier cukup lama di Denmark. Jauh banget, kan? Dari megang mesin tato di Eropa, sekarang megang sodet di Cipete.

🔖 Baca juga:
Contoh Soal Basket Beserta Jawaban: Panduan Lengkap untuk Memahami Dasar Permainan Bola Basket

Mas Bima mengaku belajar masak secara otodidak. Karena dasarnya dia suka makan dan punya passion di dunia kuliner, dia akhirnya mencoba meracik resepnya sendiri. Dan hebatnya lagi, meskipun konsepnya modern (pakai daging brisket), cara masaknya tetap “old school”. Dia tetap pakai tungku arang (anglo).

Kenapa pakai arang? Karena suhu panas dari arang itu beda sama kompor gas. Aromanya lebih dapet, dan kematangannya lebih merata. Meskipun prosesnya jadi agak lama karena harus dimasak satu-satu (biar rasanya tetap konsisten), para pelanggan kayaknya nggak keberatan buat nunggu. Bau asap khas arang yang meresap ke dalam mie itu yang bikin nagih.

Menu dan Harga Di sini pilihannya lengkap. Kamu suka yang berkuah? Ada Mie Godog (rebus). Suka yang agak kering tapi masih lembap? Ada Mie Nyemek. Atau lebih suka yang digoreng? Ada juga Mie Goreng. Harganya juga masih masuk akal buat ukuran makanan viral di Jakarta, yaitu mulai dari Rp35.000-an per porsi. Mengingat ada daging bebek atau brisket-nya, harga segitu sih worth it banget!

baca juga:Dosen dan Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung Raih Penghargaan Paten Kemenkum RI atas Inovasi Komposter Cerdas

2. Hunting Lokasi Bukber di Jakarta Pusat: Dari Nusantara Hingga Timur Tengah

Nah, karena kita lagi masuk suasana yang pas buat kumpul-kumpul (apalagi kalau sudah deket musim bukber), Jakarta Pusat punya segudang pilihan restoran legendaris yang nggak boleh dilewatkan. Kalau kamu bingung mau ajak keluarga atau temen kantor ke mana, ini ada beberapa pilihannya:

Kaum Jakarta: Masakan Nusantara yang “Naik Kelas” Kalau kamu pengen makanan Indonesia tapi dengan suasana yang lebih fancy dan elegan, Kaum Jakarta adalah jawabannya. Mereka punya komitmen buat mengangkat resep-resep tradisional dari berbagai pelosok Indonesia tapi disajikan dengan standar internasional. Tempatnya nyaman banget buat ngobrol lama.

Pondok Laguna: Surganya Pecinta Seafood Siapa sih yang nggak tahu Pondok Laguna? Ini adalah salah satu restoran legendaris di Jakarta Pusat. Menu jagoannya? Udang Saus Mentega. Udangnya gede-gede, bumbunya meresap, dan saus menteganya itu… duh, bikin nambah nasi terus! Selain itu, ikan gurame gorengnya juga juara. Cocok banget buat makan tengah bareng keluarga besar.

Al Jazeerah Signature: Sensasi Timur Tengah yang Otentik Pengen suasana bukber yang beda? Coba deh mampir ke Al Jazeerah Signature. Begitu masuk, aromanya sudah khas rempah-rempah Timur Tengah. Menu wajibnya tentu saja Nasi Mandi dengan daging kambing yang sangat empuk dan nggak bau prengus. Ada juga kebab dan berbagai sajian penutup mulut khas Arab yang manis-manis.

Seribu Rasa Menteng: Klasik dan Selalu Enak Restoran ini sudah jadi langganan banyak orang kalau mau bikin acara formal atau sekadar kumpul keluarga. Menunya campur-campur, ada sentuhan Melayu, Thailand, dan lokal. Tom yum mereka segar banget, dan nasi goreng kampungnya punya rasa yang khas banget.

3. Keliling Dunia Menuju Kafe-Kafe Tertua: Sejarah dalam Secangkir Kopi

Setelah kenyang di Jakarta, yuk kita terbang ke luar negeri buat melihat sisi lain dari budaya nongkrong. Ternyata, budaya ngopi itu bukan baru-baru ini aja hype. Di belahan dunia lain, sudah ada kafe yang berdiri dari ratusan tahun lalu dan masih buka sampai sekarang!

Tahmis Kahvesi, Turki (Sejak 1635) Ini adalah salah satu yang paling tua. Terletak di Gaziantep, Turki. Bayangin, kafe ini sudah ada sejak tahun 1635! Menu yang paling terkenal di sini bukan kopi biasa, tapi Pistachio Coffee atau yang warga lokal sebut Menengic Kahvesi. Kopi ini nggak pakai biji kopi biasa, tapi dari biji pohon pistachio liar. Rasanya unik, creamy, dan pastinya penuh sejarah.

Cafe Procope, Paris (Sejak 1686) Pindah ke Paris, ada Cafe Procope. Kafe ini bukan sekadar tempat minum kopi, tapi saksi bisu sejarah dunia. Dulu, orang-orang jenius seperti Voltaire dan Jean-Jacques Rousseau sering nongkrong di sini buat diskusiin ide-ide besar mereka. Bahkan konon katanya, Napoleon Bonaparte pernah ninggalin topinya di sini gara-gara nggak bisa bayar tagihan kopinya! Makan di sini rasanya kayak masuk ke mesin waktu.

Café Tomaselli, Salzburg (Sejak 1700) Austria juga punya jagoan, yaitu Café Tomaselli. Terletak di Salzburg, kota kelahiran Mozart. Kafe ini sudah melayani pelanggan sejak tahun 1700. Suasananya sangat elegan khas Eropa klasik. Kalau ke sini, kamu harus cobain berbagai macam kue pastry-nya yang legendaris sambil duduk manis di balkonnya yang cantik.

Caffè Florian, Venesia (Sejak 1720) Terakhir, kita ke Italia. Di Piazza San Marco, Venesia, ada Caffè Florian yang buka sejak 1720. Ini adalah kafe tertua di Italia. Dengan interior yang dipenuhi lukisan dan cermin antik, duduk di sini bakal bikin kamu ngerasa kayak bangsawan abad ke-18. Meskipun harganya lumayan mahal, tapi pengalaman dan suasananya bener-bener nggak ternilai.

baca juga:Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung Menerima Visitasi Akreditasti ACQUIN sebagai Langkah Menuju World Class University

Kesimpulan

Dari seporsi mie godog di pinggir jalan Cipete sampai kafe mewah di Venesia, satu hal yang bisa kita pelajari: makanan dan minuman adalah pemersatu. Mas Bima di Cipete membuktikan kalau kreativitas (tato ke bakmi) bisa menghasilkan sesuatu yang dicintai banyak orang. Sementara kafe-kafe tertua di dunia membuktikan kalau sebuah tempat makan bisa bertahan ratusan tahun jika punya jiwa dan sejarah di dalamnya.

Jadi, besok mau makan di mana? Mau nyobain mie bebek di Cipete atau mulai nabung buat ngopi di Paris? Mana pun pilihannya, yang penting nikmati setiap suapannya ya!

penulis:rinaldy

Post Comment