Pernah nggak sih kamu mikir kenapa makanan kemasan sekarang bisa awet banget, gampang dibawa-bawa, dan rasanya konsisten? Jawabannya ada di tangan Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Menurut Anastacia Marx de Salcedo, penulis buku Combat-Ready Kitchen, militer itu bukan cuma soal senjata, tapi juga soal “perut”.

Sejak Perang Dunia II, fokus utama mereka adalah menciptakan makanan yang tahan banting (tahan lama), ringan (biar nggak bikin tentara encok), dan murah. Hasil riset gila-gilaan ini akhirnya bocor ke industri sipil dan jadi apa yang kita makan sekarang.

Berikut adalah 5 “pahlawan” kuliner yang aslinya adalah ransum tentara:

1. M&M’s: Permen yang “Tahan Tempur”

Pernah dengar slogan “Lumer di mulut, bukan di tangan”? Itu bukan sekadar strategi marketing biasa, tapi kebutuhan logistik!

Sekitar tahun 1941, Forrest Mars Sr. (anak dari pendiri Mars Inc.) melihat tentara di Perang Saudara Spanyol makan cokelat yang dibungkus lapisan gula supaya nggak meleleh di bawah matahari. Dia lalu kongkalikong sama Bruce Murrie dari Hershey buat bikin produk serupa. Jadilah M&M’s (Mars & Murrie).

Saat Perang Dunia II pecah, militer AS langsung memborong produksi M&M’s. Kenapa? Karena cokelat ini satu-satunya yang nggak bakal jadi genangan cokelat menjijikkan di kantong seragam tentara yang lagi gerah di medan perang. Baru setelah perang beres di tahun 1947, warga sipil bisa ikutan ngerasain nikmatnya permen warna-warni ini.

2. Cheetos: Si “Anak Kandung” Teknologi Dehidrasi

Pecinta Cheetos mana suaranya? Kamu harus berterima kasih sama riset pengeringan keju militer. Dulu, kirim keju batangan buat jutaan tentara itu ribet banget karena berat dan gampang busuk.

Pas Perang Dunia II, militer AS kerja sama bareng ilmuwan buat bikin “keju bubuk”. Di tahun 1943, seorang peneliti bernama George Sanders berhasil nemuin cara mengeringkan dan menggiling keju sampai jadi serbuk halus. Setelah perang selesai, stok bubuk keju ini melimpah ruah. Perusahaan makanan pun putar otak: “Gimana kalau bubuk ini kita taburin ke jagung goreng?” Boooom! Lahirlah Cheetos yang bikin jari kita jadi oranye itu.

3. Roti Anti-Basi: Rahasia Roti Kemasan Supermarket

Dulu, tentara itu makanannya hardtack—biskuit keras yang kalau digigit mungkin bisa bikin gigi patah. Militer butuh roti beneran yang lembut tapi nggak gampang jamuran di tengah hutan atau parit pertahanan.

Tahun 1950-an, militer AS kerja sama bareng Kansas State College buat ngulik kimiawi gandum. Mereka nemuin cara pakai asam lemak dan enzim bakteri tertentu supaya tekstur roti tetap empuk dalam waktu yang sangat lama. Teknologi inilah yang sekarang dipakai oleh hampir semua produsen roti kemasan yang ada di toko-toko kelontong modern.

baca juga:Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung Menerima Visitasi Akreditasti ACQUIN sebagai Langkah Menuju World Class University

4. Jus Jeruk Beku (Minute Maid)

Vitamin C itu wajib buat tentara biar nggak kena penyakit scurvy. Tapi bawa jeruk sekeranjang ke medan perang jelas mustahil. Masalahnya, jus jeruk kalengan zaman dulu rasanya aneh dan nggak enak.

Tahun 1945, tim ilmuwan berhasil nemuin metode “vakum” buat bikin konsentrat jus jeruk beku yang rasanya tetap segar pas dicairkan. Kontrak gede langsung turun ke Florida Foods Corp. Lucunya, pas barangnya siap dikirim, perangnya keburu selesai! Akhirnya, produk ini dijual ke masyarakat umum dengan merek Minute Maid. Ternyata laku keras, dan sekarang jadi standar sarapan di banyak negara.

5. Energy Bar: Dari Cokelat Pahit ke Camilan Gym

Konsep “makan sedikit tapi energinya pol” itu idaman militer. Tahun 1930-an, militer bareng Hershey bikin Logan Bar. Masalahnya satu: rasanya sengaja dibikin agak pahit biar tentara nggak hobi ngemil dan cuma makan pas lagi darurat doang. Bayangin, saking nggak enaknya, tentara sampai nyebutnya sebagai “batang pembersih perut”.

Penelitian terus berlanjut, bahkan sampai melibatkan NASA buat misi luar angkasa. Mereka nyari formula nutrisi padat yang tahan lama. Teknologi inilah yang jadi cikal bakal Energy Bar atau Protein Bar yang kita kenal sekarang. Mulai dijual bebas tahun 70-an, sekarang malah jadi makanan wajib orang-orang yang hobi olahraga.

baca juga:Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Juara Nasional Lomba Karya Ilmiah RnDC 2025

Kesimpulannya: Ternyata banyak makanan enak di sekitar kita yang punya “darah” militer. Inovasi-inovasi ini membuktikan kalau kebutuhan mendesak di masa sulit bisa menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi orang banyak di masa depan. Jadi, setiap kali kamu makan Cheetos atau M&M’s, ingat ya, kamu lagi makan sejarah!

penulis:rinaldy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *