×

Buka Puasa Makassar: Syawal 2026 Jadi Ajang Kebersamaan, Kuliner, dan Remisi Narapidana

Buka Puasa Makassar: Syawal 2026 Jadi Ajang Kebersamaan, Kuliner, dan Remisi Narapidana

Sekolapedia – 23 Maret 2026 | Makassar, 23 Maret 2026 – Setelah berakhirnya Hari Raya Idulfitri, umat Muslim di ibu kota provinsi Sulawesi Selatan kembali memusatkan perhatian pada puasa sunnah Syawal, yang dikenal sebagai “buka puasa Makassar” di kalangan warga setempat.

Jadwal resmi puasa Syawal 2026

Menurut kalender Hijriah resmi yang disusun Kementerian Agama Republik Indonesia, 1 Syawal 1447 H bertepatan dengan Sabtu, 21 Maret 2026. Bulan Syawal tahun ini memiliki 29 hari, berakhir pada 18 April 2026. Puasa Syawal dapat dilaksanakan mulai tanggal 2 Syawal hingga akhir bulan, dengan total enam hari yang dianjurkan, baik secara berturut‑turut maupun tidak.

Tata cara niat dan bacaan puasa Syawal

Berikut langkah‑langkah praktis yang dapat diikuti warga Makassar ketika memulai puasa Syawal:

  • Memastikan niat puasa dilakukan di dalam hati sebelum terbit fajar, dengan mengucapkan: “Saya niat puasa enam hari di bulan Syawal karena Allah”.
  • Membaca doa berbuka: “Allahumma inni laka sumtu wa bika aamantu wa ‘alayka tawakkaltu wa ‘ala rizqika aftartu” pada waktu berbuka.
  • Menjaga sahur dengan menu bergizi agar stamina tetap terjaga selama berpuasa.
  • Menghindari hal‑hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, atau hubungan suami‑istri di siang hari.

Kegiatan sosial dan kuliner khas buka puasa di Makassar

Setiap sore menjelang maghrib, kawasan Pantai Losari, Jalan Ahmad Yani, serta pasar tradisional seperti Pasar Panakkukang dipenuhi pedagang kaki lima yang menyajikan hidangan khas Makassar. Antara lain coto makassar, konro, pallubasa, serta aneka makanan ringan berbasis kelapa dan singkong. Pemerintah Kota Makassar bekerja sama dengan komunitas relawan menggelar “Buka Puasa Bersama” gratis di beberapa titik strategis, terutama bagi pekerja lapangan dan mereka yang kurang mampu.

Selain itu, kegiatan keagamaan seperti tadarus Al‑Qur’an, kajian fiqh puasa, dan sholat tarawih khusus di masjid Raya Makassar tetap berlangsung hingga akhir bulan Syawal. Warga yang ingin menunaikan puasa secara berurutan dapat memanfaatkan program “Syawal Challenge” yang dipublikasikan melalui media sosial resmi Pemkot Makassar, dengan hadiah berupa voucher belanja untuk peserta yang berhasil menyelesaikan enam hari puasa secara berurutan.

🔖 Baca juga:
Witness Protection and the Epstein Case: The Challenges of Testifying Against the Elite

Remisi Idulfitri bagi narapidana di Rutan Makassar

Seiring dengan perayaan Idulfitri, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memberikan remisi kepada 160 narapidana yang berada di Rumah Tahanan (Rutan) Makassar. Tiga narapidana langsung dibebaskan setelah memenuhi persyaratan administratif. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya reintegrasi sosial, sekaligus mengurangi kepadatan penjara menjelang libur panjang.

Para narapidana yang menerima remisi diharapkan dapat memanfaatkan momentum Idulfitri dan puasa Syawal untuk memperbaiki diri, melanjutkan pendidikan, serta kembali berkontribusi pada masyarakat Makassar setelah masa hukuman selesai.

Manfaat puasa Syawal bagi kesehatan dan spiritualitas

Berpuasa enam hari di bulan Syawal tidak hanya memiliki nilai keagamaan, namun juga manfaat kesehatan yang telah dibuktikan oleh sejumlah studi medis. Puasa dapat menurunkan kadar gula darah, memperbaiki fungsi metabolisme, serta meningkatkan konsentrasi mental. Bagi warga Makassar yang menjalani pekerjaan di sektor perikanan, pertambangan, serta pariwisata, puasa Syawal menjadi kesempatan untuk memperkuat disiplin diri sekaligus mempererat kebersamaan melalui kegiatan berbuka bersama.

Dengan kombinasi antara agenda keagamaan, program sosial, dan kebijakan pemerintah yang mendukung, “buka puasa Makassar” tahun ini menjadi salah satu peristiwa yang menghidupkan semangat gotong‑royong serta meneguhkan identitas budaya Islam di kota terbesar di Sulawesi Selatan.

Secara keseluruhan, puasa Syawal di Makassar tahun 2026 tidak hanya melanjutkan tradisi setelah Ramadhan, melainkan juga memperkuat jaringan sosial melalui aksi‑aksi kemanusiaan, kuliner khas, dan kebijakan remisi yang mengedepankan nilai‑nilai keadilan. Diharapkan, momentum ini dapat menjadi contoh bagi kota‑kota lain dalam menyatukan elemen keagamaan dan sosial demi terciptanya masyarakat yang lebih harmonis.

Post Comment