×

6 Tempat Sarapan Legendaris di Palembang yang Wajib Dikunjungi – Panduan Lengkap untuk Pecinta Kuliner Pagi

Sekolapedia – 23 Maret 2026 | Palembang tak hanya dikenal dengan ikon‑ikonnya seperti Jembatan Ampera atau Taman Kambang Iwak, tetapi juga menyimpan warisan kuliner pagi yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota. Bagi wisatawan atau warga lokal yang mengincar energi awal hari, enam tempat berikut menyajikan sarapan legendaris yang tidak boleh dilewatkan. Setiap lokasi menawarkan cita rasa otentik, atmosfer khas, dan sejarah yang menambah nilai pengalaman.

1. Pempek Pak Raden – Klasik di Pusat Kota

Terletak tidak jauh dari Pasar 16 Ilir, Pempek Pak Raden telah melayani penggemar pempek sejak era 1970‑an. Meskipun pempek lebih dikenal sebagai hidangan siang atau malam, versi sarapannya berupa “pempek kuah” yang disajikan bersama kuah cuka manis, telur rebus, dan timun segar menjadi pilihan tepat untuk memulai hari. Rasa ikan segar yang dipadukan dengan tekstur kenyal menjadikan sarapan di sini terasa ringan namun mengenyangkan.

2. Mie Celor Pak Gendut – Kuah Kental Penuh Energi

Mie Celor, sup kental berbahan dasar santan, udang, dan telur, telah menjadi ikon kuliner Palembang. Cabang Pak Gendut yang berlokasi di Jalan Kapten A. Rivai menyajikan porsi sarapan dengan kuah yang lebih kental dibanding varian siang, menambah kehangatan pada pagi yang masih sejuk. Tambahan kerupuk ikan dan sejumput sambal memberikan sensasi pedas manis yang menyegarkan.

3. Soto Palembang Pak Maman – Rasa Tradisional dalam Semangkuk

Soto Palembang terkenal dengan kuah bening beraroma rempah dan tambahan perkedel serta udang. Cabang Pak Maman di kawasan Bukit Kecil menyajikan “soto pagi” yang lebih ringan, dengan sedikit perkedel dan tambahan nasi putih hangat. Kombinasi ini memberikan keseimbangan antara protein dan karbohidrat, cocok untuk menyiapkan tubuh sebelum aktivitas seharian.

4. Kedai Kopi Tjandra – Sarapan Bergaya Retro

Kopi Tjandra, sebuah kedai kopi bersejarah yang berdiri sejak dekade 1980, menawarkan sarapan sederhana namun memuaskan: roti bakar dengan selai kacang, telur mata sapi, dan segelas kopi tubruk khas Palembang. Atmosfer retro dengan kursi kayu dan dinding bergambar pemandangan sungai Musi menambah nilai nostalgia, membuat pengunjung terasa seperti kembali ke masa lalu sambil menikmati cita rasa modern.

5. Lontong Kupang Bu Haji – Kombinasi Unik Pagi Hari

Lontong Kupang, hidangan beras yang disajikan bersama kupang (kerang kecil) dan kuah santan, memang lebih sering dijumpai saat makan siang. Namun, Bu Haji di Jalan Raden Patah mengadaptasinya menjadi menu sarapan dengan menambahkan telur dadar tipis dan sambal terasi. Kelezatan gurih santan berpadu dengan tekstur kenyal kupang membuat sarapan di sini menjadi pengalaman kuliner yang berbeda.

6. Warung Teh & Nasi Uduk Pak Taufik – Simplicity yang Memikat

Terletak di pinggir Jalan Tasik, warung ini menyajikan nasi uduk dengan lauk sederhana seperti tempe orek, ikan teri, dan telur balado. Dihidangkan bersama teh tarik manis, menu ini menjadi favorit pekerja kantoran yang menginginkan sarapan cepat namun mengenyangkan. Kelezatan bumbu tradisional yang meresap ke dalam nasi uduk memberikan energi yang tahan lama.

Kelima tempat di atas tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga cerita yang terhubung dengan sejarah kuliner Palembang. Dari warisan kolonial yang masih terasa di Taman Kambang Iwak hingga semangat gotong‑royong yang terlihat pada acara open house di Rumdis Walkot, budaya makan pagi di Palembang selalu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Dengan mengunjungi enam destinasi sarapan legendaris ini, pengunjung dapat merasakan denyut kota sejak fajar, menyerap kehangatan masyarakat, dan menyiapkan diri untuk menjelajahi lebih banyak atraksi wisata yang ditawarkan Palembang, seperti Jembatan Ampera, Taman Kambang Iwak, atau pulau-pulau kecil di Sungai Musi.

Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk memulai hari Anda dengan cita rasa autentik Palembang. Setiap suapan bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga mengisahkan perjalanan budaya yang terus hidup di setiap sudut kota.

Post Comment