Kesehatan kerja merupakan pilar utama dalam menciptakan lingkungan industri yang produktif dan manusiawi. Salah satu tantangan terbesar bagi praktisi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dan tenaga medis perusahaan adalah mengidentifikasi serta mencegah Penyakit Akibat Kerja (PAK). Berbeda dengan kecelakaan kerja yang bersifat traumatis dan instan, PAK sering kali bersifat kronis, laten, dan muncul setelah paparan bertahun-tahun.
Memahami Penyakit Akibat Kerja memerlukan ketelitian dalam menghubungkan antara gejala klinis dengan faktor risiko di lingkungan kerja. Untuk mendukung proses belajar mahasiswa kesehatan masyarakat, kedokteran okupasi, maupun praktisi HSE di lapangan, artikel ini menyajikan kumpulan soal pilihan ganda yang komprehensif. Soal-soal ini dirancang untuk mencakup aspek regulasi, jenis-jenis pajanan, hingga prosedur diagnosis okupasi yang berlaku di Indonesia.
Pentingnya Materi Penyakit Akibat Kerja
Penyakit Akibat Kerja (PAK) atau Occupational Diseases diatur secara ketat dalam regulasi nasional, termasuk Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019. Penyakit ini timbul karena pajanan faktor risiko yang berasal dari aktivitas pekerjaan. Identifikasi dini sangat krusial karena PAK yang terdeteksi lebih awal memiliki peluang pemulihan yang lebih baik dan memungkinkan perusahaan melakukan perbaikan pada hierarki pengendalian risiko.
Berikut adalah kumpulan soal pilihan ganda yang fokus pada materi kesehatan kerja dan PAK, lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasan singkat.
Kumpulan Soal Pilihan Ganda Kesehatan Kerja (Fokus PAK)
Soal 1: Definisi dan Regulasi Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan/atau lingkungan kerja sesuai dengan Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2019 disebut sebagai… A. Penyakit Akibat Hubungan Kerja B. Penyakit Akibat Kerja (PAK) C. Penyakit Menular Industri D. Penyakit Umum pada Pekerja Kunci Jawaban: B
Soal 2: Faktor Risiko Fisika Gangguan kesehatan berupa tuli menetap yang disebabkan oleh paparan kebisingan di atas Nilai Ambang Batas (NAB) secara terus-menerus disebut… A. Presbikusis B. Otitis Media C. Noise Induced Hearing Loss (NIHL) D. Tinnitus Akut Kunci Jawaban: C
Soal 3: Faktor Risiko Kimia (Debu Silika) Penyakit paru kronis yang dialami oleh pekerja di sektor pertambangan, penggalian batu, atau pabrik keramik akibat menghirup debu silika bebas adalah… A. Asbestosis B. Bisinosis C. Silikosis D. Antrakosis Kunci Jawaban: C
Soal 4: Faktor Risiko Biologi Tenaga kesehatan di rumah sakit memiliki risiko tinggi terkena Penyakit Akibat Kerja dari faktor biologi. Salah satu yang paling umum akibat tertusuk jarum suntik bekas adalah… A. TBC B. Hepatitis B dan C C. Influenza D. Dermatitis Kontak Kunci Jawaban: B
Soal 5: Faktor Risiko Ergonomi Pekerja bagian administrasi yang sering menggunakan komputer dengan posisi pergelangan tangan yang tidak netral berisiko mengalami penyempitan saraf medianus yang dikenal dengan… A. Low Back Pain B. Carpal Tunnel Syndrome (CTS) C. Frozen Shoulder D. Tennis Elbow Kunci Jawaban: B
Soal 6: Prosedur Diagnosa Okupasi Dalam menegakkan diagnosa Penyakit Akibat Kerja, dokter harus mengikuti langkah-langkah sistematis. Berapakah jumlah langkah diagnosa okupasi menurut standar internasional dan nasional? A. 3 Langkah B. 5 Langkah C. 7 Langkah D. 10 Langkah Kunci Jawaban: C
Soal 7: Langkah Pertama Diagnosa Apa langkah pertama yang harus dilakukan dokter dalam prosedur diagnosa Penyakit Akibat Kerja? A. Menentukan hubungan sebab akibat B. Menentukan pajanan di lingkungan kerja C. Menentukan diagnosis klinis D. Menentukan faktor individu Kunci Jawaban: C
Soal 8: Faktor Psikososial Tekanan kerja yang sangat tinggi, ketidakjelasan peran, dan konflik interpersonal di tempat kerja dapat memicu gangguan kesehatan kerja berupa… A. Dermatitis B. Stres Kerja (Occupational Stress) C. Asma Kerja D. Hernia Nucleus Pulposus Kunci Jawaban: B
Soal 9: Penyakit Kulit Akibat Kerja Zat kimia seperti deterjen keras, pelarut, atau oli dapat menyebabkan iritasi langsung pada kulit pekerja yang disebut… A. Dermatitis Kontak Alergi B. Dermatitis Kontak Iritan C. Melanoma D. Urtikaria Kunci Jawaban: B
Soal 10: Faktor Risiko Fisika (Getaran) Pekerja yang menggunakan mesin penghancur beton (jackhammer) dalam jangka panjang berisiko mengalami kelainan pembuluh darah dan saraf di tangan yang dikenal sebagai… A. Heat Stroke B. Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS) C. Caisson Disease D. Hypothermia Kunci Jawaban: B
Soal 11: Penyakit Paru (Debu Kapas) Bisinosis adalah penyakit saluran pernapasan yang spesifik ditemukan pada pekerja di industri… A. Semen B. Batubara C. Tekstil dan Kapas D. Kayu Kunci Jawaban: C
Soal 12: Nilai Ambang Batas (NAB) Standar faktor bahaya di tempat kerja sebagai kadar/intensitas rata-rata tertimbang waktu yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit disebut… A. LD50 B. Nilai Ambang Batas (NAB) C. Biological Exposure Indices (BEI) D. Macam-macam Bahaya Kunci Jawaban: B
Soal 13: Logam Berat (Timbal) Paparan kronis logam berat timbal (Pb) pada pekerja pengecatan atau baterai dapat menyebabkan gangguan pada sistem pembentukan darah berupa… A. Leukimia B. Anemia Defisiensi Besi C. Anemia karena gangguan sintesis hemoglobin D. Hipertensi Kunci Jawaban: C
Soal 14: Keganasan Akibat Kerja Penyakit kanker paru atau mesotelioma yang sangat berkaitan erat dengan pajanan serat mineral di masa lalu adalah… A. Silikosis B. Asbestosis C. Beriliosis D. Talcosis Kunci Jawaban: B
Soal 15: Pemeriksaan Kesehatan Kerja Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan awal pekerja sebelum mulai bekerja disebut… A. Pemeriksaan Berkala B. Pemeriksaan Khusus C. Pemeriksaan Pra-Kerja (Pre-employment) D. Pemeriksaan Purna Bakti Kunci Jawaban: C
Analisis Strategi Menjawab Soal Kesehatan Kerja
Dalam menghadapi soal-soal terkait Penyakit Akibat Kerja, penting bagi peserta ujian untuk memiliki pola pikir diagnosis okupasi. Berikut adalah beberapa tips untuk menganalisis soal:
- Identifikasi Agen (Pajanan): Fokus pada jenis zat atau kondisi lingkungan yang disebutkan (misal: kebisingan, debu, posisi duduk).
- Hubungkan dengan Target Organ: Pahami bahwa debu biasanya menyerang paru, kebisingan menyerang telinga, dan gerakan repetitif menyerang sistem otot-rangka (muskuloskeletal).
- Pahami Prinsip Latensi: Ingatlah bahwa PAK tidak terjadi seketika. Jika soal menyebutkan “setelah bekerja selama 10 tahun”, ini adalah petunjuk kuat ke arah PAK.
Penutup dan Pentingnya Upaya Pencegahan
Materi Penyakit Akibat Kerja bukan sekadar hafalan untuk ujian, melainkan instrumen penting untuk melindungi aset perusahaan yang paling berharga, yaitu manusia. Pencegahan PAK selalu lebih efektif dan efisien melalui hierarki pengendalian: eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan Alat Pelindung Diri (APD).
Penulis: marfel



Post Comment