Ternate adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di provinsi Maluku Utara, Indonesia. Kota ini dikenal dengan sejarahnya sebagai pusat perdagangan rempah-rempah sejak abad ke-15 sekaligus memiliki mayoritas penduduk beragama Islam sehingga jadwal sholat menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu momen ibadah yang sangat dinanti setiap hari adalah waktu Maghrib, yaitu saat matahari terbenam dan menandai waktu sholat Maghrib masuk. Artikel ini akan membahas secara lengkap waktu Maghrib pada hari Kamis, 26 Februari 2026 di Ternate, serta panduan, makna, dan panduan ibadah terkait waktu ini.
Menurut jadwal waktu sholat yang akurat dan biasanya digunakan di Ternate serta kota-kota lain di Maluku Utara, waktu Maghrib pada tanggal 26 Februari 2026 di Ternate diperkirakan sekitar 18.46–18.47 WIT (Waktu Indonesia Timur). Waktu ini mencerminkan waktu ketika matahari telah sepenuhnya terbenam di bawah ufuk dan jam genta Maghrib atau adzan Maghrib berkumandang menandai akhir waktu Ashar dan masuknya waktu Maghrib. Berdasarkan perhitungan umum yang tersedia dari jadwal sholat di Ternate, dari sumber terpercaya, waktu Maghrib pada tanggal tersebut tercatat sekitar 18.46 WIT dengan sedikit variasi tergantung metode perhitungan yang dipakai dan lokasi tepat pengamatan di wilayah Ternate.
Pengertian Waktu Maghrib
Waktu Maghrib dalam Islam adalah periode sholat yang dimulai ketika matahari telah terbenam (hilal tidak lagi tampak di ufuk barat) dan berakhir ketika waktu Isya datang. Secara teknis waktu Maghrib dimulai pada saat matahari telah meninggalkan ufuk dan langit menunjukkan semburat warna jingga merah di barat. Waktu ini penting karena merupakan salah satu dari lima waktu sholat wajib yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Untuk kondisi cuaca normal di Ternate pada musim ini, fenomena matahari terbenam umumnya berada pada kisaran 18.45–18.50 WIT pada akhir bulan Februari.
Dalam garis besar penanggalan, waktu Maghrib dapat berbeda beberapa menit setiap hari. Hal ini terjadi karena rotasi bumi terhadap matahari menyebabkan perubahan waktu terbit dan terbenamnya matahari di setiap tempat. Wilayah Tropis seperti Ternate, yang berada cukup dekat dengan garis khatulistiwa, biasanya mengalami variasi waktu terbenamnya matahari yang tidak terlalu ekstrem, jadi perubahan waktunya hanya beberapa menit setiap hari.
Faktor yang Mempengaruhi Jadwal Maghrib
Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi waktu Maghrib di suatu wilayah, termasuk di Ternate:
- Posisi Matahari dan Bumi
Karena bumi berputar setiap hari di sumbunya, posisi matahari berubah sedikit demi sedikit sehingga waktu terbenamnya matahari juga mengalami perubahan harian. Meski perubahan tersebut hanya beberapa detik atau menit di daerah tropis, hal ini tetap mempengaruhi jadwal adzan Maghrib. - Koordinat Geografis
Ternate berada di wilayah timur Indonesia yang mengikuti zona waktu WIT (UTC+9). Perbedaan garis bujur dengan ibu kota seperti Jakarta atau daerah lain yang berada di zona WIB atau WITA menyebabkan perbedaan signifikan dalam jam sholat. Di Ternate, waktu Maghrib biasanya terjadi lebih lambat dibandingkan di kota-kota yang berada di zona waktu barat. - Metode Perhitungan Jadwal Sholat
Ada beberapa metode perhitungan jadwal sholat, seperti Muslim World League, Umm Al-Qura, dan metode lokal lainnya. Meski perbedaan tidak signifikan untuk sholat Maghrib, penggunaan metode yang berbeda dapat menyebabkan waktu yang tercantum dalam jadwal sholat sedikit berbeda, misalnya beberapa menit lebih awal atau lebih lambat. - Topografi dan Lingkungan Tempat Tinggal
Wilayah yang dikelilingi perbukitan, bangunan tinggi, atau kondisi geografis tertentu bisa menyebabkan horizon tidak terlihat dengan jelas. Ini kadang mempengaruhi observasi matahari terbenam secara langsung oleh warga, sehingga umat Islam sering menggunakan jadwal resmi atau aplikasi untuk memastikan waktu Maghrib yang benar.
Baca juga:Mudik Gratis Kemenhub vs Mudik Mandiri: Mana yang Lebih Hemat?
Mengapa Waktu Maghrib Penting dalam Kehidupan Muslim?
Bagi umat Islam, waktu Maghrib merupakan salah satu dari lima waktu sholat wajib harian. Sholat Maghrib adalah sholat keempat dalam urutan sholat wajib setelah Ashar dan sebelum Isya. Dalam kehidupan sehari-hari, waktu Maghrib sering menjadi momen keluarga berkumpul untuk berbuka puasa ketika masuk bulan Ramadan, berhenti bekerja sejenak dari aktivitas harian, dan berdoa bersama sebagai bagian dari ibadah rutin.
Pada waktu Maghrib ini pula berbagai doa disampaikan, termasuk rasa syukur karena telah melalui hari penuh aktivitas dan memohon perlindungan untuk malam hari. Dalam bulan Ramadan, waktu Maghrib memiliki makna emosional dan spiritual yang lebih mendalam karena ditandai dengan berbuka puasa setelah seharian menahan lapar dan haus.
Cara Mengetahui Waktu Maghrib Secara Akurat di Ternate
Untuk mengetahui waktu Maghrib yang akurat di Ternate pada tanggal tertentu seperti 26 Februari 2026, ada beberapa cara yang bisa digunakan:
- Jadwal Sholat Resmi
Umat Islam biasanya menggunakan jadwal sholat resmi yang disusun oleh pemerintah melalui Kementerian Agama atau lembaga resmi setempat. Jadwal ini memperhitungkan posisi astronomis matahari, hisab dan terkadang disertai dengan observasi hilal secara lokal. - Aplikasi Jadwal Sholat
Aplikasi jadwal sholat pada smartphone biasanya dilengkapi dengan fitur notifikasi adzan otomatis sesuai lokasi. Aplikasi ini mempermudah pengguna mengetahui waktu sholat Maghrib secara real time. - Pengamatan Matahari Terbenam
Bagi sebagian masyarakat, metode tradisional seperti mengamati langsung matahari terbenam juga masih dipakai, meskipun jadwal digital lebih umum digunakan saat ini. Namun, pengamatan langsung memiliki faktor subjektif yang tergantung pada klaritas langit. - Konsultasi dengan Masjid atau Takmir setempat
Masjid biasanya menampilkan jadwal sholat terkini yang diperbaharui tiap bulan. Di Ternate, masjid-masjid setempat biasanya memberikan jadwal lengkap untuk semua waktu sholat termasuk Maghrib.
Tips Ibadah Saat Waktu Maghrib
- Berdoa dan Bertasbih
Sebelum memulai sholat Maghrib, luangkan waktu sejenak untuk berdoa dan bertasbih mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allah SWT. Ini membantu menyusun hati dan fokus sebelum sholat. - Berbuka Puasa dengan Sunnah Nabi
Jika saat itu sedang menjalankan ibadah puasa (misalnya di bulan Ramadan), disunnahkan berbuka dengan kurma atau air terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat Maghrib. - Sholat Tepat Waktu
Usahakan melaksanakan sholat Maghrib segera setelah azan berkumandang. Sholat tepat waktu merupakan tanda ketaatan dan keutamaan bagi seorang muslim. - Kumpul Keluarga
Waktu Maghrib sering menjadi momen keluarga berkumpul, terutama setelah beraktivitas seharian. Jadikan ini waktu berkualitas untuk saling berbagi cerita dan doa bersama. - Doa Penutup Hari
Setelah sholat Maghrib, memanjatkan doa untuk keselamatan malam hari, kesehatan, dan kebahagiaan keluarga sangat dianjurkan. Ini memberi ketenangan dan rasa syukur bagi kehidupan sehari-hari.
Penutup
Waktu Maghrib pada hari Kamis, 26 Februari 2026 di Ternate, Maluku Utara diperkirakan jatuh pada sekitar pukul 18.46–18.47 WIT, menandai masuknya waktu sholat Maghrib yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Waktu tersebut merupakan hasil penghitungan astronomis berdasarkan posisi matahari terbenam serta praktik jadwal sholat yang biasa digunakan masyarakat setempat.
penulis:septa
![Dalam materi statistika, simpangan baku dan varian data tunggal menjadi salah satu topik penting yang perlu dipahami. Keduanya digunakan untuk mengetahui seberapa besar penyebaran data terhadap nilai rata-ratanya. Jika data memiliki penyebaran yang kecil, nilai simpangan baku dan variannya juga cenderung kecil. Sebaliknya, semakin jauh data tersebar dari rata-rata, semakin besar pula nilai simpangan baku dan varian. Materi ini sering muncul dalam pembelajaran matematika, terutama ketika membahas statistika dasar. Untuk menguasainya, tidak cukup hanya menghafalkan rumus. Kita juga perlu memahami langkah-langkah menghitung mean, selisih setiap data dengan rata-rata, kuadrat selisih, varian, hingga simpangan baku. Artikel ini akan membahas pengertian, rumus, perbedaan, serta beberapa contoh soal simpangan baku dan varian data tunggal lengkap dengan cara mengerjakannya secara bertahap. Apa Itu Varian? Varian adalah ukuran statistik yang digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran data terhadap nilai rata-ratanya. Varian dihitung dengan mencari rata-rata dari kuadrat selisih setiap data terhadap mean. Dalam data tunggal, terdapat dua jenis rumus varian yang umum digunakan, yaitu varian populasi dan varian sampel. Untuk populasi, rumusnya adalah: σ² = Σ(xᵢ − μ)² / N Keterangan: σ² = varian populasi xᵢ = nilai setiap data μ = rata-rata populasi N = banyak data Σ = jumlah keseluruhan Sementara itu, untuk sampel, rumus varian adalah: s² = Σ(xᵢ − x̄)² / (n − 1) Keterangan: s² = varian sampel xᵢ = nilai setiap data x̄ = rata-rata sampel n = banyak data Dalam soal matematika sekolah, apabila soal menyebutkan sekumpulan data sebagai keseluruhan data yang sedang dianalisis, biasanya digunakan rumus varian populasi. Apa Itu Simpangan Baku? Simpangan baku atau standard deviation adalah akar kuadrat dari varian. Simpangan baku digunakan untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran data dari nilai rata-ratanya. Rumus simpangan baku populasi adalah: σ = √[Σ(xᵢ − μ)² / N] Sedangkan untuk sampel: s = √[Σ(xᵢ − x̄)² / (n − 1)] Karena simpangan baku merupakan akar dari varian, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Jika diketahui: Varian = 16 maka: Simpangan baku = √16 = 4 Jadi, semakin besar nilai varian, biasanya semakin besar pula simpangan bakunya. Perbedaan Varian dan Simpangan Baku Meskipun saling berkaitan, varian dan simpangan baku bukanlah hal yang sama. Varian merupakan rata-rata kuadrat penyimpangan data dari mean. Sementara itu, simpangan baku merupakan akar kuadrat dari varian. Contohnya, jika suatu kumpulan data memiliki varian sebesar 25, maka simpangan bakunya adalah: √25 = 5 Perbedaan lainnya terletak pada satuan. Varian menggunakan satuan yang dikuadratkan, sedangkan simpangan baku memiliki satuan yang sama dengan data aslinya. Karena alasan tersebut, simpangan baku sering kali lebih mudah digunakan untuk menginterpretasikan penyebaran data. Langkah-Langkah Menghitung Varian dan Simpangan Baku Data Tunggal Untuk menyelesaikan soal, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan. 1. Hitung nilai rata-rata Jumlahkan seluruh data, kemudian bagi dengan banyaknya data. Mean = jumlah seluruh data / banyak data 2. Hitung selisih setiap data dengan mean Setiap nilai data dikurangi dengan rata-rata. xᵢ − x̄ 3. Kuadratkan setiap selisih Hasil pengurangan tadi kemudian dikuadratkan. (xᵢ − x̄)² 4. Jumlahkan seluruh kuadrat selisih Setelah semua data dihitung, jumlahkan hasil kuadrat tersebut. Σ(xᵢ − x̄)² 5. Hitung varian Untuk populasi, jumlah kuadrat selisih dibagi dengan banyak data. 6. Hitung simpangan baku Simpangan baku diperoleh dengan mencari akar kuadrat dari varian. Contoh Soal 1: Menghitung Varian Data Tunggal Soal: Diketahui data nilai ulangan matematika lima siswa sebagai berikut: 6, 7, 8, 9, 10 Tentukan nilai varian dari data tersebut! Pembahasan Langkah pertama adalah menghitung rata-rata. Jumlah data: 6 + 7 + 8 + 9 + 10 = 40 Banyak data: n = 5 Maka: Mean = 40 / 5 = 8 Selanjutnya, hitung selisih setiap data dengan rata-rata. Data (x) x − mean (x − mean)² 6 -2 4 7 -1 1 8 0 0 9 1 1 10 2 4 Jumlah 0 10 Jumlah kuadrat selisih adalah: Σ(x − x̄)² = 10 Karena data tersebut dianggap sebagai populasi, maka: Varian = 10 / 5 Varian = 2 Jadi, varian data tersebut adalah 2. Contoh Soal 2: Menghitung Simpangan Baku Data Tunggal Soal: Tentukan simpangan baku dari data berikut: 5, 6, 7, 8, 9 Pembahasan Pertama, tentukan rata-rata. Jumlah data: 5 + 6 + 7 + 8 + 9 = 35 Banyak data: 5 Maka: Mean = 35 / 5 = 7 Selanjutnya, buat tabel perhitungan. Data x − mean (x − mean)² 5 -2 4 6 -1 1 7 0 0 8 1 1 9 2 4 Jumlah 0 10 Varian: σ² = 10 / 5 = 2 Simpangan baku: σ = √2 Jadi, simpangan bakunya adalah: √2 ≈ 1,41 Dengan demikian, simpangan baku data tersebut sekitar 1,41. Contoh Soal 3: Varian dan Simpangan Baku Sekaligus Soal: Diketahui data tinggi tanaman dalam satu kelompok adalah: 10, 12, 14, 16, 18 Tentukan: Mean Varian Simpangan baku Pembahasan Langkah 1: Menghitung Mean Jumlah seluruh data: 10 + 12 + 14 + 16 + 18 = 70 Banyak data: 5 Maka: Mean = 70 / 5 = 14 Langkah 2: Menghitung Kuadrat Selisih Data x − 14 (x − 14)² 10 -4 16 12 -2 4 14 0 0 16 2 4 18 4 16 Jumlah 0 40 Langkah 3: Menghitung Varian Karena terdapat lima data: σ² = 40 / 5 σ² = 8 Jadi, variannya adalah 8. Langkah 4: Menghitung Simpangan Baku Simpangan baku merupakan akar dari varian. σ = √8 Karena: √8 = √(4 × 2) maka: σ = 2√2 Jika dibulatkan: σ ≈ 2,83 Jadi, hasil akhirnya adalah: Mean = 14 Varian = 8 Simpangan baku ≈ 2,83 Contoh Soal 4: Data dengan Nilai yang Lebih Bervariasi Soal: Perhatikan data berikut: 4, 6, 8, 10, 12, 14 Hitunglah varian dan simpangan bakunya! Pembahasan Jumlah data: 4 + 6 + 8 + 10 + 12 + 14 = 54 Banyak data: 6 Mean: 54 / 6 = 9 Selanjutnya: Data x − 9 (x − 9)² 4 -5 25 6 -3 9 8 -1 1 10 1 1 12 3 9 14 5 25 Jumlah 0 70 Maka varian: σ² = 70 / 6 σ² = 11,67 Kemudian simpangan baku: σ = √11,67 σ ≈ 3,42 Jadi, varian data adalah sekitar 11,67, sedangkan simpangan bakunya sekitar 3,42. Contoh Soal 5: Menghitung Simpangan Baku dari Data Nilai Siswa Soal: Nilai lima siswa dalam sebuah tes adalah: 70, 75, 80, 85, 90 Tentukan varian dan simpangan bakunya! Pembahasan Pertama, hitung rata-rata: Mean = (70 + 75 + 80 + 85 + 90) / 5 Mean = 400 / 5 Mean = 80 Kemudian hitung kuadrat selisih setiap data. Nilai Selisih dari Mean Kuadrat Selisih 70 -10 100 75 -5 25 80 0 0 85 5 25 90 10 100 Jumlah 0 250 Varian: σ² = 250 / 5 σ² = 50 Simpangan baku: σ = √50 σ = 5√2 σ ≈ 7,07 Jadi, varian data adalah 50 dan simpangan bakunya sekitar 7,07. Contoh Soal 6: Menentukan Varian Jika Simpangan Baku Diketahui Soal: Sebuah kumpulan data memiliki simpangan baku sebesar 6. Tentukan nilai variannya! Pembahasan Hubungan antara varian dan simpangan baku adalah: Simpangan baku = √Varian Karena simpangan baku diketahui sebesar 6, maka: Varian = 6² Varian = 36 Jadi, nilai variannya adalah 36. Soal seperti ini relatif lebih mudah karena tidak perlu menghitung mean dan penyimpangan masing-masing data. Contoh Soal 7: Membandingkan Penyebaran Dua Data Soal: Diketahui dua kelompok data berikut. Kelompok A: 7, 8, 9, 10, 11 Kelompok B: 3, 6, 9, 12, 15 Kelompok manakah yang memiliki penyebaran data lebih besar berdasarkan simpangan baku? Pembahasan Kedua kelompok memiliki mean yang sama. Kelompok A: Mean = 9 Kuadrat selisih: 4 + 1 + 0 + 1 + 4 = 10 Varian: 10 / 5 = 2 Simpangan baku: √2 ≈ 1,41 Untuk Kelompok B: Mean = 9 Kuadrat selisih: 36 + 9 + 0 + 9 + 36 = 90 Varian: 90 / 5 = 18 Simpangan baku: √18 ≈ 4,24 Dari hasil tersebut, terlihat bahwa kedua kelompok memiliki rata-rata yang sama, tetapi penyebarannya berbeda. Kelompok A memiliki simpangan baku sekitar 1,41, sedangkan Kelompok B sekitar 4,24. Artinya, nilai-nilai pada Kelompok B tersebar lebih jauh dari rata-ratanya dibandingkan Kelompok A. Tips Cepat Mengerjakan Soal Simpangan Baku dan Varian Agar tidak mudah salah ketika mengerjakan soal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 1. Jangan langsung menggunakan rumus simpangan baku Pastikan nilai rata-rata sudah benar terlebih dahulu. Kesalahan pada mean akan memengaruhi seluruh perhitungan berikutnya. 2. Perhatikan tanda negatif Ketika menghitung selisih data dengan mean, hasilnya bisa negatif. Namun, setelah dikuadratkan, hasilnya selalu positif. Misalnya: (6 − 8)² = (-2)² = 4 Bukan -4. 3. Bedakan varian dengan simpangan baku Varian dan simpangan baku memiliki hubungan, tetapi nilainya berbeda. Jika varian = 9, maka: Simpangan baku = √9 = 3 4. Perhatikan apakah data merupakan populasi atau sampel Jika soal meminta varian atau simpangan baku populasi, pembaginya adalah N. Jika soal meminta ukuran sampel dengan rumus sampel, pembaginya adalah n − 1. 5. Gunakan tabel untuk mengurangi kesalahan Untuk data yang cukup banyak, tabel dengan kolom data, selisih dari mean, dan kuadrat selisih akan membuat proses perhitungan lebih teratur. Kesalahan yang Sering Terjadi Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat mengerjakan soal simpangan baku dan varian. Pertama, salah menghitung mean. Karena mean menjadi dasar untuk mencari penyimpangan, kesalahan kecil pada tahap ini dapat membuat hasil akhir salah. Kedua, lupa mengkuadratkan selisih. Varian menggunakan kuadrat dari selisih data dengan rata-rata, bukan selisih biasa. Ketiga, salah menentukan pembagi. Untuk populasi digunakan N, sedangkan pada rumus sampel digunakan n − 1. Keempat, menganggap varian sama dengan simpangan baku. Padahal, simpangan baku adalah akar kuadrat dari varian. Kelima, terburu-buru melakukan pembulatan. Sebaiknya gunakan nilai yang lebih presisi selama proses perhitungan dan lakukan pembulatan pada hasil akhir. Kesimpulan Simpangan baku dan varian data tunggal merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran suatu kumpulan data terhadap nilai rata-ratanya. Varian diperoleh dengan menghitung rata-rata kuadrat selisih setiap data terhadap mean, sedangkan simpangan baku diperoleh dengan mengambil akar kuadrat dari varian. Untuk mengerjakan soal, langkah yang paling aman adalah menghitung mean terlebih dahulu, kemudian mencari selisih setiap data dengan mean, mengkuadratkan selisih tersebut, menjumlahkannya, dan membaginya sesuai jenis data yang digunakan. Setelah mendapatkan varian, simpangan baku dapat diperoleh dengan cara mengambil akar kuadratnya. Dengan memahami alur tersebut, berbagai contoh soal simpangan baku dan varian data tunggal dapat dikerjakan secara lebih mudah dan sistematis. Kunci utamanya bukan hanya menghafal rumus, tetapi memahami hubungan antara rata-rata, penyebaran data, varian, dan simpangan baku.](https://daftarsekolah.spmb.teknokrat.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Gemini_Generated_Image_stezgqstezgqstez.jpeg)


Post Comment