Contoh Soal Kasus Penyakit Akibat Kerja untuk Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan

Views: 3

Dunia kesehatan kerja merupakan irisan penting antara ilmu medis, keperawatan, dan kesehatan masyarakat. Bagi mahasiswa di bidang ini, memahami teori Penyakit Akibat Kerja (PAK) saja tidaklah cukup. Kemampuan melakukan analisis kasus secara sistematis adalah kompetensi inti yang akan diuji dalam Uji Kompetensi (UKOM) maupun dalam praktik nyata di lapangan nantinya.

Baca juga:Mengapa Persiapan TPU Bank Sumut Sangat Penting

Penyakit Akibat Kerja (PAK) sering kali bersifat laten dan tersamar. Berbeda dengan kecelakaan kerja yang traumatis, PAK memerlukan ketajaman detektif klinis untuk menghubungkan keluhan pasien dengan riwayat pajanannya di tempat kerja. Artikel ini menyajikan kumpulan contoh soal kasus yang dirancang khusus untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mahasiswa Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, lengkap dengan pembahasan menggunakan pendekatan 7 Langkah Diagnosis Okupasi.

Pentingnya Studi Kasus dalam Pembelajaran PAK

Mahasiswa Keperawatan perlu memahami PAK untuk memberikan asuhan keperawatan komunitas dan okupasi yang tepat, sementara mahasiswa Kesehatan Masyarakat fokus pada identifikasi risiko populasi dan pencegahan primer. Studi kasus membantu menjembatani celah antara gejala klinis (apa yang dirasakan pasien) dengan faktor risiko lingkungan (apa yang ada di tempat kerja).


Kumpulan Soal Kasus Penyakit Akibat Kerja

Berikut adalah simulasi kasus yang sering muncul dalam ujian dan praktik lapangan:

Kasus 1: Keluhan Pernapasan pada Pekerja Konstruksi

Narasi Kasus:

Tuan A (45 tahun) bekerja sebagai operator mesin sandblasting di sebuah proyek renovasi jembatan selama 10 tahun. Ia datang ke poliklinik perusahaan dengan keluhan sesak napas yang semakin berat dalam 6 bulan terakhir, disertai batuk kering kronis. Hasil Rontgen Thorax menunjukkan adanya gambaran nodul halus di lobus atas paru dan pola “egg-shell calcification” pada kelenjar getah bening hilus. Tuan A mengaku jarang menggunakan masker respirator karena merasa pengap.

Pertanyaan:

  1. Berdasarkan pajanan dan hasil rontgen, apa diagnosis okupasi yang paling mungkin?
  2. Apa faktor risiko utama (agen) dalam kasus ini?

Kunci Jawaban & Pembahasan:

  1. Diagnosis: Silikosis.
  2. Agen: Debu silika bebas ($SiO_2$) yang dihasilkan dari proses sandblasting.Analisis: Gambaran “egg-shell calcification” adalah tanda radiologis klasik untuk silikosis, sebuah bentuk pneumokoniosis yang disebabkan oleh inhalasi debu kristal silika.

Kasus 2: Gangguan Pendengaran pada Operator Mesin

Narasi Kasus:

Seorang perawat di bagian Occupational Health Nursing (OHN) melakukan skrining pada sekelompok pekerja di bagian mesin produksi tekstil. Salah satu pekerja, Tuan B (38 tahun), mengeluh telinganya sering berdenging (tinnitus) terutama setelah pulang kerja. Ia merasa kesulitan mendengar pembicaraan rekan kerjanya jika berada di area produksi. Hasil tes audiometri menunjukkan adanya penurunan ambang pendengaran (tuli sensorineural) pada frekuensi 4000 Hz (v-notch).

Pertanyaan:

  1. Penyakit apa yang dialami oleh Tuan B?
  2. Apa tindakan pencegahan primer yang paling tepat disarankan oleh ahli Kesehatan Masyarakat untuk kasus ini?

Kunci Jawaban & Pembahasan:

  1. Diagnosis: Noise Induced Hearing Loss (NIHL) atau Tuli Akibat Bising.
  2. Pencegahan Primer: Pengendalian teknik (engineering control) seperti pemasangan peredam suara pada mesin atau isolasi mesin, serta kewajiban penggunaan Alat Pelindung Telinga (Earplug/Earmuff).Analisis: Takik pada frekuensi 4000 Hz adalah ciri khas dari tuli akibat paparan bising industri yang kronis.

Kasus 3: Kelainan Kulit pada Pekerja Kebersihan

Narasi Kasus:

Ny. C adalah seorang petugas kebersihan (cleaning service) yang bertugas mencuci lantai dan peralatan menggunakan bahan pembersih kimia konsentrat setiap hari. Ia datang dengan keluhan kulit tangan yang kering, pecah-pecah, kemerahan, dan terasa gatal serta panas. Keluhan membaik saat Ny. C sedang cuti panjang (libur kerja) dan muncul kembali saat mulai bekerja kembali.

Pertanyaan:

  1. Apa jenis penyakit kulit yang dialami Ny. C?
  2. Jelaskan mengapa riwayat “membaik saat libur” menjadi poin penting dalam diagnosa okupasi!

Kunci Jawaban & Pembahasan:

  1. Diagnosis: Dermatitis Kontak Iritan (DKI) Akibat Kerja.
  2. Analisis: Hubungan waktu (time relationship) di mana gejala mereda saat jauh dari pajanan dan muncul kembali saat terpajan adalah kriteria kuat dalam menentukan bahwa penyakit tersebut berasal dari lingkungan kerja (langkah ke-3 diagnosa okupasi).

Kasus 4: Nyeri Pinggang pada Staf Administrasi

Narasi Kasus:

Seorang staf data entry, Nn. D (25 tahun), mengeluh nyeri punggung bawah (low back pain) dan kaku pada leher setelah bekerja 8 jam di depan komputer. Hasil observasi menunjukkan kursi yang digunakan tidak memiliki sandaran punggung yang ergonomis dan posisi monitor terlalu rendah sehingga Nn. D harus membungkuk.

Pertanyaan:

  1. Faktor risiko apa yang menyebabkan keluhan Nn. D?
  2. Intervensi keperawatan okupasi apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko ini?

Kunci Jawaban & Pembahasan:

  1. Faktor Risiko: Faktor Ergonomi (postur janggal, posisi statis dalam waktu lama, dan peralatan kerja yang tidak sesuai/antropometri).
  2. Intervensi: Edukasi mengenai posisi duduk ergonomis (90-90-90 rule), penyesuaian tinggi monitor, penyediaan kursi ergonomis, dan peregangan (stretching) setiap 2 jam sekali.

Strategi Analisis Menggunakan 7 Langkah Diagnosis Okupasi

Untuk mahasiswa, saat menjawab soal kasus, gunakanlah kerangka berpikir 7 langkah yang ditetapkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI):

  1. Diagnosis Klinis: Tentukan penyakitnya secara medis (misal: Asma Kerja).
  2. Pajanan di Tempat Kerja: Identifikasi apa zat berbahaya atau kondisi lingkungannya (misal: uap zat kimia).
  3. Hubungan Pajanan dengan Penyakit: Apakah secara ilmiah pajanan tersebut memang bisa menyebabkan penyakit tersebut?
  4. Besarnya Pajanan: Apakah pajanannya cukup besar dan cukup lama untuk menyebabkan sakit?
  5. Faktor Individu: Apakah pasien punya riwayat alergi atau genetik?
  6. Faktor di Luar Kerja: Apakah pasien terpajan hal yang sama di rumah atau hobi?
  7. Menetapkan Diagnosa PAK: Berdasarkan langkah 1-6, apakah penyakit ini murni PAK, diperberat oleh pekerjaan, atau bukan PAK.

Tips Sukses Mengerjakan Soal Kasus PAK

  • Perhatikan Masa Kerja: PAK biasanya tidak terjadi dalam satu malam (kecuali keracunan akut). Carilah keterangan berapa lama subjek telah bekerja.
  • Identifikasi Alat Pelindung Diri (APD): Dalam soal, sering disebutkan “pekerja tidak menggunakan masker” atau “earplug tidak pas”. Ini adalah petunjuk kegagalan proteksi.
  • Lihat Hasil Lab/Penunjang: Audiometri untuk pendengaran, Spirometri untuk paru, dan Biomonitoring (tes urin/darah) untuk paparan kimia adalah kunci jawaban.

Baca juga:Universitas Teknokrat Indonesia Pamerkan Cookies Premium Bonava Karya Mahasiswa FEB di Teknokrat Academic Expo 2026

Kesimpulan

Soal-soal kasus di atas menunjukkan bahwa Penyakit Akibat Kerja sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat individu menghabiskan sepertiga waktunya setiap hari. Sebagai calon tenaga kesehatan, mahasiswa harus mampu melihat melampaui gejala klinis dan mulai menanyakan pertanyaan krusial: “Apa pekerjaan Anda?” dan “Apa yang Anda lakukan di sana?”.

Penulis: marfel

Views: 3

Post Comment