Karya sastra cerpen atau cerita pendek tidak hanya dibangun oleh alur yang menarik dan karakter yang kuat, tetapi juga oleh keindahan bahasa yang digunakan penulisnya. Salah satu elemen kunci yang menghidupkan narasi dalam cerpen adalah penggunaan majas atau gaya bahasa. Bagi siswa, mahasiswa, maupun peminat sastra, memahami majas bukan sekadar menghafal definisi, melainkan melatih kepekaan dalam menangkap makna tersirat dan emosi yang ingin disampaikan penulis.
Artikel ini menyajikan ulasan mendalam mengenai jenis-jenis majas yang sering muncul dalam cerpen disertai dengan kumpulan contoh soal beserta kunci jawabannya untuk membantu Anda menguasai materi ini dengan lebih baik.
Baca juga: Memahami Karakteristik Soal Ujian Mandiri Ekonomi
Pentingnya Majas dalam Penulisan Cerpen
Majas adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, penyimpangan dari bahasa sehari-hari, atau penggunaan kata-kata kiasan untuk memperoleh efek tertentu. Dalam cerpen, majas berfungsi untuk:
- Memberikan efek imajinatif kepada pembaca.
- Memperkuat kesan emosional dalam sebuah adegan.
- Menghindari kebosanan akibat penggunaan bahasa yang terlalu literal atau lugas.
- Menjelaskan sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret melalui perbandingan.
Jenis Majas yang Sering Muncul dalam Cerpen
Sebelum masuk ke contoh soal, kita perlu menyegarkan ingatan mengenai klasifikasi majas yang paling sering digunakan oleh para cerpenis:
Majas Perbandingan Majas ini membandingkan dua hal yang dianggap memiliki kemiripan. Contohnya adalah personifikasi (benda mati seolah hidup), metafora (perbandingan langsung tanpa kata hubung), dan simile (perbandingan menggunakan kata hubung seperti, bak, laksana).
Majas Pertentangan Majas yang menggambarkan dua hal yang berlawanan atau bertentangan. Contohnya adalah hiperbola (melebih-lebihkan sesuatu), litotes (merendahkan diri), dan paradoks (pernyataan yang seolah berlawanan namun mengandung kebenaran).
Majas Sindiran Digunakan untuk menyindir seseorang atau keadaan. Contohnya adalah ironi (mengatakan kebalikan dari fakta), sinisme (sindiran kasar), dan sarkasme (sindiran yang sangat pedas).
Majas Penegasan Berfungsi untuk mempertegas suatu maksud. Contohnya adalah pleonisme (menggunakan kata yang maknanya sama secara berulang) dan repetisi (pengulangan kata).
Kumpulan Contoh Soal Majas dalam Cerpen
Berikut adalah latihan soal yang dirancang menyerupai format ujian sekolah maupun tes masuk perguruan tinggi, dengan fokus pada analisis teks cerpen.
Soal 1 Bacalah kutipan cerpen berikut: “Angin malam membisikkan rahasia kelam di telinga Sarah saat ia melintasi pemakaman tua itu. Pepohonan kamboja tampak menunduk lesu, seolah turut berduka atas kehilangan yang dialami gadis itu.”
Majas yang dominan pada kutipan di atas adalah… A. Metafora B. Personifikasi C. Hiperbola D. Paradoks E. Litotes
Soal 2 Perhatikan kalimat berikut: “Semangatnya sekeras baja, tak goyah sedikit pun meski badai ujian menghantam hidupnya berkali-kali.”
Kalimat tersebut mengandung majas… A. Simile B. Ironi C. Metafora D. Personifikasi E. Repetisi
Soal 3 “Suaranya yang menggelegar membelah angkasa membuat seluruh penghuni desa terbangun dari tidurnya dalam sekejap.”
Gaya bahasa yang digunakan dalam kalimat tersebut adalah… A. Litotes B. Sinisme C. Hiperbola D. Pleonisme E. Alusi
Soal 4 “Apalah arti kehadiranku ini, hanya sebutir debu di hamparan padang pasir yang luas bagi perusahaan sebesar ini.”
Majas yang terdapat pada kalimat di atas bertujuan untuk menunjukkan kerendahan hati, yaitu… A. Hiperbola B. Litotes C. Ironi D. Personifikasi E. Metafora
Soal 5 “Si raja siang telah kembali ke peraduannya, meninggalkan rona merah di ufuk barat yang kian memudar.”
Frasa “si raja siang” dalam kutipan cerpen tersebut merupakan contoh majas… A. Metafora B. Metonimia C. Personifikasi D. Sinekdok E. Eufemisme
Soal 6 “Dia merasa kesepian di tengah keramaian kota Jakarta yang tak pernah tidur.”
Kalimat tersebut mengandung majas… A. Repetisi B. Paradoks C. Litotes D. Hiperbola E. Simile
Soal 7 “Bersih sekali kamarmu, sampai-sampai aku tidak bisa menemukan tempat untuk sekadar berdiri karena tumpukan baju kotor ini.”
Kalimat di atas menggunakan gaya bahasa… A. Sarkasme B. Sinisme C. Ironi D. Metafora E. Pleonisme
Soal 8 “Ibu itu bekerja membanting tulang demi menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.”
Ungkapan “membanting tulang” dikategorikan sebagai majas… A. Personifikasi B. Metafora C. Hiperbola D. Litotes E. Paradoks
Soal 9 “Dewi malam mulai menampakkan sinarnya yang pucat, menerangi jalan setapak yang sunyi.”
Kata “Dewi malam” merujuk pada bulan. Penggunaan gaya bahasa ini disebut… A. Metafora B. Personifikasi C. Metonimia D. Simile E. Hiperbola
Soal 10 “Cinta itu laksana lilin, menerangi kegelapan namun perlahan habis membakar diri sendiri.”
Majas yang digunakan adalah… A. Metafora B. Simile C. Personifikasi D. Litotes E. Ironi
Kunci Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Jawaban Soal 1: B (Personifikasi) Pembahasan: Kalimat “Angin malam membisikkan rahasia” dan “pepohonan kamboja menunduk lesu” memberikan sifat manusia (membisikkan dan menunduk lesu/berduka) kepada benda mati atau unsur alam.
Jawaban Soal 2: C (Metafora) Pembahasan: Kalimat tersebut membandingkan semangat dengan baja secara langsung tanpa menggunakan kata pembanding (seperti/laksana). “Sekeras baja” di sini menekankan kekuatan mental tokoh.
Jawaban Soal 3: C (Hiperbola) Pembahasan: Ungkapan “menggelegar membelah angkasa” merupakan penggambaran yang berlebihan dan tidak masuk akal secara harfiah, bertujuan untuk menekankan kerasnya suara tersebut.
Jawaban Soal 4: B (Litotes) Pembahasan: Majas litotes digunakan untuk merendahkan diri. Membandingkan diri sendiri dengan “sebutir debu” adalah upaya untuk mengecilkan eksistensi diri demi kesopanan atau kerendahan hati.
Jawaban Soal 5: A (Metafora) Pembahasan: “Si raja siang” adalah penggantian nama untuk matahari berdasarkan karakteristiknya yang menguasai siang hari. Ini adalah bentuk metafora yang sudah umum (metafora mati).
Jawaban Soal 6: B (Paradoks) Pembahasan: Ada pertentangan dalam satu situasi, yaitu “kesepian” di tengah “keramaian”. Kondisi ini secara logika berlawanan namun nyata terjadi secara psikologis.
Jawaban Soal 7: C (Ironi) Pembahasan: Ironi adalah sindiran halus dengan menyatakan hal yang berkebalikan. Mengatakan “bersih sekali” padahal faktanya “banyak tumpukan baju kotor”.
Jawaban Soal 8: B (Metafora) Pembahasan: “Membanting tulang” adalah ungkapan kiasan yang membandingkan kerja keras dengan aktivitas fisik yang ekstrem. Ini merupakan metafora yang sudah menjadi idiom dalam bahasa Indonesia.
Jawaban Soal 9: A (Metafora) Pembahasan: Sama seperti soal nomor 5, “Dewi malam” adalah analogi langsung untuk bulan.
Jawaban Soal 10: B (Simile) Pembahasan: Penggunaan kata “laksana” adalah ciri utama majas simile atau asosiasi, yang secara eksplisit membandingkan dua hal berbeda namun dianggap mirip.
Baca juga: Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Salurkan Donasi untuk Korban Bencana Sumatera melalui ICMI
Tips Menganalisis Majas dalam Cerpen
Untuk memudahkan Anda dalam mengidentifikasi majas saat membaca cerpen atau mengerjakan soal, ikuti langkah-langkah berikut:
- Perhatikan Konteks: Jangan hanya melihat satu kata, tetapi lihatlah kalimat secara utuh. Apakah kata tersebut bermakna sebenarnya atau kiasan?
- Cari Kata Kunci: Kata-kata seperti “seperti”, “bak”, “laksana”, “bagai” hampir selalu merujuk pada simile. Sementara kata-kata yang tidak masuk akal secara fisik (seperti matahari yang tertawa) merujuk pada personifikasi.
- Rasakan Emosinya: Jika kalimat tersebut terasa sangat melebih-lebihkan sesuatu, kemungkinan besar itu adalah hiperbola. Jika kalimatnya terasa menusuk atau menyakitkan, carilah di kategori majas sindiran.
- Pahami Budaya: Banyak majas dalam cerpen Indonesia menggunakan ungkapan tradisional atau idiom lokal. Memperbanyak literasi akan sangat membantu mengenali metafora-metafora tersebut.
Dengan memahami dan berlatih melalui contoh soal di atas, kemampuan Anda dalam menganalisis teks sastra akan meningkat secara signifikan. Majas bukan sekadar hiasan, melainkan jiwa yang membuat sebuah cerita pendek terasa hidup dan menyentuh hati pembacanya.
Penulis: Aripin
Post Comment