×

Strategi Produksi Pengejaran yang Efektif Contoh Soal Chase Strategy dan Pembahasannya

Dalam dunia manajemen operasi, perusahaan dituntut untuk mampu memenuhi permintaan pasar secara efisien. Salah satu metode perencanaan kapasitas dan produksi yang sering digunakan adalah Chase Strategy atau strategi pengejaran. Metode ini bertujuan menyesuaikan tingkat produksi secara langsung dengan fluktuasi permintaan, sehingga stok persediaan tetap minimum. Artikel ini akan membahas konsep Chase Strategy, kelebihan dan kekurangannya, serta menyediakan contoh soal lengkap dengan pembahasan untuk membantu Anda memahaminya secara mendalam.

Baca juga:Panduan Lengkap Benefit Cost Ratio dengan Contoh

Memahami Apa Itu Chase Strategy
Chase Strategy adalah strategi penjadwalan produksi yang berfokus pada penyesuaian output produksi agar sesuai dengan permintaan pasar. Ketika permintaan naik, perusahaan dapat menambah tenaga kerja atau menambah jam kerja. Sebaliknya, ketika permintaan turun, perusahaan dapat mengurangi tenaga kerja atau mengurangi jam kerja. Strategi ini bertujuan meminimalkan biaya penyimpanan persediaan.

Beberapa karakteristik utama strategi ini adalah produksi mengikuti permintaan, meminimalkan level persediaan, fleksibilitas tenaga kerja tinggi, serta penyesuaian kapasitas dapat terjadi setiap periode.

Kelebihan dan Kekurangan Chase Strategy
Penggunaan Chase Strategy memiliki beberapa kelebihan yang signifikan. Di antaranya adalah jumlah persediaan yang rendah sehingga biaya penanganan lebih kecil, produksi selalu mengikuti permintaan sehingga perusahaan tidak overproduction, dan cocok untuk produk yang memiliki biaya penyimpanan tinggi.

🔖 Baca juga:
Strategi Tembus NIP: Kumpulan Contoh Soal CPNS SKD 2026 Terlengkap Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan Mendalam

Meskipun begitu, strategi ini juga memiliki kekurangan. Biaya rekrutmen dan PHK bisa tinggi jika tenaga kerja harus terus disesuaikan setiap periode. Selain itu, kondisi tenaga kerja bisa menjadi kurang stabil dan menurunkan moral jika terlalu sering mengalami pergantian atau perubahan jam kerja drastis.

Contoh Soal Chase Strategy 1 (Penyesuaian Tenaga Kerja)
Sebuah perusahaan ingin menerapkan Chase Strategy dalam perencanaan produksi triwulan. Data permintaan dan kapasitas tenaga kerja adalah sebagai berikut:

Permintaan Januari: 700 unit
Permintaan Februari: 900 unit
Permintaan Maret: 600 unit
Setiap karyawan mampu memproduksi 100 unit per bulan. Biaya mempekerjakan karyawan baru adalah Rp400.000, sedangkan biaya memberhentikan karyawan adalah Rp300.000. Saat ini perusahaan memiliki 7 karyawan.

Pertanyaan:
a. Berapa kebutuhan tenaga kerja untuk tiap bulan?
b. Berapa total biaya penyesuaian tenaga kerja selama tiga bulan?

Pembahasan:
a. Hitung jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan:
Januari: 700 unit / 100 = 7 karyawan
Februari: 900 unit / 100 = 9 karyawan
Maret: 600 unit / 100 = 6 karyawan

b. Hitung perubahan tenaga kerja per bulan
Januari: Tenaga kerja tetap 7 → Tidak ada biaya
Februari: Tambah dari 7 ke 9 → Tambah 2 orang × Rp400.000 = Rp800.000
Maret: Kurang dari 9 ke 6 → Kurangi 3 orang × Rp300.000 = Rp900.000

Total biaya = Rp800.000 + Rp900.000 = Rp1.700.000

Contoh Soal Chase Strategy 2 (Perencanaan Jam Kerja)
Sebuah perusahaan memilih menggunakan lembur daripada menambah karyawan. Data permintaan sebagai berikut:
April: 1.200 unit
Mei: 1.000 unit
Juni: 1.400 unit
Jumlah karyawan tetap: 10 orang
Produksi reguler per karyawan: 100 unit per bulan
Produksi lembur per karyawan: tambahan 20 unit
Biaya lembur per unit: Rp5.000

Pertanyaan:
a. Berapa kebutuhan lembur pada tiap bulan?
b. Berapa total biaya lembur?

Pembahasan:
Hitung produksi reguler:
10 karyawan × 100 unit = 1.000 unit reguler per bulan.

April: Permintaan 1.200 → kekurangan 200 unit
Mei: 1.000 → tidak ada kekurangan
Juni: 1.400 → kekurangan 400 unit

Produksi lembur per bulan untuk seluruh karyawan:
10 karyawan × 20 unit = 200 unit lembur maksimal

Kebutuhan lembur yang digunakan:
April: 200 unit
Mei: 0 unit
Juni: 200 unit (karena hanya mampu 200, maka perusahaan perlu alternatif lain jika permintaan masih kurang)

Total biaya lembur:
April: 200 × Rp5.000 = Rp1.000.000
Juni: 200 × Rp5.000 = Rp1.000.000
Total biaya = Rp2.000.000

Contoh Soal Chase Strategy 3 (Perencanaan Campuran)
Pabrik memiliki alternatif menggunakan tenaga kerja musiman selain tenaga kerja tetap. Berikut data permintaan:
Juli: 800 unit
Agustus: 1.100 unit
September: 900 unit

Kapasitas produksi reguler: 700 unit per bulan
Produksi tenaga kerja musiman: 150 unit per orang
Biaya tenaga kerja musiman: Rp500.000 per orang

Pertanyaan:
a. Berapa jumlah pekerja musiman yang dibutuhkan?
b. Berapa total biayanya?

Baca juga:Ketua Badan Pengelola Masjid Al Hijrah, Nasrullah Yusuf Sambut Peserta Tablig Akbar Indonesia Berdoa 2025

Pembahasan:
Juli: 800 – 700 = 100 unit kekurangan → Tidak perlu pekerja musiman (tidak dapat memenuhi minimum 150 unit)
Agustus: 1.100 – 700 = 400 unit → 400 / 150 = 2,6 → butuh 3 orang
September: 900 – 700 = 200 unit → 200 / 150 = 1,3 → butuh 2 orang

Total biaya pekerja musiman = (3 × Rp500.000) + (2 × Rp500.000) = Rp1.500.000 + Rp1.000.000 = Rp2.500.000

Kesimpulan
Chase Strategy merupakan strategi produksi yang efektif untuk perusahaan yang menghadapi permintaan fluktuatif dan ingin menghindari tingginya biaya persediaan. Dengan menyesuaikan tenaga kerja dan jam kerja mengikuti permintaan, perusahaan dapat tetap kompetitif serta mengoptimalkan biaya operasional. Melalui contoh soal di atas, Anda dapat memahami bagaimana perhitungan dilakukan dan bagaimana strategi ini diterapkan dalam keputusan nyata perusahaan. Strategi pengejaran akan selalu relevan terutama pada industri yang membutuhkan fleksibilitas tinggi dalam produksi.

Penulis: Maharani Noeralifa

Post Comment