Pendahuluan
Dalam dunia akuntansi, perusahaan dagang merupakan jenis perusahaan yang kegiatan utamanya adalah membeli barang dagangan dan menjualnya kembali tanpa mengubah bentuk barang tersebut. Salah satu sistem pencatatan yang digunakan dalam perusahaan dagang adalah sistem periodik atau periodic inventory system.
Sistem ini penting untuk dipelajari oleh siswa, mahasiswa, maupun praktisi akuntansi karena sering digunakan oleh bisnis berskala kecil hingga menengah. Pada sistem periodik, persediaan barang dagangan tidak dicatat setiap kali terjadi transaksi, melainkan dihitung pada akhir periode.
Artikel ini akan membahas secara lengkap mulai dari pengertian perusahaan dagang periodik, karakteristiknya, hingga contoh soal perusahaan dagang periodik beserta langkah-langkah penyelesaiannya.
Baca juga : Apa Itu Matematika? Sebuah Petualangan Menuju Dunia Logika dan Pengetahuan
Pengertian Perusahaan Dagang dan Sistem Periodik
Perusahaan dagang adalah perusahaan yang membeli barang dari pemasok (supplier) dan menjualnya kembali kepada konsumen untuk memperoleh laba. Contohnya adalah toko kelontong, minimarket, atau distributor alat tulis.
Sedangkan sistem periodik (periodic system) adalah metode pencatatan persediaan di mana perusahaan tidak mencatat transaksi barang dagangan setiap kali terjadi penjualan atau pembelian. Persediaan baru diketahui setelah dilakukan perhitungan fisik di akhir periode.
Artinya, akun “Persediaan Barang Dagangan” hanya diperbarui pada akhir periode, bukan setiap transaksi. Dalam sistem ini, perusahaan menggunakan akun “Pembelian”, “Retur Pembelian”, “Potongan Pembelian”, dan “Beban Angkut Pembelian” untuk mencatat kegiatan dagangnya.
Ciri-Ciri Sistem Periodik
Beberapa ciri khas sistem periodik yang membedakannya dari sistem perpetual adalah:
- Persediaan dicatat di akhir periode akuntansi.
Tidak ada pembaruan stok secara real-time. - Tidak ada akun “Persediaan Barang Dagangan” yang digunakan dalam transaksi harian.
Persediaan hanya dihitung pada akhir bulan atau akhir tahun. - Digunakan akun sementara.
Seperti akun Pembelian, Retur Pembelian, dan Potongan Pembelian. - Laporan harga pokok penjualan (HPP) dihitung setelah stok fisik diketahui.
Komponen Utama dalam Sistem Periodik
Untuk memahami pencatatan transaksi dalam sistem periodik, berikut beberapa akun penting yang digunakan:
- Pembelian (Purchases)
Digunakan untuk mencatat barang yang dibeli selama periode berjalan. - Retur dan Potongan Pembelian (Purchase Returns and Allowances)
Mencatat barang yang dikembalikan kepada pemasok atau potongan harga yang diterima. - Potongan Pembelian (Purchase Discounts)
Mencatat potongan pembayaran karena melunasi utang sebelum jatuh tempo. - Beban Angkut Pembelian (Freight-In)
Biaya pengiriman barang yang ditanggung oleh pembeli. - Penjualan (Sales) dan Retur Penjualan (Sales Returns)
Mencatat hasil penjualan dan barang yang dikembalikan pelanggan.
Rumus Dasar Harga Pokok Penjualan (HPP) dalam Sistem Periodik
Salah satu hal penting dalam sistem periodik adalah menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP). Rumusnya adalah:HPP=Persediaan Awal+Pembelian Bersih−Persediaan Akhir\text{HPP} = \text{Persediaan Awal} + \text{Pembelian Bersih} – \text{Persediaan Akhir}HPP=Persediaan Awal+Pembelian Bersih−Persediaan Akhir
Keterangan:
- Persediaan Awal: Stok barang pada awal periode.
- Pembelian Bersih: Total pembelian dikurangi retur dan potongan pembelian, ditambah beban angkut pembelian.
- Persediaan Akhir: Nilai barang yang masih ada pada akhir periode.
Contoh Soal Perusahaan Dagang Sistem Periodik
Contoh Soal 1: Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)
PT Sumber Jaya adalah perusahaan dagang yang menggunakan sistem periodik. Data transaksi selama tahun 2024 adalah sebagai berikut:
- Persediaan awal: Rp15.000.000
- Pembelian: Rp85.000.000
- Retur pembelian: Rp5.000.000
- Potongan pembelian: Rp2.000.000
- Beban angkut pembelian: Rp3.000.000
- Persediaan akhir: Rp10.000.000
Pertanyaan:
Hitunglah Harga Pokok Penjualan (HPP) perusahaan tersebut.
Langkah-langkah penyelesaian:
- Hitung pembelian bersih:
Pembelian Bersih=Pembelian−Retur Pembelian−Potongan Pembelian+Beban Angkut Pembelian\text{Pembelian Bersih} = \text{Pembelian} – \text{Retur Pembelian} – \text{Potongan Pembelian} + \text{Beban Angkut Pembelian}Pembelian Bersih=Pembelian−Retur Pembelian−Potongan Pembelian+Beban Angkut Pembelian=85.000.000−5.000.000−2.000.000+3.000.000=81.000.000= 85.000.000 – 5.000.000 – 2.000.000 + 3.000.000 = 81.000.000=85.000.000−5.000.000−2.000.000+3.000.000=81.000.000
- Hitung HPP:
HPP=Persediaan Awal+Pembelian Bersih−Persediaan Akhir\text{HPP} = \text{Persediaan Awal} + \text{Pembelian Bersih} – \text{Persediaan Akhir}HPP=Persediaan Awal+Pembelian Bersih−Persediaan Akhir=15.000.000+81.000.000−10.000.000=86.000.000= 15.000.000 + 81.000.000 – 10.000.000 = 86.000.000=15.000.000+81.000.000−10.000.000=86.000.000
✅ Jadi, Harga Pokok Penjualan (HPP) = Rp86.000.000
Contoh Soal 2: Menentukan Laba Kotor
PT Sumber Jaya menjual barang dagangan sebesar Rp120.000.000 dengan HPP sebesar Rp86.000.000 (hasil dari contoh pertama).
Pertanyaan:
Hitunglah laba kotor perusahaan.
Jawaban:Laba Kotor=Penjualan Bersih−HPP\text{Laba Kotor} = \text{Penjualan Bersih} – \text{HPP}Laba Kotor=Penjualan Bersih−HPP=120.000.000−86.000.000=34.000.000= 120.000.000 – 86.000.000 = 34.000.000=120.000.000−86.000.000=34.000.000
✅ Laba kotor perusahaan adalah Rp34.000.000
Contoh Soal 3: Jurnal Penyesuaian Akhir Periode
Di akhir periode, persediaan akhir barang dagangan diketahui sebesar Rp10.000.000, sedangkan saldo akun persediaan awal adalah Rp15.000.000.
Pertanyaan:
Buatlah jurnal penyesuaian untuk mencatat persediaan akhir.
Jawaban:
Persediaan Barang Dagangan Rp10.000.000
Ikhtisar Laba Rugi Rp10.000.000
(untuk mencatat persediaan akhir)
Ikhtisar Laba Rugi Rp15.000.000
Persediaan Barang Dagangan Rp15.000.000
(untuk menutup persediaan awal)
Kelebihan dan Kekurangan Sistem Periodik
Seperti sistem lainnya, sistem periodik memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.
Kelebihan:
- Lebih sederhana dan murah karena tidak perlu mencatat setiap transaksi barang.
- Cocok untuk usaha kecil dan menengah dengan volume transaksi tidak terlalu banyak.
- Pencatatan lebih cepat karena tidak perlu menghitung stok harian.
Kekurangan:
- Informasi stok tidak akurat secara real-time.
- Risiko kehilangan atau kerusakan barang sulit terdeteksi.
- Perhitungan HPP baru diketahui di akhir periode.
Perbandingan Sistem Periodik dan Perpetual
| Aspek | Sistem Periodik | Sistem Perpetual |
|---|---|---|
| Pencatatan Persediaan | Di akhir periode | Setiap transaksi |
| Akurasi Data | Kurang akurat | Lebih akurat |
| Biaya Sistem | Lebih murah | Lebih mahal |
| Cocok Untuk | Usaha kecil | Usaha besar |
| Penentuan HPP | Akhir periode | Setiap saat |
Baca juga : Mahasiswa Teknokrat Raih Juara 1 dan Best Presentation di Pesta Ilmiah Sriwijaya 2025
Kesimpulan
Sistem periodik merupakan metode pencatatan yang efisien dan sederhana untuk perusahaan dagang dengan skala kecil hingga menengah. Melalui sistem ini, perusahaan dapat mengetahui Harga Pokok Penjualan (HPP) setelah melakukan perhitungan fisik persediaan di akhir periode.
Dengan memahami konsep dasar dan latihan contoh soal perusahaan dagang periodik seperti di atas, siswa maupun mahasiswa akuntansi dapat menguasai langkah-langkah menghitung pembelian bersih, laba kotor, hingga menyusun jurnal penyesuaian.
Pada akhirnya, pemahaman sistem periodik menjadi fondasi penting dalam akuntansi perdagangan yang akan mempermudah dalam memahami sistem perpetual di tingkat lanjutan.
Penulis : adilah az-zahra


Post Comment