Bongkar Trik TPA Numerik: Kumpulan Soal yang Bikin Kamu Lolos Seleksi!

Bagi banyak orang, bagian Tes Potensi Akademik (TPA) yang paling mendebarkan adalah tes numerik. Deretan angka, soal cerita yang rumit, dan perbandingan kuantitatif sering kali menjadi momok yang menakutkan. Banyak yang merasa kemampuan matematika mereka “kurang” dan langsung pesimis. Padahal, TPA numerik sejatinya bukanlah tes matematika murni seperti di sekolah. Ini adalah tes penalaran yang menggunakan angka sebagai alatnya.

TPA numerik dirancang untuk mengukur kemampuan Anda dalam berpikir logis, analitis, dan sistematis dalam menghadapi masalah yang disajikan secara kuantitatif. Kecepatan, ketepatan, dan kemampuan menemukan pola adalah kunci utamanya, bukan kemampuan menghafal rumus kalkulus yang rumit. Kabar baiknya, semua keterampilan ini bisa diasah.

Artikel ini akan membongkar tipe-tipe soal yang paling sering muncul dalam TPA numerik, lengkap dengan strategi pengerjaan dan contoh soal beserta jawabannya. Mari kita ubah kecemasan Anda menjadi kepercayaan diri!

baca juga:Strategi dan Contoh Soal Tes SKD STTD Lengkap dengan

Tipe Soal 1: Aritmetika dan Aljabar Dasar

Ini adalah tipe soal paling fundamental. Soal ini menguji kemampuan dasar hitung-menghitung Anda seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, persentase, pecahan, dan aljabar sederhana. Kunci sukses di sini adalah kecepatan dan akurasi.

🔖 Baca juga:
Kumpulan Contoh Soal Farmasi Fisika Lengkap dengan Pembahasan Mudah Dipahami

Strategi:

  • Hafalkan perkalian dasar dan kuadrat angka (misal, $1^2$ s.d. $20^2$).
  • Pahami konsep persentase dan desimal (misal, 20% = 0,2 = 1/5).
  • Gunakan teknik estimasi (pembulatan) jika soal tidak menuntut jawaban yang presisi.

Contoh Soal 1:

Gaji bulanan Pak Budi adalah Rp 8.000.000. Sebanyak 15% dari gajinya digunakan untuk biaya transportasi, dan 25% dari sisanya digunakan untuk biaya makan. Berapakah sisa gaji Pak Budi sekarang?

Jawaban dan Pembahasan:

  1. Hitung Biaya Transportasi:15% x Rp 8.000.000 = 0,15 x 8.000.000 = Rp 1.200.000
  2. Hitung Sisa Gaji Pertama:Rp 8.000.000 – Rp 1.200.000 = Rp 6.800.000
  3. Hitung Biaya Makan (Penting: 25% dari sisanya):25% x Rp 6.800.000 = 1/4 x 6.800.000 = Rp 1.700.000
  4. Hitung Sisa Gaji Akhir:Rp 6.800.000 – Rp 1.700.000 = Rp 5.100.000

Contoh Soal 2:

Jika 5x+7=22, berapakah nilai dari 10x−1?

Jawaban dan Pembahasan:

Jangan buru-buru mencari 10x−1. Selesaikan dulu persamaan pertama untuk menemukan nilai x.

  1. Cari nilai x:5x+7=225x=22−75x=15x=3
  2. Cari nilai 10x−1:Substitusikan nilai x=3 ke dalam 10x−1.(10⋅3)−1=30−1=29

Tipe Soal 2: Deret Angka dan Huruf

Ini adalah tipe soal yang paling ikonik dari TPA. Anda akan diberi serangkaian angka atau huruf dan diminta untuk menemukan pola logisnya untuk menentukan angka/huruf berikutnya.

Strategi:

  • Lihat selisih antar angka (pola satu tingkat).
  • Jika tidak ketemu, lihat selisih dari selisih (pola dua tingkat).
  • Coba pola lompat (larik), misal suku ke-1 ke-3, suku ke-2 ke-4.
  • Cek pola perkalian, pembagian, kuadrat, atau Fibonacci (penjumlahan dua suku sebelumnya).
  • Untuk huruf, ubah menjadi angka (A=1, B=2, dst.) dan cari pola angkanya.

Contoh Soal 3 (Deret Angka):

Tentukan angka selanjutnya dari deret: 3, 5, 8, 13, 21, …

Jawaban dan Pembahasan:

Ini adalah pola deret Fibonacci, di mana suku berikutnya adalah hasil penjumlahan dua suku sebelumnya.

  • 3 + 5 = 8
  • 5 + 8 = 13
  • 8 + 13 = 21
  • Maka, suku berikutnya adalah: 13 + 21 = 34

Contoh Soal 4 (Deret Lompat/Larik):

Tentukan dua angka selanjutnya dari deret: 10, 30, 12, 32, 14, 34, …, …

Jawaban dan Pembahasan:

Pola ini adalah pola lompat (larik 2).

  • Pola pertama (suku ganjil): 10, 12, 14, … (Pola +2). Suku berikutnya adalah 14 + 2 = 16.
  • Pola kedua (suku genap): 30, 32, 34, … (Pola +2). Suku berikutnya adalah 34 + 2 = 36.
  • Jadi, jawabannya adalah 16, 36.

Contoh Soal 5 (Deret Huruf):

Tentukan huruf selanjutnya dari deret: A, C, F, J, O, …

Jawaban dan Pembahasan:

Ubah huruf menjadi angka:

A=1, C=3, F=6, J=10, O=15

Sekarang cari pola dari deret angka: 1, 3, 6, 10, 15

  • Selisih 1 ke 3 = +2
  • Selisih 3 ke 6 = +3
  • Selisih 6 ke 10 = +4
  • Selisih 10 ke 15 = +5Polanya adalah penjumlahan bertingkat (+2, +3, +4, +5). Maka, selisih berikutnya adalah +6.15 + 6 = 21.Huruf ke-21 dalam alfabet adalah U.

Tipe Soal 3: Perbandingan Kuantitatif (X dan Y)

Tipe soal ini menyajikan dua kuantitas, X dan Y, dalam bentuk informasi atau persamaan. Tugas Anda adalah menentukan hubungan antara keduanya: apakah $X > Y$, $X < Y$, $X = Y$, atau informasi tidak cukup untuk memutuskan.

Strategi:

  • Jangan terjebak menghitung sampai tuntas jika tidak perlu. Fokus pada perbandingan.
  • Hati-hati dengan variabel yang memiliki akar kuadrat (misal, $x^2 = 9$ berarti $x = 3$ atau $x = -3$).
  • Jika ada variabel, coba masukkan angka positif, nol, dan negatif untuk menguji konsistensi hubungan.

Contoh Soal 6:

Diketahui x>0.

X=12,5% dari 320

Y=x2+12x+36​

Jawaban dan Pembahasan:

  1. Hitung Kuantitas X:12,5%=1/8X=1/8×320=40
  2. Hitung Kuantitas Y:Bentuk x2+12x+36 adalah kuadrat sempurna dari (x+6)2.Y=(x+6)2​Y=x+6
  3. Bandingkan X dan Y:X=40Y=x+6Karena x>0, nilai terkecil Y adalah sedikit di atas 6 (misal jika x=1, Y=7; jika x=33, Y=39). Bahkan jika x=34, Y=40. Jika x=35, Y=41.Tunggu, soal ini menjebak. Kita tahu X=40 dan Y=x+6.
    • Jika $x = 34$, maka $Y = 34 + 6 = 40$. Dalam kasus ini, $X = Y$.
    • Jika $x = 10$, maka $Y = 10 + 6 = 16$. Dalam kasus ini, $X > Y$.
    • Jika x=40, maka Y=40+6=46. Dalam kasus ini, X<Y.Karena hubungan antara X dan Y berubah-ubah tergantung nilai x, maka jawabannya adalah Hubungan antara X dan Y tidak dapat ditentukan.

Contoh Soal 7:

X=451​−471​

Y=441​−461​

Jawaban dan Pembahasan:

Jangan dihitung! Gunakan logika pecahan. Semakin besar penyebut, semakin kecil nilai pecahan.

  • $\frac{1}{45} > \frac{1}{47}$
  • 441​>461​Selisih antara dua bilangan yang berdekatan akan semakin kecil nilainya jika angkanya semakin besar.Selisih antara 1/45 dan 1/47 pasti lebih kecil daripada selisih antara 1/44 dan 1/46, karena “jarak” antara pecahan tersebut menyempit seiring membesarnya penyebut.Cara lain:X=45×4747−45​=21152​Y=44×4646−44​=20242​Karena pembilangnya sama (2), pecahan yang penyebutnya lebih kecil akan memiliki nilai yang lebih besar.Penyebut Y (2024) < Penyebut X (2115).Maka, Y > X atau X < Y.

baca juga:Mahasiswa Teknokrat Raih Juara 1 dan Best Presentation di Pesta Ilmiah Sriwijaya 2025

Tipe Soal 4: Soal Cerita (Penalaran Kuantitatif)

Soal ini menguji kemampuan Anda menerjemahkan masalah dalam bentuk narasi (cerita) ke dalam model matematika untuk menemukan solusinya.

Strategi:

  • Baca dengan teliti dan identifikasi apa yang ditanyakan.
  • Ubah nama atau objek menjadi variabel (misal, A untuk Adi, B untuk Budi).
  • Tuliskan informasi dari soal menjadi persamaan matematika.

Contoh Soal 8:

Lima tahun lalu, umur Ayah adalah 3 kali umur Budi. Saat ini, jumlah umur mereka adalah 58 tahun. Berapakah umur Budi 3 tahun yang akan datang?

Jawaban dan Pembahasan:

Misal: A = Umur Ayah (saat ini), B = Umur Budi (saat ini)

  1. Persamaan 1 (Saat ini):A+B=58 => A=58−B
  2. Persamaan 2 (Lima tahun lalu):Umur Ayah 5 tahun lalu = A−5Umur Budi 5 tahun lalu = B−5Persamaannya: (A−5)=3×(B−5)
  3. Substitusi Persamaan 1 ke Persamaan 2:((58−B)−5)=3(B−5)53−B=3B−1553+15=3B+B68=4BB=68/4B=17Umur Budi saat ini adalah 17 tahun.
  4. Jawab Pertanyaan:Yang ditanyakan adalah umur Budi 3 tahun yang akan datang.17+3=20 tahun.

penulis:Elsandria Aurora

Post Comment