Zayanderud atau Zayandehrud (Persia: زایندهرود, har.'Zāyanderūd'code: fa is deprecated ; yang berarti “subur” atau “pemberi kehidupan”)[1] adalah sungai terbesar di Dataran Tinggi Iran di Iran bagian tengah.
Zayandeh dahulu memiliki aliran yang signifikan sepanjang tahun, tidak seperti banyak sungai di Iran yang bersifat musiman. Namun kini sungai ini mengering akibat pengambilan air sebelum mencapai kota Isfahan. Pada awal 2010-an, bagian hilir sungai benar-benar mengering setelah beberapa tahun mengalami kekeringan musiman.[2]
Cekungan Sungai Zayandeh memiliki luas 41.500 kilometer persegi, dengan ketinggian antara 3.974 meter hingga 1.466 meter. Curah hujan rata-ratanya 130 milimeter, dan suhu rata-rata bulanan berkisar antara 3 °C hingga 29 °C. Terdapat 2.700 kilometer persegi lahan irigasi di dalam cekungan sungai ini, dengan air yang berasal dari sembilan unit hidrolik utama Sungai Zayandeh, sumur, qanat, dan mata air di lembah-lembah samping. Air Sungai Zayandeh telah memberi kehidupan bagi masyarakat Iran bagian tengah, terutama di provinsi Isfahan dan Yazd. Sebelum sungai ini mengering, volume air yang dialirkan per orang adalah 240 liter per hari di daerah perkotaan dan 150 liter per hari di desa-desa.[3] Pada tahun 1970-an, aliran sungai diperkirakan mencapai 1,2 kilometer kubik per tahun, atau 38 meter kubik per detik.[4]
Sejarah
Orang-orang telah tinggal di tepi Sungai Zayandeh selama ribuan tahun. Sebuah kebudayaan prasejarah kuno, yang dikenal sebagai Kebudayaan Sungai Zayandeh, berkembang di sepanjang tepi Sungai Zayandeh pada milenium ke-6 SM. Sungai Zayandeh melintasi kota Isfahan, Iran. Pada abad ke-17, Baha al-Din al-Amili, seorang cendekiawan dan penasihat Dinasti Safawiyah, merancang dan membangun sistem kanal (maadi) untuk mendistribusikan air Zayandeh ke pinggiran kota Isfahan. Alur Sungai Zayandeh dibentangi oleh jembatan-jembatan dari era Safawiyah, dan sungai ini dahulu mengalir melalui taman-taman.