Tak lama setelah pengakuan kedaulatan, ia merantau ke Jakarta dan mengikuti ujian masuk Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN). Ia lulus sebagai angkatan pertama. Rekan seangkatannya antara lain Rasjid Manan, Effendi Noor, dan Basri Hasnam.[8]
Sebelum menjadi duta besar, ia pernah ditempatkan di beberapa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), dengan penugasan antara lain sebagai Sekretaris I KBRI Stockholm (1951–1953), Sekretaris I merangkap Kuasa Usaha (ad interim) KBRI Copenhagen (1953–1955), dan Kuasa Usaha (ad interim) KBRI Lebanon (1958–1963).[3]
Wafat
Ia wafat pada 1993 dalam usia 72 tahun dengan meninggalkan seorang istri, Afrizar dan dua orang anak yaitu Chandra Swediar Oesman dan Ratna Swediawati Oesman.[9][3]
Penghargaan
Pada 11 Agustus 1975, ia menerima Piagam Tanda Kehormatan Satyalancana dari Presiden Soeharto sebagai tanda kesetiaan dan ketaatan pada Pemerintah RI pada masa perjuangan kemerdekaan.[10]